Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

07 Mei 2009

Mitos-mitos Perawatan Bayi

Banyak mitos tentang perawatan bayi yang berkembang dan terus dipertahankan di masyarakat. Sebagian salah, tapi ada pula yang secara ilmiah benar.
Perawatan bayi (baby nursing) memang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Menurut spesialis anak Dr. H. Adi Tagor, Sp.A, DPH dari RS Internasional Bintaro, "Zaman dulu, tradisi perawatan bayi ini disampaikan dalam bentuk mitologi, folklor, atau cerita rakyat yang diturunkan oleh orangtua, karena belum ada sistem isyarat kedua seperti tulisan."

Beberapa di antara mitos tersebut memang salah secara ilmiah. Misalnya bayi jangan diajak keluar rumah saat maghrib, karena akan diganggu "penunggu" rumah. Padahal, yang terajdi adalah temperatur alam menjelang matahari terbenam memang meningkat, termasuk perubahan tekanan udara, kelembapan udara, perubahan temperatur. "Ini akan menggelisahkan bayi yang memang belum bisa dengan cepat menyesuaikan diri. Soalnya, organ tubuh bayi itu kan, belum sempurna, tidak seperti orang dewasa yang sudah biasa. Akibatnya, bayi akan mengalami uneasy feeling dan rewel karena adanya perubahan alam tersebut," ujar Adi.

Selain itu, ada yang disebut ritme sirkadian. "Badan manusia mengalami bioritme yang ada hubungannya dengan waktu," jelas Adi. Pada bayi, bioritmenya belum stabil. Karena itu, bioritme bayi yang baru lahir sampai usia 2 bulan kadang-kadang masih terbalik. Siang dianggap malam, sementara malam dianggap siang. "Ini karena bayi belum bisa menyesuaikan diri dengan living environment dimana manusia sibuk saat siang. Tapi, lama-lama ia akan menyesuaikan dengan tuntutan sosial sekaligus perubahan alam tersebut. Secara alamiah, bioritme ini akan berubah dengan sendirinya."

Namun, mitos atau tradisi itu tidak selamanya jelek, dan seringkali bahkan cocok secara ilmiah. Contohnya, selama ratusan tahun bawang yang dicampur minyak dikenal bisa menurunkan panas. "Itu secara ilmiah benar, karena bawang adalah tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap dan menyerap panas."

Atau upacara tedak siti (menginjak tanah) saat bayi berusia 6-7 bulan. "Secara ilmiah pun ternyata tak salah, karena pas dengan usia refleks menapak bayi." Di permukaan badan terdapat putik saraf yang bisa menjadi sensor tekanan. Nah, saraf ini tumbuh saat bayi 6 - 7 bulan, bersamaan dengan tumbuhnya struktur otak untuk keseimbangan dan alat-alat keseimbangan untuk posisi berdiri. "Tak heran jika di usia ini, bayi sudah mulai belajar menapak."

Namun, ada juga mitos yang salah. Dan orangtua, karena turun-temurun, biasanya memegang teguh tradisi itu. "Jadi, kalau mau ngasih input ilmiah, harus pelan-pelan. Jangankan tradisi, ilmu kedokteran pun dari waktu ke waktu selalu dikoreksi," lanjut Adi. "Manusia hidup dalam suatu kerangka subkultur tertentu. Nggak bisa ia hidup di luar kultur tempat ia hidup. Jadi, isinya saja yang diperbaiki."

Yang jelas, sebaiknya jangan langsung dicabut dari akar budayanya. Misalnya, orangtua mengaji saat Maghrib agar anaknya tidak "diganggu" makhluk halus. "Itu kan nggak ada ruginya, jadi biarkan saja. Kecuali, jika tradisi itu memang membahayakan, ya harus dilarang."

Baca Selengkapnya......

Kabayan Sebagai Cerita Rakyat

JAWA Barat kaya akan tradisi kerakyatan, termasuk cerita rakyat. Meskipun tradisi istana pernah hidup di Jawa Barat,
karena mengalami zaman dua kerajaan besar, yakni Galuh di daerah Ciamis dan Pajajaran di daerah Bogor, sedikit sekali
ditemukan artefak-artefak budaya istana. Kerajaan-kerajaan Hinduistik di Jawa Barat lenyap bersama pendukungnya,
yakni masyarakat istana. Kerajaan-kerajaan Islam yang kemudian muncul di Jawa Barat tidak melanjutkan tradisi
istana-istana sebelumnya. Kerajaan-kerajaan Islam itu adalah Banten dan Cirebon.

Banten dan Cirebon cenderung kejawa-jawaan akibat hubungan mereka dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam
di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akan tetapi, apabila ditilik lebih dalam, masih akan tampak ciri-ciri kesundaan di kedua
kerajaan Islam tersebut. Bagaimanapun kerajaan-kerajaan Islam tersebut masih berada di masyarakat Sunda sehingga
tradisi lokal mendasari kebudayaan di kedua kerajaan tadi.

Tradisi kerakyatan masih terus hidup di bawah arus budaya-budaya istana yang silih berganti. Ini disebabkan sistem
kerajaan-kerajaan di Jawa Barat berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan
Jawa berdasarkan masyarakat sawah, sedangkan kerajaan-kerajaan Sunda berdasarkan masyarakat huma. Kebudayaan
istana di Jawa Barat hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat nagara. Di Jawa Barat tidak d**enal adanya
negaragung dan mancanegara seperti di Jawa.

Masyarakat istana adalah masyarakat Sunda di negara itu, yakni istana dan wilayah yang benar-benar dikuasainya secara
langsung. Hal ini bisa disimak dalam Babad Pakuan abad ke-18 yang ditulis dalam bentuk wawacan berbahasa Jawa.
Saya telah menulis perkara ini dalam Hermeneutika Sunda. Di luar wilayah, nagara merupakan kesatuan-kesatuan
kampung Sunda yang berpindah-pindah akibat hidup dari ladang padi (huma).

Sudah barang tentu pengaruh istana sampai juga di wilayah-wilayah kampung Sunda. Seperti kita saksikan bahwa
teks-teks tertulis Sunda lama masih disimpan oleh penduduk perkampungan di Jawa Barat.

Selain itu carita-carita pantun yang berisi mitos-mitos istana Sunda masih tersebar di kalangan rakyat perdesaan. Hanya
artefak-artefak istana sudah sulit ditemukan di kalangan rakyat, misalnya batik istana Sunda, seni ukir istana Sunda,
buku-buku Hindu-Buddha, tata adat istana Sunda, dan seni gamelan, karena masyarakat istana-istana Sunda itu memang
tidak berlanjut sebagai lembaga sosial.

Pemandangan semacam itu masih terlihat pula ketika di Jawa Barat berdiri kerajaan-kerajaan Islam di Banten dan
Cirebon. Kedua kerajaan itu juga terdiri dari wilayah negara atau negaragung saja. Wilayah mancanegara tidak d**enal.
Apalagi bahasa di wilayah negara dan negaragung berbeda dengan bahasa masyarakat perdesaan Sunda.

Dengan demikian, semakin kuatlah kesan kita bahwa kebudayaan Sunda yang berkontinuitas itu hanya ada di kalangan
masyarakat kampung. Berbeda dengan masyarakat Sunda di zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, yang hubungan
antara istana dan rakyat amat tipis, maka di zaman penyebaran agama Islam di Jawa Barat, agen-agen perubahan ke
arah Islam benar-benar keluar masuk kampung-kampung Sunda. Hal ini tercermin dalam mitos-mitos rakyat terhadap
penyebar Islam seperti Kian Santang.

Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat pedesaan Sunda, kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindunya
amat tipis, bahkan tidak mengenal zaman seperti itu. Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah sejak awalnya ada di
Sunda. Sunda itu Islam.

Inilah sebabnya cerita-cerita rakyat Sunda amat kuat kesan keislamannya. Meskipun dalam cerita-cerita rakyat d**enal
nama-nama dewa dan batara yang kehindu-hinduan, namun tidak dalam pemahaman bahwa itu berdasarkan agama
Hindu-Buddha, tetapi Sunda semata-mata, Kebudayaan Hindu-Buddha-Sunda itu hanya d**enal di kalangan intelektual
moderennya. Di kalangan rakyat, zaman Hindu itu adalah Sunda.

Lenyapnya ingatan kolektif terhadap kebudayaan Hindu-Sunda, lebih mirip dengan yang terjadi di Sumatra. Di zaman
kejawaan Hindu-Buddha di Sumatra d**enal kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Jambi, Melayu, dan Tulang
Bawang. Akan tetapi, begitu kerajaan-kerajaan maritim itu lenyap, maka lenyap pulalah masyarakat pendukungnya dalam
arti lembaga. Manusia-manusia Buddha-Sumatra tentu saja masih terus ada, tetapi kemudian bercampur lebur dalam
masyarakat luar istana. Ini disebabkan kerajaan-kerajaan maritim yang besar itu tidak memerlukan ladang atau sawah
untuk mendukung keberadaannya. Mereka hanya butuh pelabuhan dan tentara sewaan (pegawai tentara) yang mampu
menjaga kedaulatan negara kota maritimnya.

Sedangkan hubungan mereka dengan rakyat kampung hanya terbatas pada jual-beli atau pajak berupa hasil kebun
rempah-rempah dan produk hutan yang lain.

