Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan

09 Mei 2009

RASUL ALLAH SWT

PENGERTIAN RASUL ALLAH SWT

Rasul adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah swt dengan berkewajiban untuk mengamalkan dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

“Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiyaa : 27)


TUGAS RASUL-RASUL ALLAH SWT

1. Menyampaikan (Tabligh)

1. Menuntun manusia mengetahui pencipta alam semesta ini sebagaimana tercantum di dalam surat Al An’am (6) : 102 dan surat Ar Ra’du (13) : 16, serta menuntun manusia untuk mengenal sifat-sifat Sang Pencipta tersebut.
2. Mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah swt (QS. Al Anbiyaa’ (21) : 25, QS. An Nahl (16) : 35)
3. Memberi kabar gembira dan ancaman (QS. Al An’an (6) : 48, QS. Al Baqarah (2) : 213, QS. Al Kahfi (18) : 56)
4. Sebagai hujjah atas manusia (QS. An Nisaa (4) : 165, QS. Thaahaa (20) : 34, QS. Asy Syu’araa (26) : 108)
5. Menunjukkan manusia Jalan yang lurus (QS. Al Mu’min (40) : 38, QS. Maryam (19) : 43)

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 67”

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al Ahzab : 39)

2. Mendidik dan Membimbing



* Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskannya dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

* Meluruskan aqidah/ideology serta fikroh yang menyimpang dari Islam

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Baqarah : 213)

* Memimpin umat dengan menjalankan metode Ilahi dan sistem Robbani

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad : 26)

Inilah salah satu tugas para Rasul Allah swt yang sangat berat, karena jiwa tidak akan berjalan lurus di atas manhaj yang benar hanya dengan mengajaknya ke manhaj tersebut. Oleh sebab itulah, Rasul Allah swt adalah orang-orang yang memang telah terpilih dan memiliki sifat-sifat yang tinggi,sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran:

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj : 75)

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah." Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” (QS. Al An’am : 124)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah mereka yang memang orang-orang pilihan Allah swt yang memiliki sifat-sifat yang mulia, yang dengan sifat-sifat tersebut mereka mampu melakukan hal-hal berikut:

Yang pertama Rasul-rasul Allah swt adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi tauladan terhadap segala sesuatu yang ia serukan kepada umatnya.

Kedua, mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji, seperti sifat sabar, pemaaf, dan lapang dada, sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al An’am : 34)

Ketiga, mereka mampu untuk selalu mengadakan hubungan vertikal dengan Allah swt.

Keempat:, mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik terhadap sesama manusia, sehingga dapat memberikan tuntunan kepada mereka, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Furqan : 20 yang artinya “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”

Dan yang kelima adalah mengetahui tabiat jiwa untuk memberikan tuntunan dengan metode dan cara yang relevan denga tabiat jiwa seseorang.


SIFAT-SIFAT RASUL ALLAH SWT

1. Mereka adalah manusia biasa

Setiap Rasul yang diutus Allah swt adalah manusia biasa, sebagiamana tercantum di dalam Al Quran surat Al Israa’: 93-94. Mereka memerlukan makan, minum, (QS. Al Furqaan : 20), beristeri (QS. Ar Ra’du:38), ditimpa sehat dan juga sakit (QS. 21:83-84), sama seperti manusia lainnya.

“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul? Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?"” (QS. Al Israa’ : 93-94)

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” (QS. Al Furqaan : 20)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)[” (QS. A Ra’du : 38)

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya : 83-84)

Mengapa Allah swt memilih Rasul-Nya dari golongan manusia biasa dan bukan dari golongan malaikat atau yang lainnya? Berikut alasannya:

a) Malaikat tidak berjalan di muka bumi dengan tenang layaknya manusia, sebab mereka diciptakan bukan untuk menghuni bumi.

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI? Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul."” (QS. Al Israa : 94-95)

b) Malaikat apabila turun ke bumi harus berbentuk manusia, dan setelah itu manusia tidak bisa membedakan antara malaikat dan manusia biasa.

“Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki- laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri” (QS. Al An’am : 9)

c) Seandainya Rasul Allah swt itu malaikat dan bukan manusia, maka hal itu tidak akan ada hikmahnya, sebab Rasul Allah swt tidak dapat diutus hanya untuk menyampaikan saja, melainkan ia juga tetap tinggal bersama mausia untuk mendidik dan menuntun mereka sebagaimana tercantum di dalam Al Quran surat Al Jumu’ah : 2 dan Maryam : 41-43, serta menjadi suri teladan yang baik bagi manusia sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran surat Al Ahzab : 21, Al An’am : 89-90, Al Mumtahanah : 4.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam : 41-43)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” QS. Al Mumtahanah : 4)

2. Ma’shum (terjaga dari kesalahan)

Semua Rasul Allah swt adalah ma’shum, tidak pernah bersalah dan dalam menyampaikan risalah dari Allah swt. Yang dimaksud dengan ma’shum adalah bahwa mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebagaimana firman Allah swt berikut:

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran : 161)

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm : 1-4)

Meskipun demikian, namun tidak menutup kemungkinan bahwa para Rasul Allah tersebut juga dapat melakukan kesalahan yang berhubungan dengan ijtihad (pendapat) pribadinya yang tidak ada sangkut pautnya dengan wahyu Allah swt, seperti cemberutnya Rasulullah saw ketika Ummi Maktum yang menanyakan perihal Islam kepada beliau yang terdapat dalam firman Allah swt surat ‘Abasa : 1-7, atau ijtihad Rasulullah saw mengenai tawanan perang Badar yang telah dinyatakan oleh Allah swt di dalam surat Al Anfaal: 67-69

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa : 1-7)

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Anfaal : 67-69)

3. Sebagai suri tauladan bagi manusia

Allah swt mengutus para Rasul-Nya dari golongan manusia pilihan yang memang memiliki sifat-sifat mulia yang bisa dijadikan suri tauladan dalam kehidupan manusia.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapakny: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” (QS. Al Mumtahananh : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah para manusia pilihan yang memang mampu menjadi tauladan dalam berbagai hal dan aspek kehidupan.


RASUL-RASUL ULUL ‘AZMI

Ulul ‘Azmi secara bahasa berarti yang memiliki kemauan yang keras. Yang dimaksud dengan ulul ‘azmi adalah para Rasul yang memiliki kesabaran yagn sangat tinggi. Berikut adalah beberapa Rasul Allah swt yang termasuk ke dalam ulul ‘azmi:

1. Nabi Nuh AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

2. Nabi Ibrahim AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS. Ash Shaaffaat : 102-103)

3. Nabi Musa AS

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy Syuura : 13)

4. Nabi Isa AS

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran : 52)

5. Nabi Muhammad SAW

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al Ahzab : 7)

Begitu banyak kisah-kisah yang tertulis di dalam berbagai riwayat yang mengambarkan betapa Rasulullah Muhammad saw adalah manusia yang sangat sabar dan santun. Berikut kami berikan dua contoh riwayat yang mngisahkan tentang kesabaran Rasulullah Muhammad saw.

“Jubair bin Muth’im berkata, ketika ia bersama Rasulullah saw, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah saw berhenti sejenak dan berseru,”Berilah mantelku ini! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian “ (HR. Bukhari)

“Anas bin Malik bertutur: Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw. Saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah. Laki-laki dusun tersebut berkata, “Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.” Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, “Berilah laki-laki ini makanan apa saja,” (HR Bukhari).

Baca Selengkapnya......

Cinta dan Benci Karena Allah SWT (Al Wala dan Al Barra’)

Rasa cinta dan benci ada dalam diri setiap manusia. Perasaan cinta dan benci adalah perasaan yang wajar, mengingat perasaan ini merupakan bagian dari emosi manusia. Di suatu saat kita merasakan cinta kepada suatu hal, namun di lain waktu kita dapat juga merasakan kebencian pada hal tersebut.

Kadangkala kita sulit untuk mengendalikan perasaan cinta dan benci yang ada pada diri kita. Terlebih lagi jika perasaan tersebut lahir karena nafsu duniawi. Akibatnya, kita akan “terkungkung” oleh perasaan tersebut, tanpa dapat melepaskan diri. Inilah salah satu tipu daya syaithon untuk menjerat manusia.
Lain halnya jika perasaan cinta dan benci yang kita meiliki muncul karena Allah SWT. Hal ini justru akan dapat membuat diri kita merasa nyaman dan tenang. Cinta karena Allah SWT dikenal dengan istilah Al Wala, sedangkan benci yang datang karena Allah SWT disebut sebagai Al Barra’.

Cinta dan benci karena Allah SWT artinya melepaskan diri dari segala sesuatu yang Allah berlepas tangan darinya seperti yang difirmankan-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (Al-Mumtahanah: 4).

