PANDANGAN manusia Sunda masa kini terhadap hubungan antara agamanya
(Islam) dan kebudayaannya (Sunda) tentulah berdasarkan pandangan dan
pengetahuan yang sudah modern. Bagaimana hubungan itu seharusnya,
tentulah menjadi bahan wacana yang aneka ragam. Tetapi orang sering
melupakan bagaimana gagasan manusia Sunda itu dalam praksisnya.
Bagaimana masyarakat Sunda pra-modern memandang dirinya dalam hubungan
antara Islam dan Sunda. Gagasan semacam itu bertebaran dalam bentuk
wawacan yang oleh Viviane Sukanda-Tessier dan Hasan M. Ambary telah
dihimpun ringkasan isinya setebal lebih dari 2000 (dua ribu) halaman.
Untuk memahami hubungan antara Islam dan Sunda, ratusan wawacan itu
dapat menjadi sumber utamanya. Kalau pikiran kolektif masyarakat Sunda
di zaman Pajajaran dapat disimak dari carita pantun, pikiran kolektif
masyarakat Sunda setelah memeluk agama Islam dapat disimak dari
wawacannya. Wawacan-wawacan inilah yang ikut membentuk pikiran
kolektif masyarakat Sunda sejak abad ke 17.
"Pantun dan wawacan itu bukankah dongengan saja Pak?" Memang kita
sekarang menampakkannya sebagai dongeng-dongeng belaka, tetapi di
zamannya (bahkan mungkin masa kini di perdesaan Sunda) masih merupakan
mitos. Setiap masyarakat memiliki sejumlah mitos untuk mempersatukan
dirinya dalam sebuah bangunan alam pikiran yang sama.
Mitologi-mitologi Islami Sunda dalam bentuk ratusan wawacan ini
berperan sangat penting dalam menyatukan kesadaran sosial masyarakat
Sunda pada zamannya. Dan kesadaran inilah yang memimpin sikap mereka
dalam mengarungi hidup ini.
**
MASYARAKAT Sunda zaman wawacan itu memandang dirinya dalam hubungannya
dengan agama Islam, dapat dilihat dari hanya dua wawacannya saja,
yakni Wawacan Guru Gantangan dan Wawacan Kean Santang. Masih tersedia
puluhan wawacan lain yang dapat memperkuat thesis yang akan diajukan
di sini. Dalam sebuah diskusi tentang kesundaan, seorang mahasiswa
menolak keras diperhitungkannya nama Kean Santang dalam membaca budaya
Sunda di masa lampau. Kean Santang itu tidak dapat dibuktikan
keberadaannya dalam sejarah Sunda. Jawaban saya, mana yang lebih
penting, kesadaran kolektif masyarakat Sunda atas "adanya" Kean
Santang, atau bukti sejarah keberadaannya? Kalau benar ada secara
faktual, tetapi tidak ada secara kesadaran, mana yang lebih penting
dalam ilmu budaya? Realitas kesadaran bahwa Kean Santang itu
benar-benar ada dalam alam pikiran masyarakat Sunda di zaman itu, atau
jauh lebih penting dari realitas faktual yang memang "tidak ada"?
Perlu saya tambahkan di sini, bahwa wawacan bukan untuk dibaca secara
personal seperti kita sekarang membaca roman Siti Nurbaya. Wawacan itu
untuk dibacakan di depan sejumlah hadirin dengan melagukannya. Inilah
second literary. Genesisnya dari dua komunitas, yakni lingkungan
pesantren Sunda dan lingkungan kaum menak. Inilah sebabnya wawacan
berhuruf Pegon (pesantren) dan berhuruf cacarakan Jawa (menak).
Wawacan berisi ajaran Islam dan mitos-mitos Islami diduga berasal dari
komunitas santri, sedangkan wawacan berisi mitos-mitos Sunda, Jawa,
dan Islam, berasal dari komunitas menak. Dua jenis wawacan ini
diwarisi oleh rakyat Sunda. Dengan demikian, jelaslah bahwa wawacan
Sunda menggambarkan alam kesadaran seluruh masyarakat Sunda.