Seperti di Sunda, Islam juga tertanam kuat di kalangan rakyat Sumatra. Kenangan mereka terhadap kejayaan Jambi dan
Sriwijaya tidak ada, kecuali di lingkungan golongan terpelajarnya yang mengenal penggalian sejarah sarjana-sarjana
kolonial. Dewa-dewa juga d**enal di kalangan rakyat Sumatra, namun tetap harus dibaca sebagai hal yang bersifat Melayu
dan bukan Hindu-Buddha.

Keadaan yang berbeda terjadi di kalangan rakyat Jawa. Di lingkungan rakyat, dan lebih lebih istana, amat kuat kenangan
kolektif mereka atas budaya Hindu-Buddha sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai agomo Buddho (agama Buddha).
Hal ini disebabkan sistem kerajaan sawah mereka yang konsentris sejak awal. Hal ini pun dipermudah karena
masyarakat sawah itu menetap. Kontinuitas budaya rakyat dan istana terus berlangsung, bahkan di kalangan rakyat
cenderung berbudaya istana.

Tradisi budaya istana di Jawa Barat amat tipis di kalangan rakyat. Sebaliknya tradisi budaya rakyat perladangan amat kuat.
Tradisi ini diwariskan secara lisan. Tradisi budaya lisan selalu auditif. Karena sifatnya auditif maka budaya ini hanya
berkembang di kelompok komunitas terbatas. Dengan demikian sifat auditif mengembangkan relasi kekeluargaan
(gemeinschaft), harmoni, partisipasi, menekankan kekonkretan dalam bentuknya yang sederhana. Komunikasi lisan
semacam itu cenderung menyampaikan pesan-pesan komunal melalui bentuk cerita-cerita.

Cerita-cerita rakyat di Jawa Barat amat kaya, isinya tentang mitos, siluman, legenda, kehidupan rakyat sehari-hari, dan
dongeng binatang. Usaha mengumpulkan jenis-jenis cerita rakyat tersebut masih sedikit dilakukan, apalagi peneelaahan
serius atas cerita-cerita tersebut. Mitos dan legenda lokal tentu bersifat Sunda. Akan tetapi, cerita binatang sering berasal
dari luar. Sedangkan cerita kehidupan rakyat sehari-hari banyak bersifat lokal, namun juga sering diadaptasi dari luar,
seperti dalam cerita-cerita Si Kabayan.

Yang menarik adalah cerita-cerita binatang yang khas Sunda, yakni Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet. Cerita
binatang ini sering mengambil cerita-cerita luar, namun digarap dalam alam pikir masyarakat Sunda. Yang terkenal
adalah cerita kedua binatang tersebut, kura-kura dan kera yang mirip dengan cerita-cerita kancil di Jawa, dalam tema
mencuri hasil kebun pak tani. Dalam usaha mereka mencuri tanaman, kura-kura berhasil ditangkap pak tani.

Ketika kura-kura dikurung pak tani, monyet datang dan diberi tahu kura-kura bahwa dirinya dikurung agar tak lari untuk
dikawinkan dengan putri pak tani yang cantik. Monyet bersedia bertukar tempat untuk menggantikan kura-kura di dalam
kurungan. Pagi hari pak tani menjumpai kura-kura telah berganti monyet dan bermaksud untuk memotongnya. Mengetahui
hal ini monyet pura-pura mati, dan pak tani membuang "mayat" monyet itu di sungai. Dengan begitu, monyet dan kura-kura
pun bebas kembali.

Dalam cerita yang sama, monyet itu tidak bebas. Akan tetapi, berhasil dipotong pak tani dan disate. Dalam cerita Sunda
justru kedua binatang itu selamat semua akibat kecerdikan keduanya. Kura-kura dan monyet dalam cerita rakyat Sunda
merupakan pasangan antagonis. Keduanya selalu berselisih adu kecerdasan, namun selalu saling bertemu kembali.
Kura-kura di pihak protagonis dan monyet pihak antagonis. Kura-kura simbol binatang air, monyet binatang gunung dan
hutan. Apakah ini simbol budaya sawah Sunda melawan budaya ladang Sunda?

Cerita binatang Kuya Jeung Monyet (kura-kura dan monyet) disatukan dalam bentuk paradoks dalam tokoh Si Kabayan.
Tokoh ini kesatuan watak kura-kura dan monyet, kecerdasan dan kebodohan. Cerdas bagai kuya dan bodoh bagai
monyet. Si Kabayan bisa jadi simbol Sunda-air dan Sunda-gunung sekaligus serta menjadi jati diri Sunda secara budaya.
Si Kabayan adalah tokoh bodoh-pintar. Terkadang begitu bodohnya dan di lain saat begitu cerdasnya.

Nanti kalau kita perhatikan, Kabayan sebagai tokoh bodoh selalu berhubungan dengan nilai-nilai rohaniah, sedangkan
sebagai tokoh pintar selalu berhubungan dengan manusia lain. Kebodohan Kabayan adalah juga kebodohan kita secara
rohani. Di hadapan nilai-nilai rohaniah-ketuhanan dan illahiah, Kabayan digambarkan begitu bodohnya sehingga tidak
mampu membedakan antara bayangan dan kenyataan.

Cerita-cerita Si Kabayan bodoh tidak begitu banyak. Kebodohan Kabayan dalam cerita-cerita semacam itu sering
keterlaluan. Misalnya Kabayan tak bisa membedakan antara mayat dan manusia hidup, antara bayangan langit dan
permukaan tanah di sawah.

Kebodohan Kabayan yang demikian itu ternyata simbolik rohani. Kita ini bodoh spiritual. Dalam hal ini, Si Kabayan bukan
hanya jati diri Sunda, tetapi jati diri manusia itu sendiri.

Kesundaan Si Kabayan ada pada latar lokalitasnya. Bahwa dalam masyarakat Sunda cara hidup sehari-harinya semacam
itu, seperti pergi ke sawah, ke huma, ke hutan, pasang perangkap hewan, kenduri, haji, salat, pohon tertentu, mandi di kali,
dan lain-lain. Akan tetapi dalam alam pikiran dan sikap spiritual benar-benar untuk semua manusia, hanya kadang
terselip kosmologi Sunda lama. Sebagai cerita rakyat, Si Kabayan memang menggambarkan manusia di tanah Sunda.
Tema dan pesan tetap universal.

Sebagai cerita rakyat Sunda Si Kabayan sejajar dengan Abu Nawas dan Koja Nasrudin. Orang sering menyejajarkan Si
Kabayan dengan tokoh pintar-bodoh di suku-suku lain. Akan tetapi tokoh-tokoh cerita rakyat suku-suku lain itu tidak sekaya
Si Kabayan. Cerita-cerita mereka kadang hanya diwakili satu cerita.

Cerita Si Pandir di Melayu, misalnya, meliputi beberapa cerita saja. Begitu pula Si Luncai dan Pak Senik, hanya ada satu
dua ceritanya. Sedangkan Si Kabayan, kalau dikumpulkan bisa mencapai seratus cerita lebih. Coster-Wijaman bisa
mengumpulkan 80 cerita di daerah Banten saja.

Sebagai cerita rakyat milik masyarakat Sunda, Si Kabayan memang istimewa, setara dengan pantun-pantun Sunda.
Cerita-cerita itu amat dalam kalau ditafsirkan secara budaya. Cerita-cerita itu sama sekali bukan dongeng-dongeng
seperti diperkirakan orang, namun tidak semua berkualitas demikian, sebab banyak para peniru Si Kabayan yang hanya
melihat permukaan ceritanya.

Cerita-cerita yang demikian itu tidak serta merta membangkitkan adanya struktur-struktur berpikir simbolik. Sehingga
banyak juga cerita-cerita Si Kabayan baru yang hanya tertarik pada segi humornya, namun tidak dilandasi oleh cara
berpikir budayanya.

Mengapa istimewa?

Si Kabayan itu tokoh paradoks yang membangun cerita-cerita paradoks pula. Tokoh demikian itu jelas muncul dari
pemikiran mendalam seorang (atau beberapa orang) intelektual. Bobot sastrawinya amat tinggi. Meskipun diceritakan
secara lisan sehingga banyak ditambah dan dikurangi sesuai dengan perubahan masyarakatnya, inti pesannya masih
amat jelas. Bahkan kita dapat merekonstruksi bentuk aslinya.

Permata itu tetap permata, meskipun berada di mulut kerbau. Dengan mudah kita dapat memilih mana Si Kabayan yang
autentik dan mana Si Kabayan artifisial. Untuk menulis cerita Si Kabayan yang baru diperlukan dasar pengetahuan filsafat,
bukan sekadar menulis cerita.

Cerita Si Kabayan itu memiliki dasar pandangan mistisisme dan laku mistis itu memang penuh paradoks. ***


Sumber: Khazanah, Pikiran Rakyat, Sabtu, 5 Januari 2008






Baca Selengkapnya......

Islam dan Sunda Dalam Mitos

PANDANGAN manusia Sunda masa kini terhadap hubungan antara agamanya
(Islam) dan kebudayaannya (Sunda) tentulah berdasarkan pandangan dan
pengetahuan yang sudah modern. Bagaimana hubungan itu seharusnya,
tentulah menjadi bahan wacana yang aneka ragam. Tetapi orang sering
melupakan bagaimana gagasan manusia Sunda itu dalam praksisnya.
Bagaimana masyarakat Sunda pra-modern memandang dirinya dalam hubungan
antara Islam dan Sunda. Gagasan semacam itu bertebaran dalam bentuk
wawacan yang oleh Viviane Sukanda-Tessier dan Hasan M. Ambary telah
dihimpun ringkasan isinya setebal lebih dari 2000 (dua ribu) halaman.