Allah juga tidak bertanggung jawab kepada orang-orang musyrik seperti yang difirmankan-Nya,

وَأَذَانٌ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأَكْبَرِ أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (At-Taubah: 3)

Maka setiap orang mukmin harus melepaskan diri dari orang musyrik dan kafir. Berlepas diri dalam hal ini bersifat pribadi.

Di samping itu, seorang muslim harus membebaskan diri dari segala amal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya walaupun tidak sampai pada derajat kafir, seperti perbuatan fasik dan maksiat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (Al-Hujurat: 7).

Jika seorang mukmin mempunyai keimanan sekaligus berbuat maksiat, maka kita mencintainya karena keimanannya dan kita membencinya karena kemaksiatannya. Itulah yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan kita. Kadang-kadang Anda memakan obat yang rasanya tidak enak dan Anda tidak suka rasanya, tetapi Anda tetap meminumnya karena obat itu bisa menyembuhkan penyakit.

Sebagian orang mukmin ada yang benci kepada orang yang berbuat maksiat melebihi kebenciannya kepada orang-orang kafir, ini termasuk sifat ujub (membanggakan diri sendiri) dan memutarbalikkan realitas. Orang kafir adalah musuh Allah , Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, maka kita harus membencinya dengan sepenuhnya hati kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَاداً فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Mumtahanah:1).



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Al-Maidah: 51).

Orang-orang kafir itu tidak akan ridha kepada kalian kecuali jika kalian mengikuti agama mereka seperti yang difirmankan Allah:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al-Baqarah: 120).



وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman." (Al-Baqarah: 109).

Kekafiran di sini mencakup segala macam bentuk kekafiran seperti penentangan, pengingkaran, kedustaan syirik dan ilhad.

Sedangkan dari aspek perbuatan kita harus berlepas diri dari segala amal perbuatan yang haram dan tidak boleh bagi kita mencintai amal perbuatan yang diharamkan dan tidak pula melakukannya. Kita harus berlepas diri dari orang-orang mukmin yang berbuat maksiat, tetapi kita tetap mencintainya dan menjadikannya wali karena keimananyang ada padanya.


Dinukil dari alislamu.com
Comments (1)
pertanyaan
1 Friday, 08 May 2009 18:13
rika
assalamualaikum warohmatullah...

aa,,,,,
af1 sebelumnya ana tidak memberikan komentar atau saran
tapi ana ingin bertanya tentang hukumnya nikah sirih,
ana seorang gadis yang ingin menikah, akan tetapi calon ana orang yang jauh sehingga ana agak sulit mempersiapkannya sendiri, karena keadaan yang tidak memungkinkan,,,
aa...bolehkah ana menikah sirih terlebih dahulu dengan calon ana untuk memudahkan ana mempersiapkan pernikahan,,,

Baca Selengkapnya......

Puasa Asyura

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

Dari ketiga hadist tersebut, terdapat anjuran dari Rasulullah Muhammad saw untuk melaksanakan puasa Asyura. Lantas apakah puasa asyura itu? Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan pada hari Asyura, yaitu pada tanggal 10 Muharam. Namun, untuk menyelisihi dengan umat Yahudi, RAsulullah saw juga menganjurkan untuk melakukan puasa pada tanggal 9 Muharam (puasa Tasyu’a).

Lantas mengapa Rasulullah saw memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharam? Perhatikanlah hadist berikut:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa alaihis salam berpuasa pada hari ini. Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari)

Dan dari Aisyah radhiallahu anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)


Pelaksanaan Puasa Asyura

Pada awalnya puasa Asyura dilakukan hanya pada hari asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Namun untuk membedakan umat muslim dengan umat Yahudi, maka Rasulullah bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”

Karena itu, ulama membagi Puasa Asyura menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama.

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh).

Namun yang paling afdhol adalah dengan menggabungkan Puasa Tasu’a dengan Asyura.


Keutamaan Puasa Asyura

Banyak keutamaan yang terdapat dalam Puasa Asyura. Beberapa keutamaan Puasa Asyura diantaranya adalah:

• Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan

Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.


• Menghapus dosa kecil setahun sebelumnya

Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah radhiallahu anhu,

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.