Seperti halnya masyarakat Melayu, masyarakat Sunda memandang Sunda dan
Islam itu identik. Sunda itu Islam, Islam itu Sunda. Sebuah ungkapan
yang amat membingungkan dalam pola berpikir modern kita. Tetapi
ungkapan ini berasal dari tradisi berpikir masyarakat Sunda
pra-modern. Dalam masyarakat Minang identitas Islam ini dirumuskan
dalam ungkapan: adat bersendi sarak (syariat), sarak bersendi Kitab
Allah. Ungkapan Minang ini kemudian dipakai cendekiawan Sunda modern
untuk mengoreksi ungkapan aslinya yang membingungkan itu, yakni Islam
dahulu sebelum Sunda.
**
MENGAPA muncul ungkapan "Islam itu Sunda?" Nenek Moyang Sunda bukan
orang bodoh yang tak tahu membedakan antara agama Islam yang dijunjung
tinggi dengan adat istiadat leluhurnya. Ungkapan "Islam itu Sunda"
sama sekali tidak bermaksud mereduksi Islam menjadi budaya. Ungkapan
ini mirip dengan "Siliwangi itu Jawa Barat, Jawa Barat itu Siliwangi".
Sunda dan Siliwangi itu identik.
Identitas Sunda sebagai Islam itu mengacu kepad Trias Politika Sunda.
Di masyarakat Baduy, terdapat kesatuan tiga kampung besar yang
masing-masing mempunyai peranannya sendiri. Kampung yang amat
dihormati adalah Cikeusik, karena kampung ini bersifat resik yakni
penentu adat seluruh kesatuan kampung. Meskipun ia dihormati, tetapi
tidak menjalankan kekuasaan kampung. Kekuasaan eksekutif diserahkan
kepada kampung di tengah, yakni Cikertawana. Sedang kampung paling
luar, Cibeo, bertanggung jawab atas keamanan tiga kampung besar dan
bertugas menjalin komunikasi dengan pihak luar kampung. Jadi, Cikeusik
sebagai resi, Cikertawana sebagai ratu dan Cibeo sebagai rama.
Dalam zaman Pajajaran, Pakuan menggantikan kedudukan Cikeusik, jadi
raja Pajajaran itu raja-pendeta. Kekuasaan eksekutif Pajajaran di Jawa
Barat tersebar di negara-negara "tengah", misalnya Sumedang,
Tasikmalaya, Majalengka, dst. Sedangkan Cibeonya Pajajaran adalah
kota-kota pesisir seperti Indramayu, Karawang, Tangerang, dst. Inilah
muncul ungkapan Sunda bahwa Sunda itu Pajajaran dan Pajajaran itu
Sunda, atau yang lebih mutakhir, Siliwangi itu Sunda dan Sunda itu
Siliwangi.
Bagaimana ketika Sunda memeluk Islam? Tetap trias politika. Triloginya
adalah santri (Islam), Menak, dan Rakyat mengikuti ungkapan resi,
ratu, rama. Resinya menjadi ulama, ratunya menjadi kaum menak, dan
rama menjadi rakyat Sunda umumnya. Dibaca secara demikian maka pola
pikir masyarakat Sunda mengenai hubungan antara sistem kepercayaannya
dengan sosio-budayanya masih tetap Trias Politika Sunda. Cikeusik,
Pakuan-Pajajaran, dan Islam adalah otoritas rohaniah yang amat
dihormati dan dipatuhi. Inilah yang menyatukan alam pikir seluruh
komunitas Sunda. Sunda itu ya Cikeusik itu, Pakuan - Pajajaran itu,
Islam itu sendiri.
Oleh karena itu masyarakat Sunda mentakan bahwa "Islam itu Sunda".
Ungkapan ini jangan dibaca secara modern, tetapi secara tradisi
berpikir masyarakat Sunda sendiri, yang artinya Islam adalah pengganti
identitas Sunda yang sebelumnya dipegang oleh Pajajaran. Karena
kerajaan Pajajaran tidak berkelanjutan dengan berdirinya kerajaan
Islam-Sunda (kecuali kerajaan Banten dan Cirebon disebut sebagai
Sunda), maka otoritas rohani Sunda diserahkan kepada kaum ulama Sunda
di pesantren-pesantren.