Untuk memahami hubungan antara Islam dan Sunda, ratusan wawacan itu
dapat menjadi sumber utamanya. Kalau pikiran kolektif masyarakat Sunda
di zaman Pajajaran dapat disimak dari carita pantun, pikiran kolektif
masyarakat Sunda setelah memeluk agama Islam dapat disimak dari
wawacannya. Wawacan-wawacan inilah yang ikut membentuk pikiran
kolektif masyarakat Sunda sejak abad ke 17.

"Pantun dan wawacan itu bukankah dongengan saja Pak?" Memang kita
sekarang menampakkannya sebagai dongeng-dongeng belaka, tetapi di
zamannya (bahkan mungkin masa kini di perdesaan Sunda) masih merupakan
mitos. Setiap masyarakat memiliki sejumlah mitos untuk mempersatukan
dirinya dalam sebuah bangunan alam pikiran yang sama.
Mitologi-mitologi Islami Sunda dalam bentuk ratusan wawacan ini
berperan sangat penting dalam menyatukan kesadaran sosial masyarakat
Sunda pada zamannya. Dan kesadaran inilah yang memimpin sikap mereka
dalam mengarungi hidup ini.

**

MASYARAKAT Sunda zaman wawacan itu memandang dirinya dalam hubungannya
dengan agama Islam, dapat dilihat dari hanya dua wawacannya saja,
yakni Wawacan Guru Gantangan dan Wawacan Kean Santang. Masih tersedia
puluhan wawacan lain yang dapat memperkuat thesis yang akan diajukan
di sini. Dalam sebuah diskusi tentang kesundaan, seorang mahasiswa
menolak keras diperhitungkannya nama Kean Santang dalam membaca budaya
Sunda di masa lampau. Kean Santang itu tidak dapat dibuktikan
keberadaannya dalam sejarah Sunda. Jawaban saya, mana yang lebih
penting, kesadaran kolektif masyarakat Sunda atas "adanya" Kean
Santang, atau bukti sejarah keberadaannya? Kalau benar ada secara
faktual, tetapi tidak ada secara kesadaran, mana yang lebih penting
dalam ilmu budaya? Realitas kesadaran bahwa Kean Santang itu
benar-benar ada dalam alam pikiran masyarakat Sunda di zaman itu, atau
jauh lebih penting dari realitas faktual yang memang "tidak ada"?

Perlu saya tambahkan di sini, bahwa wawacan bukan untuk dibaca secara
personal seperti kita sekarang membaca roman Siti Nurbaya. Wawacan itu
untuk dibacakan di depan sejumlah hadirin dengan melagukannya. Inilah
second literary. Genesisnya dari dua komunitas, yakni lingkungan
pesantren Sunda dan lingkungan kaum menak. Inilah sebabnya wawacan
berhuruf Pegon (pesantren) dan berhuruf cacarakan Jawa (menak).
Wawacan berisi ajaran Islam dan mitos-mitos Islami diduga berasal dari
komunitas santri, sedangkan wawacan berisi mitos-mitos Sunda, Jawa,
dan Islam, berasal dari komunitas menak. Dua jenis wawacan ini
diwarisi oleh rakyat Sunda. Dengan demikian, jelaslah bahwa wawacan
Sunda menggambarkan alam kesadaran seluruh masyarakat Sunda.

Seperti halnya masyarakat Melayu, masyarakat Sunda memandang Sunda dan
Islam itu identik. Sunda itu Islam, Islam itu Sunda. Sebuah ungkapan
yang amat membingungkan dalam pola berpikir modern kita. Tetapi
ungkapan ini berasal dari tradisi berpikir masyarakat Sunda
pra-modern. Dalam masyarakat Minang identitas Islam ini dirumuskan
dalam ungkapan: adat bersendi sarak (syariat), sarak bersendi Kitab
Allah. Ungkapan Minang ini kemudian dipakai cendekiawan Sunda modern
untuk mengoreksi ungkapan aslinya yang membingungkan itu, yakni Islam
dahulu sebelum Sunda.

**

MENGAPA muncul ungkapan "Islam itu Sunda?" Nenek Moyang Sunda bukan
orang bodoh yang tak tahu membedakan antara agama Islam yang dijunjung
tinggi dengan adat istiadat leluhurnya. Ungkapan "Islam itu Sunda"
sama sekali tidak bermaksud mereduksi Islam menjadi budaya. Ungkapan
ini mirip dengan "Siliwangi itu Jawa Barat, Jawa Barat itu Siliwangi".
Sunda dan Siliwangi itu identik.

Identitas Sunda sebagai Islam itu mengacu kepad Trias Politika Sunda.
Di masyarakat Baduy, terdapat kesatuan tiga kampung besar yang
masing-masing mempunyai peranannya sendiri. Kampung yang amat
dihormati adalah Cikeusik, karena kampung ini bersifat resik yakni
penentu adat seluruh kesatuan kampung. Meskipun ia dihormati, tetapi
tidak menjalankan kekuasaan kampung. Kekuasaan eksekutif diserahkan
kepada kampung di tengah, yakni Cikertawana. Sedang kampung paling
luar, Cibeo, bertanggung jawab atas keamanan tiga kampung besar dan
bertugas menjalin komunikasi dengan pihak luar kampung. Jadi, Cikeusik
sebagai resi, Cikertawana sebagai ratu dan Cibeo sebagai rama.

Dalam zaman Pajajaran, Pakuan menggantikan kedudukan Cikeusik, jadi
raja Pajajaran itu raja-pendeta. Kekuasaan eksekutif Pajajaran di Jawa
Barat tersebar di negara-negara "tengah", misalnya Sumedang,
Tasikmalaya, Majalengka, dst. Sedangkan Cibeonya Pajajaran adalah
kota-kota pesisir seperti Indramayu, Karawang, Tangerang, dst. Inilah
muncul ungkapan Sunda bahwa Sunda itu Pajajaran dan Pajajaran itu
Sunda, atau yang lebih mutakhir, Siliwangi itu Sunda dan Sunda itu
Siliwangi.

Bagaimana ketika Sunda memeluk Islam? Tetap trias politika. Triloginya
adalah santri (Islam), Menak, dan Rakyat mengikuti ungkapan resi,
ratu, rama. Resinya menjadi ulama, ratunya menjadi kaum menak, dan
rama menjadi rakyat Sunda umumnya. Dibaca secara demikian maka pola
pikir masyarakat Sunda mengenai hubungan antara sistem kepercayaannya
dengan sosio-budayanya masih tetap Trias Politika Sunda. Cikeusik,
Pakuan-Pajajaran, dan Islam adalah otoritas rohaniah yang amat
dihormati dan dipatuhi. Inilah yang menyatukan alam pikir seluruh
komunitas Sunda. Sunda itu ya Cikeusik itu, Pakuan - Pajajaran itu,
Islam itu sendiri.

Oleh karena itu masyarakat Sunda mentakan bahwa "Islam itu Sunda".
Ungkapan ini jangan dibaca secara modern, tetapi secara tradisi
berpikir masyarakat Sunda sendiri, yang artinya Islam adalah pengganti
identitas Sunda yang sebelumnya dipegang oleh Pajajaran. Karena
kerajaan Pajajaran tidak berkelanjutan dengan berdirinya kerajaan
Islam-Sunda (kecuali kerajaan Banten dan Cirebon disebut sebagai
Sunda), maka otoritas rohani Sunda diserahkan kepada kaum ulama Sunda
di pesantren-pesantren.

Jadi, resi-ratu-rama menjadi Islam-menak-rakyat. Seperti dahulu
Pajajaran itu sunda, maka sekarang Islam itu Sunda. Dengan demikian,
ungkapan "Islam itu Sunda" harus dibaca secara sosio-historis Sunda,
dan jangan dibaca secara teologis.

Permasalahannya sekarang, mengapa identitas Sunda adalah Islam? Inilah
alam pikiran Sunda pra-modern, suatu realitas kesadaran yang
ditanamkan lewat berbagai mitos-mitos Islami Sunda dalam wawacan.
Dalam wawacan Guru Gantangan (abad 18?), masyarakat Sunda percaya
bahwa Pulau Jawa ini pada mulanya kosong. Maka raja Mesir, Sri Putih,
membawa seribu orang Mesir dan seribu orang Selon bermukim di Pulau
Jawa (Sunda), Penyebutan orang Mesir dalam abad 17 atau 18 dapat
dipahami sebagai kekuasaan kesultanan Turki di Mesir yang jelas Islam.
Dengan demikian, masyarakat Sunda dalam abad-abad itu percaya bahwa
orang Sunda itu setengah Mesir (Arab, Turki, Islam) dan setengah Selon
(India). Mitos ini meneguhkan bahwa Sunda itu sejak mulanya memang
sudah Islam.