Hadist tentang Puasa Asyura

Abu Hurairah r.a berkata:

"Seorang bertanya kepada Rasulullah saw. 'Shalat manakah yang lebih utama setelah shala tfardlu? 'Nabi saw, bersabda, 'Shalat di tengah malam. 'Mereka bertanya lagi, 'Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?' Nabi saw. bersabda, 'Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram." (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

Mu'awiyah bin Abu Sufyan berkata:

"Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, 'Hari ini adalah hari Asyura dan kami tidak diwajiban berpuasa padanya. Dan aku sekarang berpuasa maka siapa yang suka, berpuasalah, dan siapa yang tidak berbukalah." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a berkata:

"Hari Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliah. Rasul juga biasa memuasakannya, dan ketika datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, 'Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa , dan siapa yang tidak, ia berbukalah." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata:

"Nabi saw. datang ke Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura'. Lantas Nabi saw. bertanya, 'Ada apa ini?' Mereka menjawab, 'hari ini merupakan hari terbaik, yaitu saat Allah membebaskan Nabi Musa a.s dan bani Israil dari kepungan musuh mereka, hingga hari itu dijadikan Nabi Musa a.s sebagai hari puasa.' Lalu Nabi saw. bersabda, 'Aku lebih berhak memuliakan hari ini dibandingkan kalian.' Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh kaum muslimin agar ikut berpuasa." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Abu Musa asy-Asy'ari r.a berkata:

"Hari Asyura itu dibesarkan oleh orang-orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya. Maka Rasulullah saw. bersabda, 'Berpuasalah kamu pada hari itu!'" (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata,
"Ketika Rasullullah saw. berpuasa hari Asyura dan memerintahkan orang agar memuasakannya, mereka berkata, 'Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudidan Nasrani.' Maka Rasulullah saw. bersabda, 'Jika datang tahun depan insya Allah, kita berpuasa pada hari ke sembilan.'Ibnu Abbas berkata,' Maka belum lagi datang tahun depan itu, Rasulullah saw. pun wafat.'" (HR. Muslim dan Abu Dawud).



Baca Selengkapnya......

Tayammum

Tayammum adalah mensucikan diri tanpa menggunakan air, hanya menggunakan tanah atau debu yang bersih. Tayammum sifatnya sama dengan berwudhu namun harus berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sesuai syariat.

Dalil disyariatkannya tayammum:

Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih): Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Mai'dah:6)

Rasulullah saw bersabda: "Bahwasanya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air (selama) sepuluh tahun.” (Shahih: Shahih Abu Dawud no: 322, Tirmidzi I: 81 no: 124, Ma’bud I: 528 no: 329. dan Nasa’i I: 171 dengan lafadz yang mirip).

Tayammum dapat dilakukan untuk menggantikan wudhu, terutama bila tidak ada air. Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam satu perjalanan, beliau sholat bersama para sahabat, ternyata, ada seorang sahabat yang mengucilkan diri (dari mereka). Maka kemudian beliau bertanya (kepadanya) ‘Apakah gerangan yang menghalangimu sholat (bersama kami)?’ Jawabnya, ‘Saya Junub dan tidak (ada) air.’ Maka Nabi saw bersabda, "Hendaklah kamu (bertayammum) dengan debu karena sesunggahnya ia cukup bagimu." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari I: 477 no: 344, Muslim I: 474 no: 682 dan Nasa’i I: 171).

Syarat-syarat diperbolehkannya tayammum sebagai berikut:

* Tidak ada air, dikarenakan sedang dalam perjalanan maupun jauh dari sumber air sementara waktu sholat telah tiba bahkan hingga hampir habis waktunya.
* Tidak dapat menggunakan air dikarenakan sakit sehingga bila terkena air dikhawatirkan kondisi badan akan memburuk.
* Jumlah air sedikit dan lebih dibutuhkan untuk menyambung hidup (minum).
* Tidak adanya alat untuk menimba/mendapatkan air, meski airnya ada dalam sumur misalnya
* Kondisi atau suhu udara yang sangat dingin yang mencapai titik maksimum

Dari Jabir, berkata, “Kami keluar dalam satu perjalanan, lalu seseorang di antara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan rukhshah bagiku untuk bertayammum?’ Maka jawab mereka, ‘Kami tidak mendapatkan rukhshah untukmu, karena engkau mampu menggunakan air. ' Kemudian ia mandi besar sehingga meninggal dunia. Kemudian tatkala kami sampai ke hadapan Rasulullah saw, hal tersebut diinformasikan kepada beliau, maka beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya, maka Allah akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya. Cukuplah baginya hanya dengan tayammum.” (Hasan: Shahih Abu Daud no: 326 dan ‘Aunul Ma’bud, I; 532 no: 332.)