Jadi, resi-ratu-rama menjadi Islam-menak-rakyat. Seperti dahulu
Pajajaran itu sunda, maka sekarang Islam itu Sunda. Dengan demikian,
ungkapan "Islam itu Sunda" harus dibaca secara sosio-historis Sunda,
dan jangan dibaca secara teologis.
Permasalahannya sekarang, mengapa identitas Sunda adalah Islam? Inilah
alam pikiran Sunda pra-modern, suatu realitas kesadaran yang
ditanamkan lewat berbagai mitos-mitos Islami Sunda dalam wawacan.
Dalam wawacan Guru Gantangan (abad 18?), masyarakat Sunda percaya
bahwa Pulau Jawa ini pada mulanya kosong. Maka raja Mesir, Sri Putih,
membawa seribu orang Mesir dan seribu orang Selon bermukim di Pulau
Jawa (Sunda), Penyebutan orang Mesir dalam abad 17 atau 18 dapat
dipahami sebagai kekuasaan kesultanan Turki di Mesir yang jelas Islam.
Dengan demikian, masyarakat Sunda dalam abad-abad itu percaya bahwa
orang Sunda itu setengah Mesir (Arab, Turki, Islam) dan setengah Selon
(India). Mitos ini meneguhkan bahwa Sunda itu sejak mulanya memang
sudah Islam.
Mitologi kedua berasal dari wawacan Kean Santang. Kean Santang adalah
putra Siliwangi yang tak terkalahkan oleh siapa pun, sehingga ia
mencari lawan yang dapat melukainya dan dengan demikian ia akan dapat
melihat darahnya sendiri. Petunjuk mengatakan bahwa ia harus bertapa
di Ujung Kulon. Dalam pertapaannya ia mendengar suara agar pergi ke
arah barat. Perjalanan ke barat sampai di Arab. Di sana ia bertemu
seorang kakek yang kemudian dikenal sebagai Baginda Ali. Kakek ini
bersedia mempertemukan Kean Santang dengan siapa yang dicari Kean
Santang selama ini.
Dalam perjalanan, Baginda Ali menyuruh Kean Santang mengambilkan
tongkatnya yang ketinggalan. Kean Santang pergi mengambilnya, tetapi
tongkat yang tertanam di pasir itu tak bisa ditariknya, meskipun telah
mengeluarkan segenap tenaganya. Baginda Ali datang menyusul, dan
dengan amat gampang menarik tongkat itu. Kean Santang sadar, bahwa
Baginda Ali yang hanya pengikut Nabi Muhammad SAW begitu perkasanya,
apalagi beliaunya sendiri. Kean Santang bertobat dan masuk Islam. Kean
Santang mendapat ajaran Islam dari nabi sendiri, dan ikut mendirikan
sebuah tiang dalam membangun masjid di Mekkah.
Kean Santang sebenarnya ingin tetap tinggal dekat nabi, namun ia
diberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di Sunda. Sesampainya di
tanah airnya, ia membujuk ayahandanya Prabu Siliwangi agar bersedia
masuk Islam. Namun Prabu Siliwangi memilih moksha bersama keluarga dan
pembesar-pembesarnya. Pajajaran lenyap. Tetapi Kean Santang tidak mau
menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja. Ia menyebarkan agama
Islam ke seluruh rakyat Sunda.
**
SEKALI lagi mitos ini menunjukkan keyakinan masyarakat Sunda bahwa
Islam di Sunda itu berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW yakni Islam
yang semurni-murninya Islam. Dan Kean Santang adalah murid dan
sekaligus utusan Nabi Muhammad SAW. Tidak mengherankan apabila rakyat
hilang kenangannya terhadap kebudayaan Hindu-Budha-Sunda yang pernah
berjaya sekitar seribu tahun. Nama Siliwangi itu sendiri barangkali
dalam kesadaran rakyat hanya dikenal sebagai "bukan Islam", namun
bukan raja Hindu-Budha.
07 Mei 2009
Islam dan Sunda Dalam Mitos
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments :
0 komentar to “Islam dan Sunda Dalam Mitos”
Posting Komentar
Silakan Tinggalkan Komentar anda