Mitologi kedua berasal dari wawacan Kean Santang. Kean Santang adalah
putra Siliwangi yang tak terkalahkan oleh siapa pun, sehingga ia
mencari lawan yang dapat melukainya dan dengan demikian ia akan dapat
melihat darahnya sendiri. Petunjuk mengatakan bahwa ia harus bertapa
di Ujung Kulon. Dalam pertapaannya ia mendengar suara agar pergi ke
arah barat. Perjalanan ke barat sampai di Arab. Di sana ia bertemu
seorang kakek yang kemudian dikenal sebagai Baginda Ali. Kakek ini
bersedia mempertemukan Kean Santang dengan siapa yang dicari Kean
Santang selama ini.

Dalam perjalanan, Baginda Ali menyuruh Kean Santang mengambilkan
tongkatnya yang ketinggalan. Kean Santang pergi mengambilnya, tetapi
tongkat yang tertanam di pasir itu tak bisa ditariknya, meskipun telah
mengeluarkan segenap tenaganya. Baginda Ali datang menyusul, dan
dengan amat gampang menarik tongkat itu. Kean Santang sadar, bahwa
Baginda Ali yang hanya pengikut Nabi Muhammad SAW begitu perkasanya,
apalagi beliaunya sendiri. Kean Santang bertobat dan masuk Islam. Kean
Santang mendapat ajaran Islam dari nabi sendiri, dan ikut mendirikan
sebuah tiang dalam membangun masjid di Mekkah.

Kean Santang sebenarnya ingin tetap tinggal dekat nabi, namun ia
diberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di Sunda. Sesampainya di
tanah airnya, ia membujuk ayahandanya Prabu Siliwangi agar bersedia
masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi memilih moksha bersama keluarga dan
pembesar-pembesarnya. Pajajaran lenyap. Tetapi Kean Santang tidak mau
menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja. Ia menyebarkan agama
Islam ke seluruh rakyat Sunda.

**

SEKALI lagi mitos ini menunjukkan keyakinan masyarakat Sunda bahwa
Islam di Sunda itu berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW yakni Islam
yang semurni-murninya Islam. Dan Kean Santang adalah murid dan
sekaligus utusan Nabi Muhammad SAW. Tidak mengherankan apabila rakyat
hilang kenangannya terhadap kebudayaan Hindu-Budha-Sunda yang pernah
berjaya sekitar seribu tahun. Nama Siliwangi itu sendiri barangkali
dalam kesadaran rakyat hanya dikenal sebagai "bukan Islam", namun
bukan raja Hindu-Budha.



Baca Selengkapnya......

Mitos Jawa Sunda

Perempuan Jawa Dilarang Menikah dengan Lelaki Sunda

Ahai! Mungkin di antara kamu ada perempuan (keturunan) Jawa yang pernah mendengar larangan ini. Sedangkan untuk para lelaki (keturunan Sunda), aku nggak yakin banyak yang pernah mendengarnya.

Hal ini pernah diangkat ke dalam cerpen (lupa judulnya) oleh teh Lina Liana (Bandung) dalam kumcernya "Jodoh Untuk Adel". Konon katanya (atau kata kang Opik? Hehe, aku lupa...), hal ini disebabkan peristiwa yang terjadi pada zaman kerajaan dahulu kala. Aku nggak inget cerita persisnya. Kurang lebih, saat ada perjanjian perkawinan antara kerajaan Sunda & Jawa (entah tepatnya kerajaan apa) yang hendak menikahkan antara Dyah Pitaloka dengan calonnya (lupa euy...!) dengan maksud mempersatukan dua wilayah kerajaan tersebut. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, pada hari yang telah ditentukan, kerajaan Jawa menanti kedatangan calon pengantin di sebuah lapang (atau bukit? atau dataran tinggi? teuing lah.). Setelah lama menanti, bukannya rombongan calon pengantin yang datang, melainkan serangan dari kerajaan Sunda yang menyebabkan kekalahan dari kerajaan Jawa. Rupanya kerajaan Sunda menjebak, perjanjian perkawinan itu hanya siasat. Kerajaan Jawa yang merasa ditipu, sakit hati, lalu mengeluarkan larangan tersebut.

Masuk akal bukan? Tetapi kemudian menjadi sangat tidak berhubungan (antara sejarah dengan alasan pelarangan tersebut yang beredar pada masa kini). Perempuan Jawa dilarang menikah dengan lelaki Sunda karena : Jawa itu lebih tua, sedangkan Sunda itu lebih muda. Jadi, jika perempuan Jawa menikahi lelaki Sunda, itu namanya menikahi adik.

Nah lho?? Kok lucu? Kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan lain di benakku. Kenapa larangan ini hanya mengait Jawa dan Sunda? Kenapa tidak membahas suku-suku bangsa yang lain? Eskimo misalnya? Halaggh, kejauhan atuh, Nai!

Pasca Lebaran, entah berapa tahun yang lalu. Salah seorang tanteku menyampaikan pesan ini, bahwa aku tidak boleh menikah -bahkan sekadar pacaran- (dow!! siapa juga yang pengen pacaran di luar nikah?!) dengan lelaki Sunda. Lengkap dengan alasan yang telah kusebutkan di atas. Katanya, "Ora ilok!"

Otakku muter, "Kenapa sih harus perempuan yang dilarang? Nah, mas Didit tuh nikah sama orang Sunda, kok dia nggak komentar? O iya, mas Didit kan cowok Terus, kenapa harus laki-laki Sunda? Gimana kalau aku nikah dengan orang Batak? Atau Padang? Orang Kalimantan? Orang Bali? Sulawesi? Irian deh?! Kenapa sih dengan Sunda?"

Aku cuma bisa nyengir asem sambil nahan tawaku, "Yaa, gimana Allah ngasihnya aja. Yang penting sholeh." Kemudian tanteku mengulang pesannya dengan penekanan khusus. Dalam hati aku bersyukur, "Untuuung dia cuma tanteku, bukan orangtuaku. Untuuung orangtuaku gak "kentel" Jowone." Aku mengangguk-angguk sambil senyum palsu biar tanteku berhenti bicara .

Kemudian (kira-kira) setahun berlalu. Saat itu, aku masih meyakini sejarah pelarangan ini "versi orang Sunda" (karena menurutku, cerita di atas lebih berpihak kepada orang Sunda -kang Opik tea nggak mau ngalah-), soal pernikahan Dyah Pitaloka. Trans TV (entah program apa, semacam jejak petualang gitu lah) membahas Sumedang dan sejarah kerajaannya.

Insun medal, insun madangan; merupakan jargon terkenal dari Pangeran Kornel (nama aslinya siapa ya? Prabu...apa lah. Selain nama julukannya, nama aslinya juga diabadikan menjadi nama jalan di Sumedang. Pangeran Kornel itu julukan yang diberikan oleh Belanda). Jargon inilah yang menjadi cikal bakal nama Sumedang. Artinya, aku lahir, aku menerangi. Pangeran Kornel inilah yang memimpin kerajaan Sumedang. OOT nih! Aku bingung, jargon ini kental banget bahasa Jawanya. Jawa Pesisir! Kok termasuk keturunan Pasundan ya?

Lanjut! Kerajaan Sumedang ini adalah kerajaan paling muda seantero nusantara. Sementara kerajaan tetangganya, Kesultanan Cirebon yang termasuk ke dalam wilayah Jawa, adalah kerajaan yang paling tua, paling awal berdiri. Si "Anak Muda" ini karena baru berdiri, lagi semangat-semangatnya. Sangat bergairah. Sehingga berhasil menaklukkan kerajaan Cirebon dan merebut wilayahnya. Hal ini menjawab pertanyaan kenapa Cirebon (dan Indramayu) mempunyai kultur Jawa (bangettt!), padahal wilayahnya terletak di Jawa Barat. Dari bahasa, budaya, kepercayaan, teu nyunda pisan!

Makanya suka pada bingung kan kalau aku (yang orang Indramayu) mengaku sebagai orang Jawa? Kebetulan bapakku memang orang Jawa (kakak iparku bilang, bapak mah udah jadi orang Indramayu, kentel banget!). Tapi, meskipun bapakku orang Indramayu, aku tetap akan mengaku sebagai orang Jawa. Karena kami memang tidak dialiri darah Sunda sama sekali.

Nah, dari peristiwa penaklukan wilayah itulah lahir anggapan bahwa Jawa itu lebih tua dan Sunda itu lebih muda. Terkait dengan kesultanan Cirebon yang lebih tua dan kerajaan Sumedang yang lebih muda. Jadi, konsep "Ora ilok" itu nyambung.

Kenapa perempuan yang dilarang dan bukannya laki-laki? Karena posisi perempuan dalam rumah tangga lazimnya (menurut masyarakat awam) untuk dipimpin. Yang memimpin itu sepantasnya (lagi-lagi menurut logika awam) yang lebih tua, karena memiliki lebih banyak pengalaman, sehingga (diharapkan) bisa mengambil keputusan yang sebijak-bijaknya. Maka, tak ada larangan laki-laki Jawa menikahi perempuan Sunda.

Lucu ya? Kalau saja si lelaki Jawa lebih muda usianya daripada perempuan sunda yang hendak dinikahinya, tetap tidak akan dilarang. Kan Jawa lebih tua. Hehehe ......!








Baca Selengkapnya......

06 Mei 2009

Fatahillah: Tokoh Sejarah atau Tokoh Mitos?

Nama Fatahillah agaknya sudah terlanjur melegenda. Nama ini banyak dipakai sebagai nama diri, nama bangunan, dan nama lembaga pendidikan. Tidak hanya di Jakarta, penggunaan nama Fatahillah juga populer di Banten dan Cirebon.