Dan Amr bin Ash bahwa tatkala ia diutus (oleh Rasulullah saw ) dalam peperangan Dzatul Salasil, Ia bercerita. “Pada suatu malam yang dingin, yang suhunya mencapai titik maksimum saya ihtilam (bermimpi), lalu saya khawatir jika mandi saya akan celaka, maka tayammum lalu sholat shubuh dengan rekan-rekanku. Kemudian, tatkala, kami sampai kepada Rasulullah, mereka menceritakan hal tersebut kepada beliau lalu beliau bersabda. “Ya Amr, apakah engkau sholat bersama rekan-rekanmu dalam keadaan junub?” Maka saya jawab, “Aku ingat Firman Allah SWT. (Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian). Kemudian aku bertayamum lalu sholat.” Maka Rasulullah saw tersenyum dan tidak berkomentar sedikitpun (Shahih: ShahihAbu Dawud: no: 323, al-Fathu Rabbani II: 191 no:16, Aunul Ma’bud I: 530 no: 330 dan Mustadrakul Hakim I: 177).

Tayammum yang disyariatkan yaitu menggunakan tanah atau debu. Di dalam surat Al Mai’dah ayat 6 ditegaskan, “fatayammamu sha’ii-dan thayyiban”, yang artinya “maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Tanah yang baik dapat pula dikatakan dengan setiap debu yang baik. Oleh karena itu, dalam bertayammum cukup hanya menepukkan kedua tangan pada permukaan tanah.

Berikut ini caraatau rukun tayammum:

1. Niat
Seseorang yang akan melakukan tayammum wajib berniat di dalam hati terlebih dahulu. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Disunnahkan membaca Bismillah
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
3. Menepukkan kedua tangan ke tanah yang bersih, cukup sekali tepukan. Kemudian mengusap telapak tangan ke muka. Setelah itu mengusap telapak tangan yang satu dengan yang lain secara bergantian, dimulai dari ujung-ujung jari hingga pergelangan tangan. Disunnahkan untuk mendahulukan anggota kanan dari yang kiri.
Ammar ra berkata, “Rasulullah pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Ketika itu saya sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana berguling-gulingnya seekor binatang. Lalu saya mendatangi Rasulullah saw. Saya ceritakan kejadian itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata, “Sebenarnya cukup bagimu untuk menepukkan telapak tangan demikian.” Kemudian beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah sekali tepukan, lalu beliau tiup. Setelah itu beliau usapkan ke muka dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Sama halnya dengan dengan wudhu, seseorang yang telah bertayammum boleh mengerjakan sholat semampunya, sebanyak raka’at yang ia mau selama ia masih dalam keadaan suci. Sebagai contoh, jika seseorang yang sudah bertayammum untuk sholat dzuhur kemudian sholat ashar tiba maka ia tidak wajib tayammum lagi. Terkecuali bila setelah sholat dzuhur ia telah membatalkan sifat tayammumnya. Adapun hal-hal yang membatalkan tayammum sama dengan hal-hal yang membatalkan wudhu. Selain itu, tayammum seseorang akan batal apabila di dekatnya ada air yang cukup untuk berwudhu.

Islam memang agama yang mudah, tidak menyusahkan umatnya terutama dalam hal beribadah. Dan tayammum merupakan salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Allah swt kepada hamba-Nya yang hendak melaksanakan sholat ketika tidak ada air untuk berwudhu. Firman Allah swt dalam QS. Al Hajj ayat 78: “Dan Dia (Allah) tidaklah sekali-kali menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.”
Wallahua’lam

Baca Selengkapnya......

Bacaan Sholat

DO’A IFTITAH

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan, es, air dan salju”.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِيْ، وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِيْ لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan memegang agama yang lurus dan aku tidak tergolong orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalat, ibadah dan hidup serta matiku adalah untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan karena itu, aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kulakukan). Oleh karena itu, ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang jahat, tidak akan ada yang bisa menjauhkan aku daripadanya, kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua tangan-Mu, kejelekan tidak dinisbahkan kepada-Mu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmat-Mu, dan kepada-Mu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu”.


اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka (orang-orang Nasrani dan Yahudi) perselisihkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki”


اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore”. (Diucapkan tiga kali). “Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan dan godaan setan”


كَانَ النَّبِيُّ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ, وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ, وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ, وَلَكَ الْحَمْدُ, أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّهُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ, اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ, أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَنْتَ إِلَـهِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Apabila Nabi shalat tahajud di waktu malam, beliau membaca: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Surga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh karena itu, ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”.


DO’A RUKU’
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ

“Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung”.(Dibaca tiga kali).

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Maha Suci Engkau, ya Allah! Tuhan-ku, dan dengan pujianku pada-Mu. Ya Allah! Ampuni-lah dosaku.”

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Engkau, Tuhan Yang Maha Suci (dari kekurangan dan hal yang tidak layak bagi kebesaran-Mu), Maha Agung, Tuhan para malaikat dan Jibril.”

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ

“Ya Allah, untuk-Mu aku ruku’. Kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku pasrah. Pendengaranku, penglihatanku, otak-ku, tulangku, syarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah tunduk dengan khusyuk kepada-Mu.”

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

" Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.


DO’A BANGUN DARI RUKU’

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya.”

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah.”

مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

"(Aku memuji-Mu dengan) pujian sepenuh langit dan sepenuh bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya, sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai Tuhan yang layak dipuji dan diagungkan, Yang paling berhak dikatakan oleh seorang hamba dan kami seluruhnya adalah hamba-Mu. Ya Allah tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya (kecuali iman dan amal shalihnya), hanya dari-Mu kekayaan itu”.


DO’A SUJUD

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

“Maha Suci Tuhanku, Yang Maha Tinggi (dari segala kekurangan dan hal yang tidak layak). Dibaca tiga kali”

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Maha Suci Engkau. Ya Allah, Tuhan kami, aku memuji-Mu. Ya Allah, ampunilah dosaku.”

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Engkau Tuhan Yang Maha Suci, Maha Agung, Tuhan para malaikat dan Jibril.”

اَللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

"Ya Allah, untuk-Mulah aku bersujud, kepada-Mulah aku beriman, kepada-Mu aku menyerahkan diri, wajahku bersujud kepada Tuhan Yang menciptakannya, Yang membentuk rupanya, Yang membelah (memberikan) pendengarannya, penglihatannya, Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta”.

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ.

”Maha Suci Tuhan Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan”.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah, ampunilah seluruh dosa-ku yang kecil dan besar, yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan dengan terang-terangan dan yang tersembunyi.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu (agar selamat) dari kebencian-Mu, dan dengan keselamatan-Mu (agar terhindar) dari siksaan-Mu. Aku tidak membatasi pujian kepada-Mu. Engkau (dengan kebesaran dan keagungan-Mu) adalah sebagai-mana pujian-Mu kepada diri-Mu.”


DO’A DUDUK ANTARA DUA SUJUD

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ.

“Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِي

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, tunjukilah aku (ke jalan yang benar), cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluarga terhindar dari musibah), berilah aku rezki (yang halal) dan angkatlah derajatku.”


DO’A SUJUD TILAWAH
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ

”Bersujud wajahku kepada Tuhan yang menciptakannya, yang membelah pendengaran dan penglihatannya dengan Daya dan Kekuatan-Nya, Maha Suci Allah sebaik-baik Pencipta”.

اَللَّهُمَّ اكْتُبْ لِيْ بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَضَعْ عَنِّيْ بِهَا وِزْرًا، وَاجْعَلْهَا لِيْ عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

"Ya Allah, tulislah untukku dengan sujudku pahala di sisi-Mu dan ampunilah dengannya akan dosaku, serta jadikanlah simpanan untukku di sisi-Mu dan terimalah sujudku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Dawud”.


TASYAHUD

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”


MEMBACA SHALAWAT NABI saw SETELAH TASYAHUD

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya,sebagaimanaEngkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Berilah berkah kepada Muhammad, istri-istri dan keturunannya,sebagaimana engkau telah memberkahi kepada keluarga Ibrahim.Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

DO’A SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan kerugian.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ
”Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut nama-Mu, mensyukuri-Mu dan ibadah yang baik kepada-Mu.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari penakut, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka.”

اَللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِيْ مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِيْ، وَتَوَفَّنِيْ إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ يَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ اْلإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ

“Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang gaib dan dengan keMaha Kuasaan-Mu atas seluruh makhluk, perpanjanglah hidupku, bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku. Dan matikan aku dengan segera, bila Engkau mengetahui bahwa kematian lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku mohon kepada-Mu, agar dapat berpegang dengan kalimat hak di waktu rela atau marah. Aku minta kepada-Mu, agar aku bisa melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak akan habis dan aku minta kepada-Mu, agar diberi penyejuk mata yang tak terputus. Aku mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadha’-Mu (turun pada kehidupanku). Aku mohon kepada-Mu, kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِيْ ذُنُوْبِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu, ya Allah! Dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal tidak membutuhkan sesuatu, tapi segala sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada seorang pun yang menyamai-Mu, aku mohon kepada-Mu agar mengampuni dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، يَا بَدِيْعَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah! Aku mohon kepada-Mu. Sesungguhnya bagi-Mu segala pujian, tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi nikmat, Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Hidup, wahai Tuhan yang mengurusi segala sesuatu, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi, bahwa Engkau adalah Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, Maha Esa, tidak membutuhkan sesuatu tapi segala sesuatu butuh kepada-Mu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang menyamai-Nya.”