Demikian pula nama yang dianggap aliasnya, yakni Faletehan. Selain nama diri, nama Faletehan banyak digunakan sebagai nama jalan, nama lembaga pendidikan, bahkan nama perusahaan.

Siapakah tokoh Fatahillah itu sehingga banyak diabadikan orang di Jakarta, Banten, dan Cirebon? Meskipun sebagian pakar menganggapnya sebagai tokoh mitos atau legenda, sebagian lagi pakar justru memandangnya sebagai tokoh sejarah. Hingga kini Fatahillah masih dianggap sebagai tokoh pendiri kota Jakarta.

Uniknya, menurut penelusuran sejarawan Edi S. Ekadjati (1989), nama Fatahillah sama sekali tidak didapatkan dalam babad atau sumber tradisi. Nama tersebut justru terdapat dalam jenis sumber modern, yakni buku Geschiedenis van Java (Sejarah Jawa, pen.) karya Ny. Fruin-Mees (1920).

Orang pertama yang menampilkan Fatahillah sebagai nama tokoh sejarah adalah Dr. B. Schrieke. Dia mengaitkan tokoh tersebut dengan sejarah kota Jakarta pada masa awal Islamisasi. Dasar penafsiran Schrieke adalah catatan orang Portugis (1546) tentang Raja Sunda yang bernama Tagaril. Menurutnya, Tagaril merupakan salah tulis dari kata Fagaril. Kata Fagaril sendiri merupakan perubahan dari kata aslinya, yaitu Fatahillah (= kemenangan Allah).

Pendapat Schrieke itu kemudian dibantah oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat. Dia lebih condong menganggap kata Tagaril tak ubahnya Fachrillah, bentuk sampingan dari Fachrullah (= kemashuran Allah). Karena Fachrillah dapat disingkat menjadi Fachril—mungkin orang Portugis salah dengar atau salah tulis—maka muncullah nama Tagaril.

Sedangkan Sajarah Banten menyimpulkan bahwa tokoh Tagaril itu identik dengan tokoh Faletehan atau Falatehan sebagaimana yang disebut Berita Portugis lain (1527). Bahkan tokoh itu dianggap identik pula dengan Sunan Gunung Jati yang disebut dalam babad.


Kitab kuno

Adapun kata Faletehan atau Falatehan, menurut Djajadiningrat, mungkin salah dengar atau salah tulis dari kata Fathan, lengkapnya fathan mubinan (= kemenangan yang sempurna). Tokoh ini berperan dalam merebut Sunda Kalapa dari tangan Kerajaan Sunda. Sebagai kesimpulan akhir, menurut Djajadiningrat, nama-nama Faletehan, Fatahillah, Tagaril, dan juga Makdum, Syarif Hidayat(ullah), serta Sunan Gunung Jati adalah tokoh yang identik. “Namanya memang bermacam-macam, tetapi orangnya hanya satu,” begitu katanya (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten, 1983).

Tetapi kemudian banyak sejarawan, arkeolog, dan filolog menentang teori Djajadiningrat itu. Antara lain Dr. Ekadjati yang dalam salah satu tulisannya mengatakan Makdum berbeda dengan Sunan Gunung Jati. “Makdum berasal dari Pasai, sedangkan Sunan Gunung Jati berasal dari Arab. Hanya kedudukan dan peranan keduanya sama, yakni sebagai penyebar Islam,” tulisnya (1989, hal. 4).

Ketika pada 1972 ditemukan sebuah naskah kuno di Indramayu, maka pandangan tentang tokoh Fatahillah mulai berubah. Kitab kuno itu, Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada 1720, oleh Pangeran Arya Carebon. Namun yang menjadi masalah, masa penulisan kitab itu adalah 200 tahun setelah masa hidup Fatahillah. Kitab itu pun masih diragukan keasliannya oleh banyak pihak karena banyaknya kekeliruan penulisan.

Sementara itu, dalam Babad Cerbon dikatakan dari garis ayah (Sultan Bani Israil), Sunan Gunung Jati berasal dari tanah Arab, sementara dari garis ibu merupakan keturunan Raja Sunda-Pajajaran. Setelah menuntut ilmu di tanah Arab, dia bermukim di Cirebon. Selanjutnya dia menyebarkan agama Islam di Cirebon dan Banten.

Di pihak lain, Sajarah Banten menyebutkan tokoh Sunan Gunung Jati sebagai seorang yang keramat. Dia datang dari tanah Arab. Ayahnya berasal dari Yamani, sementara ibunya dari Bani Israil. Raja Cirebon saat itu bernama Makdum, berasal dari Pasai (Sejarah Nasional Indonesia Jilid III dan berbagai buku karangan H.J. de Graaf).

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, tokoh dari Pasai itu bernama Fadhillah Khan, diidentifikasi sebagai Fatahillah. Dia lahir pada 1490. Sementara tokoh Sunan Gunung Jati, nama lain dari Syarif Hidayat, lahir pada 1448 di Mekah dan tiba di Cirebon sekitar 1470. Dengan demikian Fatahillah dan Sunan Gunung Jati merupakan dua tokoh yang berbeda.


Kontroversial

Meskipun kontroversial, pandangan Djajadiningrat tadi mempunyai pengaruh yang amat luas di kalangan sejarawan. Hampir semua kepustakaan yang ada mengenai sejarah Indonesia hingga 1970-an, khususnya sejarah Jakarta, Banten, dan Cirebon, masih menganggap tokoh Fatahillah identik dengan Sunan Gunung Jati.

Pandangan kontroversial juga pernah mengemuka tahun 1968, sebelum ditemukannya kitab Carita Purwaka Caruban Nagari. Adalah seorang filolog, Prof. Slamet Muljana, yang membahasnya dalam sebuah buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (diterbitkan ulang LKiS, 2005). Dia menafsirkan bahwa Fatahillah adalah seorang muslim China yang sebelumnya bernama Toh A Bo alias Pangeran Timur. Pendapatnya itu didasarkan pada data kronik Tionghoa yang berasal dari kelenteng Semarang dan kelenteng Talang (Cirebon).

Menurut Muljana, semula Syarif Hidayat Fatahillah adalah panglima tentara Demak. Tokoh ini identik dengan Sunan Gunung Jati. Toh A Bo adalah putra Sultan Trenggana, Tung Ka Lo. “Fatahillah adalah orang kelahiran Demak dan berasal dari bangsawan tinggi, yakni putra Sultan Demak,” demikian Muljana (hal. 232).

Nama Fatahillah kemudian dipakai oleh Toh A Bo ketika dia dinobatkan sebagai Sultan Banten. “Tidak dapat dikatakan dengan pasti kapan Fatahillah menjadi sultan. Yang pasti pada 1552 dia meninggalkan Banten dan menetap di Cirebon serta mendirikan kesultanan Cirebon. Kesultanan Banten dia serahkan kepada putranya, Hasanuddin. Pada 1570 Fatahillah wafat dan dimakamkan di Sembung, Bukit Gunung Jati,” begitu tafsiran Muljana.

Banyak pakar sampai kini masih menyangsikan tokoh Fatahillah, Faletehan, dan Syarif Hidayat. Benarkah dia seorang tokoh sejarah sekaligus pendiri kota Jakarta dan mengacu pada satu nama yang sama, benarkah dia hanya seorang tokoh fiktif, benarkah dia seorang muslim China, dan berbagai pertanyaan lain masih sulit dijawab kebenarannya.

Identifikasi tokoh Fatahillah memang merupakan perdebatan akademis yang belum mencapai titik temu hingga kini. Hal itu menjadi rumit karena sumber-sumber yang tersedia masih terbatas. Tetapi kita sudah terlanjur memandangnya sebagai sosok pahlawan, sekaligus pendiri kota Jakarta. Bisakah ini disebut rekayasa sejarah?***




Baca Selengkapnya......

Arti Mitos




Mitos atau mite(myth) adalah cerita prosa rakyat yang tokohnya para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.Mitos itu sendiri, ada yang berasal dari indonesia dan ada juga yang berasal dari luar negeri.

Mitos yang berasal dari luar negeri pada umumnya telah mengalami perubahan dan pengolahan lebih lanjut, sehingga tidak terasa asing lagi yang disebabkan oleh proses adaptasi karena perubahan zaman. Menurut Moens-Zoeb, orang jawa bukan saja telah mengambil mitos-mitos dari India, melainkan juga telah mengadopsi dewa-dewa Hindu sebagai dewa Jawa. Bahkan orang Jawa pun percaya bahwa mitos-mitos tersebut terjadi di Jawa. Di Jawa Timur misalnya, Gunung Semeru dianggap oleh orang Hindu Jawa dan Bali sebagai gunung suci Mahameru atau sedikitnya sebagai Puncak Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa.

Mitos di Indonesia biasanya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, dunia dewata, dan terjadinya makanan pokok. Mengenai mite terjadinya padi, dikenal adanya Dewi Sri yang dianggap sebagai dewi padi orang Jawa. Menurut versi Jawa Timur, Dewi Sri adalah putri raja Purwacarita. Ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sadana. Pada suatu hari selagi tidur, Sri dan Sadana disihir oleh ibu tirinya dan Sadana diubah menjadi seekor burung layang-layang sedangkan Sri diubah menjadi ular sawah.

Mitologi tentang tokoh-tokoh rakyat di seluruh dunia, seperti cerita Oedipus, Theseus, Romulus, dan Nyikang mengandung unsur-unsur seperti, ibunya seorang perawan;ayahnya seorang raja;terjadi proses perkawinan yang tidak wajar dan lain-lain.

Baca Selengkapnya......

Mitos Kehamilan, Benarkah?

Mitos Kehamilan, Benarkah?. Saat hamil setiap orang akan memberikan saran , nasehat , pantangan apa yang boleh - tidak boleh. Tapi seberapa jauhkah kebenaran dari MITOS ini?-----
Saat seorang wanita hamil, maka biasanya akan banyak mendapat banyak nasehat – nasehat dari kerabat, keluarga, teman juga dari orang sekelilingnya, tentang apa yang boleh dan tidak boleh selama kehamilan anda.

Walaupun maksud dari mereka semuanya adalah baik tetapi tidak semua dari nasehat atau pantangan kehamilan yang diberitahukan itu benar secara medis maupun ilmiah. Kebanyakan hanya berdasarkan mitos atau kepercayan saja daripada kenyataannya.

Oleh karenanya bila anda hamil sebaiknya selalu menkonfirmasikan informasi yang anda dapatkan dengan dokter atau referensi buku yang dapat dipercaya, sehingga anda mengetahui apa kebenarannya dan tidak hanya mengikuti sesuatu yang anda sendiri tidak mengetahui alasannya / kenyataannya.:-)

BEBERAPA MITOS KEHAMILAN & FAKTA:

- Tidak boleh memotong atau menjahit baju.

Mitos: Tidak boleh memotong atau menjahit baju selama kehamilan atau anak akan lahir dengan bibir sumbing.

Fakta: Bibir sumbing biasanya karena pengaruh obat-obatan yang diminum ibu saat hamil, efek radiasi atau factor genetic. Oleh karenanya x-ray tidak dilakukan selama kehamilan kecuali atas indikasi tertentu.

- Minuman dari kacang kedeai (susu kacang) akan membuat kulit bayi bewarna putih.

Mitos: minum susu kacang atau makanan dari kacang kedelai akan membuat bayi berkulit putih.

Fakta: warna kulit seseorang dipengaruhi oleh factor genetic ayah – ibunya, bukan dari susu kedelai.

- Jeruk akan meningkatkan lendir pada bayi dan resiko kuning pada bayi baru lahir.

Mitos: Jangan makan jeruk terlalu sering akan meningkatkan lendir pada paru bayi dan resiko kuning saat bayi lahir.

Fakta: Jeruk adalah sumber vitamin C dan serat yang baik.

- Minum air es akan menyebabkan bayi besar.

Mitos: Sering minum es saat hamil menyebabkan bayi besar dan akan sulit lahir.

Fakta: Bayi besar biasanya berhubungan dengan ibu hamil yang mempunyai penyakit kencing manis. Jadi mungkin es ini diminum oleh ibu hamil yang memang dengan riwayat penyakit kencing manis. Jadi bukan minum es lalu menyebabkan bayi besar karena air es akan dikeluarkan oleh tubuh sebagai keringat atau air seni.

- Makanan pedas akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit kemerahan atau berkulit lebih gelap.

Mitos: Makan makanan pedas saat hamil akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit kemerahan atau bayi akan berkulit lebih gelap/hitam.

Fakta: Sekali lagi warna kulit seseorang tidak ditentukan oleh makanan pedas, tapi factor genetic dari orang tuanya. Dan faktanya bahwa makan makanan pedas saat hamil, membuat rasa tak enak diperut apalagi bila anda sedang mual, jadi bukan karena menyebabkan bercak kemerahan pada kulit.


Banyak lagi mitos kehamilan lainnya yang terdapat dalam masyarakat kita. Ketika anda sedang hamil dan mendapatkan berbagai nasehat atau pantangan, ingatlah untuk selalu mendapatkan fakta dan kebenaran secara medis atau ilmiahnya. Anda dapat bertanya kepada dokter anda untuk memastikannya sebelum anda hanya sekedar mengikutinya saja 


© Dr. Suririnah- www.infoibu.com




Baca Selengkapnya......

Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis, Antara Keindahan Pantai dan Mitos Ratu Kidul


Di pesisir selatan Yogyakarta, terdapat sekitar 13 obyek pantai yang memiliki pesona wisata, ternyata Pantai Parangtritis yang selalu menempati peringkat teratas dalam angka kunjungan wisata, dibanding pantai-pantai lainnya. Pantai yang Berlokasi sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta ini, dapat dicapai melalui desa Kretek atau rute yang lebih panjang, tetapi pemandangannya lebih indah yaitu melalui Imogiri dan desa Siluk.



Pantai yang termasuk wilayah Bantul ini merupakan pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Di kawasan ini wisatawan dapat berkeliling pantai menggunakan bendi dan kuda yang disewakan dan dikemudikan oleh penduduk setempat. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta.



Pada musim kemarau, angin bertiup kencang seperti tak mau kalah dengan deburan ombak yang rata-rata setinggi 2-3 meter. Sering terdengar kabar ada pengunjung pantai selatan hilang terseret gelombang. Anehnya, jenazah pengunjung yang nahas itu, menghilang bagaikan ditelan bumi. Tim SAR rata-rata baru bisa menemukan jenazahnya 2-3 hari kemudian setelah melakukan penyisiran. Biasanya, lokasi penemuan mayat tidak pada area di mana pengunjung tersebut tertelan ombak. Mayat ditemukan ratusan meter, bahkan kadang beberapa kilometer dari lokasi semula.

Di kalangan masyarakat setempat, kejadian misterius semacam itu, semakin menguatkan mitos bahwa penguasa laut yang lazim disebut Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan), suka "melenyapkan" orang yang tidak mengindahkan kaidah alam. Dari sisi ilmiah, kejadian semacam itu makin menguatkan teori bahwa palung laut selatan Jawa memang sarat arus bawah yang terus bergerak. Benda apa saja yang terseret ombak dari bibir pantai, terseret ke bawah dan terdampar pada lokasi berbeda.

Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.





Baca Selengkapnya......

03 Mei 2009

Pernikahan secara adat apa memang perlu ???

Pernikahan secara adat apa memang perlu ???


BlogerMania ini tulisan yang sulit dibuat, karena sumber pustaka yang terbatas malah dalam bentuk tertulis tidak ada sama sekali. Semua orang pasti pingin nikahkan?, sapa yang pingin nikah? dengan orang yang dicintainya? Pasti BlogerMania bilang “ya” semua. Tapi nikah bukan perkara mudah, ada aturan yang mengaturnya, selain aturan agama ada lagi yaitu pranata adat-istiadat. Inilah yang harus kita beri perhatian ekstra.
Kalau kita mau nikah, menurut saya sih faktor agama adalah yang paling penting, tetapi ternyata ada lagi, kita harus menyesuaikan dengan aturan adat. Jadi aturan adat kelihatannya lebih mulia dibandingkan agama, emang kita kelompok aliran kepercayaan?, aneh sekali kan?. Dalam zaman Financial Crune di seluruh dunia terjadi kemacetan likuiditas saham dan meningkatkan suku bunga bank, hal-hal berbau mistis dalam pernikahan masih tumbuh subur. Heran ya, bangsa Indonesia ini kok aneh banget.
Sekarang seperti mas Tukul, kembali ke Laptop. Inilah hasil research kecil saya. Berdasarkan searching internet, chating dengan berbagai orang dan berbagai suku hasilnya, ya inilah. Menurut manuscript Jawa ada pantangan dalam pernikahan. Setahu saya yang dilahirkan dari keluarga Jawa, pernikahan anak pertama dan ketiga itu tidak boleh karena melanggar pantangan adat atau membentuk angka 13 kayak kepercayaan orang Eropa yang menganggap angka 13 sebagai angka sial. Mungkin orang Jawa punya silsilah dengan orang Eropa kali, jangan-jangan saya sepupunya David Beckham??? Namun ada cara untuk mengatasi pantangan itu dengan diatur sedemikian rupa sehingga tidak melanggar adat, meski pernikahan yang terjadi antara anak pertama dan ketiga. Emang ada saja akal orang Jawa, sudah buat aturan sendiri yang tidak jelas, terus dilanggar-langgar sendiri.

Sekarang dari pengalaman yang lain. Adat Sunda, ini juga punya aturan adat sendiri, sama dengan adat Jawa ada pantangan-pantangan adat yang mengatur pernikahan. Karena bukan dilahirkan di keluarga Sunda, saya cuma punya pengetahuan sedikit. Menurut manuscript Sunda yang tak cari dengan ngubek-ubek internet, chating sama orang Bandung, Tasikmalaya dan Tangerang memang ada aturan adat yang mengatur pernikahan. Di adat Sunda pernikahan anak pertama dan terakhir itu melanggar adat, kalau istilah Sunda “pamali”, karena jika dipaksakan akan ada musibah atau bahasa Jawanya “pagebluk” yang menimpa keluarga itu. Ini memang aneh tetapi beginilah adanya. Untuk cara mengakalinya seperti orang Jawa, saya tidak tahu karena selain bukan orang Sunda, sumber untuk bertanya juga tidak ada, wong saya tinggal di Surabaya yang penduduknya orang Jawa dan Madura.
Nah beginilah kekayaan budaya Indonesia yang beragam aneh dan masuk akal. Memang kalau BlogerMania mengalami kejadian seperti ini maka harap maklum saja, saya tidak bisa bantu karena saya juga tidak bisa apa-apa ketika mengalaminya. Memang kalau dicari bukti empiris jika melanggar pantangan itu tidak ada, tetapi orang Indonesia ini sangat budayawan, terlalu percaya terhadap hal-hal yang mistis. Memang aturan itu kedengaran “bullshitt”, tapi orang Indonesia masih percaya terhadap hal-hal mistis ini. Tergantung mas atau mbak yang menyikapi sendiri.
Sumber : website internet, chating

Baca Selengkapnya......