Baca Selengkapnya......

Sholat Dhuha

Sholat Dhuha adalah shalat sunat yang dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga jam 10.00 waktu setempat. Sholat Dhuha lebih dikenal dengan sholat sunah untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : " Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Sholat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya " ( HR.Hakim dan Thabrani ).

Cara Melaksakan Sholat Dhuha :

Sholat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal duabelas rakaat, dilakukan secara Munfarid. Sholat Dhuha dikerjakan dengan cara berikut:

* Niat didalam hati berbarengan dengan Takbiratul Ihram

* Membaca doa Iftitah

* Membaca surat al Fatihah

* Membaca satu surat Al quran

* Ruku' dan membaca tasbih tiga kali

* I'tidal dan membaca bacaanya

* Sujud pertama dan membaca tasbih tiga kali

* Duduk diantara dua sujud dan membaca bacaannya

* Sujud kedua dan membaca tasbih tiga kali

* Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir setelah selesai maka membaca salam dua kali.

Setelah selesai, kemudian bacalah do’a sholat dhuha:

ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA’UKA,
WAL BAHAA ‘A BAHAA’UKA,
WAL JAMAALA JAMAALUKA,
WAL QUWWATA QUWWATUKA,
WAL QUDRATA QUDRATUKA,
WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.
ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FISSAMAA’I FA ANZILHU,
WA IN KAANA FIL ARDHI FA AKHRIJHU,
WA IN KAANA MU’ SIRAN FA YASSIRHU
WA IN KAANA HARAAMAN FA THAHHIRHU,
WA IN KAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU
BI HAQQI DHUHAA’IKA WA BAHAA’IKAA WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA,
AATINII MAA AATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN

Artinya:

Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha Mu,
kecantikan ialah kecantikanMu,
keindahan itu keindahanMu,
kekuatan itu kekuatanMu,
kekuasaan itu kekuasaanMu,
dan perlindungan itu perlindunganMu.
Ya Allah, jika rizkiku masih diatas langit, turunkanlah,
dan jika ada didalam bumi keluarkanlah,
jika sukar mudahkanlah,
jika haram sucikanlah,
jika masih jauh dekatkanlah,
berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMu.Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMu yang sholeh

Keutamaan sholat dhuha:

* Sholat Dhuha merupakan salah satu wasiat Nabi, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, beliau berkata, “Kekasihku (Nabi Muhammad) mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dalam tiap bulan, melakukan dua rakaat sholat Dhuha dan melakukan sholat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

* Sholat Dhuha dapat mencukupi sebagai sedekah bagi tiap ruas tulang bani Adam. Dalam hadist dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Tiap pagi ada kewajiban sedekah bagi tiap ruas tulang kalian, Setiap tasbih adalah sedekah, Setiap tahmid adalah sedekah, Setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan untuk melakukan kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat tercukupi dengan melakukan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim)

* Sholat Dhuha merupakan sholatnya orang-orang yang bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah terik.

Wallahu alam


Baca Selengkapnya......

Dibalik Salat Dhuha

Dari Abu Hurairah melalui Imam Thabrani Rasulullah saw telah bersabda, “Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut pintu Dhuha. Kelak di hari kiamat, para penikmat dhuha akan diundang secara khusu. Dikatakan kepada mereka, inilah pintu masuk kalian. Masuklah dengan rahmat-Ku.”

Dari Abu Dzarr RA, dia bekata, Rasulullah SAW bersabda “Hendaklah masing2 diantara kalian setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka setiap bacaan tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) adalah sedekah, setiap bacaan takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah, dan sebagai ganti dari semua itu, cukuplah mengerjakan dua rakaat salat Dhuha” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

Dari Abu Buraidah bahwa Rasulullah SAW bersabda “Dalam tubuh manusia itu terdapat 360 ruas tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas itu”. Para sahabat bertanya: “Siapa yang kuat melaksanakan itu wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Menutup dahak di masjid dengan tanah atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah, atau sekiranya mampu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat salat Dhuha”.