02 Mei 2009

CINTA DAN DOSA

CINTA DAN DOSA




Kisah ini adalah salah satu kisah kelam dalam hidupku, kutuliskan agar mendapat hikmah bagi para pembaca

Aku menjalin hubungan dengan seorang wanita yg sudah berkeluarga, aku sendiripun tidak pernah menyangka ini akan terjadi. Pada awalnya aku hanya menganggapnya sebagai seorang kakak saja.

Mungkin benar kata pepatah jawa "tresno jalaran soko kulino", mungkin karena terlalu sering berjumpa dan ngobrol membuat kami berdua jatuh cinta. Walaupun bincang-bincang kami pada awalnya hanya melalui ponsel saja tetapi rasanya rindu dan selalu ingin menelponnya setiap hari.

Barangkali si mbak ku ini juga merasa kesepian karena suaminya sering keluar kota. Jadi Mbak merasa leluasa ngobrol sebebasnya denganku sampai larut malam.

Hubungan via ponsel dengan Mbak berlangsung lama hingga suatu hari kami sepakat untuk bertemu dan jalan-jalan berdua. Sikapnya yang aneh dan perhatiannya yang begitu besar kepadaku membuatku hanyut dan menikmati saat-saat itu.

Hari itu, dia mengatakan sangat bahagia dan saat kudaratkan ciuman ke keningnya dia tidak menolak dan bahkan dia memejamkan dua metanya tanda kalau dia menyukaiku.

Sejak pertemuan pertama itu, kami semakin sering bertemu dan hubungan kami tidak lagi sekedar jalan-jalan saja tetapi sudah layaknya suami istri. Kami melakukan hubungan itu tanpa rasa canggung lagi.

Hingga suatu hari, apa yang selama ini aku takutkan akhirnya terjadi. Saat suatu malam saat aku sedang asik sms an dengan Mbak, tiba-tiba dering telpon masuk dari nomor Mbak. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkatnya tetapi suaru yang ku dengar bukan suara Mbak tapi suara laki-laki yang tak lain adalah suaminya.

Bukan kepalang kagetnya aku dan belum hilang kagetku aku masih harus masih menjawab serentetan pertanyaan darinya dan dari belakang telepon kudengar suara Mbak meminta maaf, suara tangisanya terdengar..

Dengan berbagai alasan aku mengelak semua tuduhannya tapi dia tak pernah percaya telpon pun terputus.

Sejak malam itu aku tak bisa berhubungan lagi dengannya, karena dia enggak masuk kerja dan telepon juga tidak pernah aktif. Hingga suatu hari, aku dapat telepon darinya dengan memohon maaf dan ucapan perpisahan darinya sungguh tak sanggup aku menerimanya..

Hidupku serasa pincang dengan hilangya dia dari hidupku, enggak ada semangat yang terpancar dari diriku sedikitpun, tapi aku mulai menerima semua demi kebahagianya bersama keluarga yang telah dipilihnya,....semoga bahagia.. maafkan smua kesalahanku


Baca Selengkapnya......

Mekanisme Terjadinya Ereksi

Mekanisme Terjadinya Ereksi (Tumescensi)

Meskipun ereksi penis tampaknya terjadi dengan cepat, hal itu merupakan proses yang rumit dan membutuhkan kerja sama banyak sistem di dalam tubuh. Proses itu mulai dan otak, sistem syaraf, pembuluh darah sampai hormon turut dilibatkan dalam fungsi tubuh yang spesifik ini.

Pada saat istirahat (tanpa aktivitas seksual), pembuluh-pembuluh darah arteri di daerah Corpora Cavernosa, serta otot-otot polos di trabekel yakni sekitar sinusoid akan mengalami kontraksi (penciutan) sehingga darah yang masuk ke penis sangat sedikit. Rongga-rongga sinusoid di Corpora Cavernosa hanya terisi sedikit darah sehingga penis dalam keadaan lembek..






Ketika tubuh menerima rangsangan seksual baik melalui penglihatan, perabaan, penciuman, fantasi (khayalan) dan sebagainya, maka penerima stimulasi seksual akan segera bereaksi dan mengirim pesan kepada sistem syaraf yang dilanjutkan ke hipotalamus kemudian turun ke bawah melalui wedulla spinalis atau sumsum tulang belakang.

Selanjutnya melewati nucleus atau inti-inti syaraf otonom di S2-4 (vertebra sacralis) diteruskan ke jaringan-jaringan erektil di Corpora Cavernosa. Di dalam jaringan erectil ini, dihasilkan bermacam-macam neurotransmitter (penghantar impuls syaraf).

Salah satu yang amat berperan untuk membuat penis ereksi ialah NO (nitrogen oksida). NO dihasilkan dari oksigen dan L-Arginin di bawah kontrol sintase nitrik oksida. Sesudah terbentuk, NO dilepaskan dari neuron dan endotel sinusoid di Corpora Cavernosa. NO menembus sel otot polos yang mengaktifkan enzim yang disebut guanilyl cyclase. Guanilyl cyclase selanjutnya mengubah guanosin triphosphat (GTP) menjadi siklik guanosin Monophosphat (cGMP). Melalui beberapa proses kimiawi, cGMP membuat otot-otot polos dalam Corpora Cavernosa di dalam trabekel-trabekel dan di dalam arteriol-arteriol mengalami relaksasi sehingga seluruh pembuluh darah di Corpora Cavernosa serta sinusoid akan mengalami pelebaran atau pembesaran.

Selanjutnya rongga-rongga (sinusoid) penuh dengan darah sehingga penis mulai membesar. Rongga-rongga yang terisi itu kemudian menekan pembuluh darah balik (vena) di dekatnya sehingga darah tidak bisa ke luar dari Corpora Cavernosa dan darah terperangkap di Corpora Cavernosa dan penis tambah besar sampai keras. Selama proses itu terjadi, impuls seksual terus timbul di dalam otak dan terjadi relaksasi otot-otot polos di dinding pembuluh darah dan trabekel-trabekel sehingga terjadi dilatasi (pelebaran) pembuluh darah serta pembesaran sinusoid maka penis akan terus mengeras.




Detumescensi (Menurunkan Ereksi)


Untuk menjaga supaya ereksi tidak terjadi terus-menerus, maka cGMP harus dikurangi sehingga tidak terjadi relaksasi otot-otot polos terus menerus. Di dalam sel otot polos di dalam Corpora Cavernosa ada mekanisme tersendiri, yakni adanya 5 yang mengubah cGMP menjadi 5 guanosine wonophospbat (SGMP), sehingga jumlah cGMP berkurang.



Bila cGMP tinggal sedikit maka relaksasi otot polos akan hilang kemudian mengkerut (kontraksi) sehingga penis menjadi kecil atau kembali ke fase istirahat. Kemudian bila ada stimulasi seks, NO akan dibentuk lagi dan akhirnya cGMP akan meningkat dan otot polos akan mengalami relaksasi dan penis ereksi lagi.



Selama tidak ada stimulasi seks, penis akan tetap istirahat. NO tidak diproduksi sehingga cGMP tidak terbentuk dan penis akan tetap lembek. Demikian mekanisme ereksi, istirahat, ereksi dan istirahat dari penis manusia. (NL Tobing)

Baca Selengkapnya......

Mandul dan Kesuburan

Mandul dan Kesuburan


Selama bertahun-tahun, Scott Read dengan sengaja menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi ketika la menikah dalam tahun 1982 dan keduanya, ia dan istrinya, Karen, menginginkan kehadiran seorang anak, ia menghadapi kenyataan menyakitkan yang sungguh di luar dugaannya.

"Kami ingin punya anak, kami juga telah mencoba dan mencoba lagi tetapi belum berhasil,"ujar Scott, seorang eksekutif hotel berusia 36 tahun di San Francisco dan ayah angkat seorang anak perempuan berusia enam tahun. "Itu sangat mengesalkan. Di kepala saya terbayang kenangan tentang beberapa temannya semasa SMU yang sehabis kencan satu kali saja dengan seorang gadis, wuuss, gadis itu langsung hamil. Namun kini dua insan yang telah siap mempunyai anak seperti kami justru tidak pernah mendapatkannya."

Cerita tentang Scott dan Karen seperti di atas dialami oleh sekitar 10 hingga 15 persen pasangan Amerika yang diduga atau dipastikan mandul. Selama berbulan-bulan dan kemudian bertahun-tahun pasangan seperti ini akhirnya kehilangan harapan dan hanyut dalam kekecewaan. Hubungan seks menjadi seperti kewajiban, dan setelah setiap bulan pembuahan tidak kunjung terjadi, mereka semakin merasa bahwa puncak bukit sudah lama mereka lewati.

"Bagi banyak orang, kemandulan sama dengan bencana. Salah satu aspek utama yang membuat seorang pria merasa muda adalah kemampuannya membuahi. Bagi seorang pria, tidak ada yang lebih meremukkan perasaan selain menghadapi kenyataan bahwa la tidak mampu membuahi seorang wanita. Secara psikologis, ini dapat menjatuhkan harga dirinya dan membuatnya merasa seperti orang yang sudah tua dan jompo," kata Reed C. Moskowitz, M.D., pendiri dan direktur medis di Stress Disorder Medical Services di New York University Medical Center di New York City dan pengarang Your Healing Mind.
Apa yang Tidak Beres?

Besar sekali kemungkinan bahwa anda pernah belajar tentang proses terjadinya bayi dalam pelajaran biologi atau pendidikan seks di sekolah. anda mungkin ingat guru anda dengan nada datar menerangkan bahwa secara normal seorang pria memancarkan jutaan sperma ke dalam vagina seorang wanita ketika sedang bersetubuh dan sperma-sperma tersebut berebutan masuk ke dalam saluran telur (tuba fallopi).

Di sana, apabila anda berhubungan seks tepat pada satu atau dua hari dalam sebulan ketika telur pasangan anda dilepaskan dari ovarium dan berjalan di salah satu saluran telur, sperma dan telur itu akan bertemu. Apabila salah satu sperma berhasil menembus dinding telur, pembuahan terjadi, dan kehamilan dimulai. Apabila kondisinya ideal dan anda serta pasangan anda tidak menggunakan alat kontrasepsi, maka peluang untuk terjadinya kehamilan adalah satu banding lima pada setiap bulan.

Akan tetapi barangkali guru anda tidak bercerita bahwa keadaan tidak selalu demikian. Kemandulan atau infertilitas biasanya didiagnosis setelah sepasang pria dan wanita telah mencoba menghasilkan pembuahan tanpa hasil selama 12 bulan atau lebih. Kemandulan dapat terjadi bahkan meskipun anda pernah mempunyai anak. Kira-kira 40 hingga 50 persen dari masa pengamatan itu, dokter mungkin mencari tahu dahulu bahwa si wanita mungkin mempunyai masalah dalam peralatan reproduksinya. Sedangkan selama 40 persen sisanya, mereka mulai menduga bahwa yang bermasalah adalah pihak pria.

Kadang-kadang baik pihak pria maupun pihak wanita sama-sama mempunyai kesulitan yang mempengaruhi proses kehamilan. Akibatnya dokter tidak dapat menentukan penyebab anda dan pasangan anda tidak dapat mempunyai anak.

Pada umumnya, apabila pihak pria yang bermasalah, penyebabnya adalah entah karena hitungan sperma (sperm count) rendah atau karena benih-benih tersebut sangat lamban, dalam arti mereka memerlukan waktu lama ketika berenang untuk bertemu dengan telur di saluran telur.

Sebagian pria, seperti Scott Read, memiliki kedua masalah itu sekaligus.
"Pria dapat memiliki hitungan sperma rendah karena beberapa alasan," kata Donald I. Galen, M.D., direktur di In Vitro Fertilization and Reproduction Medical Division di San Ramon Regional Medical Center di San Ramon, California. "Merokok, penyalahgunaan alkohol, obat bius, terkena bahan kimia dan radiasi, penyakit sewaktu kanak-kanak seperti campak dan trauma terhadap organ seksual dapat mengurangi hitungan sperma pada pria."

Pembesaran vena dalam skrotum (kantung zakar) juga dapat menurunkan hitungan sperma, kata Fred Licciardi, M.D., profesor obstetri dan ginekologi di New York University School of Medicine di New York City. Testis memerlukan suhu kira-kira dua derajat lebih rendah daripada temperatur tubuh yang lain agar dapat memproduksi sperma. Akan tetapi varikokel menyebabkan temperatur dalam testis naik dan membunuh sperma.

Penyebab lain kemandulan pada pria di antaranya adalah tersumbatnya vas deferens (saluran yang mengalirkan sperma dari testis ke penis), kanker testis, infeksi, trauma, dan antibodi yang melekatkan diri pada sperma sehingga sulit bergerak dan karena itu rentan terhadap penghancuran oleh sel-sel darah putih. Antibodi bisa muncul akibat infeksi atau trauma pada testis.



Baca Selengkapnya......

mitos tanda2 bayi cewe atau cowo

mitos tanda2 bayi cewe atau cowo
________________________________________
KOMPAS.com — Mitos tetap saja tumbuh subur di tengah masyarakat karena diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cakupannya juga sangat luas, di antaranya seputar kesehatan keluarga. Misalnya, makan wortel bisa menambah ketajaman penglihatan. Atau soal keamanan, seperti bila mau berenang, tunggullah satu jam setelah makan.

Nah, di bawah ini ada sejumlah mitos yang banyak beredar seputar kehamilan. Kendati tak jelas asal-usulnya, tetap saja banyak orang yang percaya segala mitos ini.


Percaya atau tidak, itu sepenuhnya hak Anda!
1. Perubahan fisik ibu hamil
* Bila ibu hamil lebih suka berbaring di sisi kiri, nantinya ia akan menimang bayi laki-laki. Sedangkan bila lebih sering berbaring miring ke kanan, besar kemungkinan bayinya perempuan.
* Bila mengalami mual muntah hebat di saat hamil, berarti bayinya perempuan. Sedangkan bila tidak, pasti bayinya laki-laki.
* Bila kulit tangan terasa kering, berarti bayinya laki-laki. Sedangkan bila kulitnya berubah jadi lembut, bayi yang dilahirkan pasti perempuan.
* Bila ngidam jeruk, berarti bakal menimang bayi perempuan.
* Bila kulit tubuhnya pecah, berarti akan memiliki bayi perempuan.
* Bila senantiasa merasa bersyukur selama kehamilan, berarti akan punya momongan perempuan. Sebaliknya, bila selalu gugup dan cemas, berarti bayi laki-laki yang akan lahir.
* Bila wajah ibu hamil terlihat tampak lebih berisi, berarti bayinya perempuan.
* Tergila-gila pada makanan yang asin-asin? Bersiap-siaplah mendapatkan bayi laki-laki. Ngidam makanan yang manis-manis? Berarti bayi yang akan dilahirkan adalah perempuan.
* Bila payudara sebelah kanan lebih besar dari payudara kiri, itu artinya akan dikaruniai bayi perempuan. Sebaliknya, bila payudara kiri yang lebih besar, berarti bayinya nanti laki-laki.
* Sangat gampang berubah-ubah perasaan secara ekstrem? Berharaplah dapat bayi perempuan.
2. Bentuk perut ibu hamil
* Bila posisi bayi terlihat di bawah, kemungkinan besar bayinya laki-laki. Namun, bila perut kelihatan tinggi, bisa jadi bayi perempuanlah yang akan lahir.
* Bila perut terlihat lebih menonjol ke depan, berarti bayinya laki-laki. Sedangkan bila besar perutnya merata, pasti perempuan.
3. Kalung dan bandul
* Juntaikan kalung dengan bandul di atas telapak tangan, perhatikan gerakannya. Bila bergerak ke depan dan ke belakang berarti bayinya laki-laki, sedangkan bila gerakannya membentuk lingkaran berarti perempuan.
* Bagaimana cara Anda memperlihatkan tangan kepada orang lain? Telapak tangan menghadap ke atas? Pasti bayinya perempuan, sedangkan bila telapak tangan mengarah ke bawah berarti bayinya laki-laki.
* Gantungkan cincin atau kalung rantai di atas perut. Bila gerakannya ke belakang dan ke depan berarti laki-laki, sedangkan bila membentuk gerakan melingkar berarti perempuan.
* Bila ada bocah laki-laki yang tertarik melihat perut Anda yang membuncit berarti Si Kecil dalam perut berjenis kelamin perempuan. Sebaliknya, bila si bocah laki-laki tadi menunjukkan sikap acuh tak acuh berarti Anda akan melahirkan bayi laki-laki.
* Menebak jenis kelamin janin konon juga bisa dilakukan dengan makan bawang putih. Bila aromanya merebak sampai ke pori-pori berarti bayi laki. Namun, bila aromanya tak tercium berarti bayi perempuan.
* Bila Anda lebih memilih kunci berujung bulat, janin yang akan dilahirkan berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan bila ujungnya runcing, bayi perempuanlah yang akan dilahirkan.
4. Tanda-tanda Lain
* Kalau detak jantung janin lebih dari 150 kali per menit berarti yang akan lahir adalah bayi perempuan. Sedangkan bila hitungannya kurang dari 150 berarti bayinya laki-laki.
* Peluang terbentuknya jenis kelamin anak laki-laki sama besarnya dengan anak perempuan bila saat terjadinya konsepsi, suami istri dalam keadaan tenang dan tanpa stres.
* Bila selama hamil bermimpi mendapat bayi perempuan, Anda justru akan mendapat bayi laki-laki. Begitu juga yang terjadi sebaliknya.
__________________


Baca Selengkapnya......

Kategori

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

 

Info Blog

powered by PRBbutton TopOfBlogs Technology (Blogs) - TOP.ORG Top Computers blogs Free Download, 100% gratis, cari uang dari internet, mp3 gratis, free download mp3, sex DigNow.net Google bot last visit powered by Bots Visit Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Informasi Untuk Teknologi
Free Hit Couner

Tukeran link


REXYO74.COM
Copy kode di bawah masukan di blog anda

Followers