Subhanallah, betapa besarnya barokah atas sholat sunnah dhuha ini. Betapa tidak, seandainya sholat dhuha tidak ada, maka kita harus melakukan sedekah untuk setiap ruas tulang tubuh kita yang jumlahnya mencapai 360 buah. Apakah kita mampu melakukannya setiap pagi? Islam memang agama yang mudah dan tidak memberatkan umatnya. Untuk meringankan perihal bersedekah untuk 360 ruas tulang badan ini, kemudian Allah memberikan jalan yang sangat mudah dan ringan, yaitu cukup dengan melakukan sholat sunnah 2 rakaat setiap pagi. Sungguh Allah Maha Bijaksana.

Hadits-hadits di atas juga memberikan anjuran kepada kita agar senantiasa memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Pentingnya sholat dhuha bagi umat muslim bukanlah hal yang diragukan dan dipertanyakan lagi. Sedemikian pentingnya sampai-sampai Allah telah bersumpah dalam beberapa ayat dalam AL Quran dengan waktu dhuha, seperti dalam surat Asy Syam. Bahkan, di dalam AL Quran juga terdapat sebuah surat yang bernama Ad Dhuha.

Yang perlu kita pahami adalah bahwa setiap kali Allah bersumpah dengan sesuatu, maka pada sesuatu tersebut tentunya terdapat rahasia yang agung dan memiliki manfaat yang besar. Maka, manakala Allah bersumpah dengan Dhuha, itu artinya banyak sekali tersimpan rahasia agung dan manfaat yang besar di dalam waktu Dhuha.

Bahkan, dalam sebuah doanya Rasulullah saw senantiasa memohon kepada Allah, “Allahumma baarik ummatii fii bukuuriha”, yang artinya adalah “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada ummatku diwaktu pagi”. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif pada waktu pagi (shubuh dan dhuha) untuk berjuang mencari rizki yang halal akan memperoleh limpahan barokah dari Allah swt. Maka dengan demikian, bagi orang-orang yang terlena dengan tidurnya hingga lupa untuk melaksanakan sholat shubuh, dan yang bermalas-malsan untuk melakukan sholat dhuha, tidak akan mendapatkan berkah pagi dari Allah swt.

Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang aktif dan bangun di waktu pagi (waktu subuh dan dhuha) untuk beribadah kepada Allah dan mencari nafkah yang halal, ia akan mendapatkan keberkahan. Sebaliknya, mereka yang terlena dalam mimpi-mimpi dan tidak sempat shalat Subuh pada waktunya, ia tidak kebagian keberkahan itu. Adapun doa yang dibaca setelah sholat dhuha adalah:

“Allâhumma innadh dhuhâ-a dhuhâ-uka wal bahâ-a bahâ-uka wal jamâla jamâluka wal quwwata quwwatuka wal qudrata qudratuka wal ‘ishmata ‘ishmatuka. Allâhumma in kâna rizqî fis samâ-i fa anzilhu wa in kâna fil ardhi fa akhrijhu wa in kâna mu’assiran fayassirhu wa in kâna haraman fathahhirhu wa in kâna ba’îdan faqarribhu bihaqqi dhuhâ-ika wabahâ-ika wajamâlia waquwwatika waqudratika âtinî mâ âtaita min ‘ibâdikash shâlihîn.”

“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, keagungan itu adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih diatas langit maka turunkanlah, dan jika di dalam bumi maka keluarkanlah, jika masih sukar maka mudahkanlah, jika rezekiku haram maka sucikanlah. Jika masih jauh maka dekatkanlah. Dengan kebenaran waktu dhuha-Mu dan keagungan-Mu, dengan kebenaran keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, dan perlindungan-Mu limpahkanlah kepada kami segenap apa yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Sholat Dhuha adalh salah satu jenis sholat sunnah yang terkenal sebagai sholat untuk menarik rizki. Hal ini sesuai dengan isi doa dari sholat tersebut, “Ya Allah, jika rezekiku masih diatas langit maka turunkanlah, dan jika di dalam bumi maka keluarkanlah, jika masih sukar maka mudahkanlah, jika rezekiku haram maka sucikanlah. Jika masih jauh maka dekatkanlah.”

Meskipun demikian, inti dari segala jenis ibadah adalah untuk mengabdi kepada Allah swt. Maka jangan sampai sholat dhuha ini hanya diorientasikan kepada pengejaran rizki saja, tetapi juga harus lebih mengarah kepada sebuah usaha yang dilakukan dalam rangka beribadah hanya kepada-Nya.

Baca Selengkapnya......

Keutamaan Shalat Berjamaah

Ibnu Umar r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Shalat berjamaah lebih dari shalat sendirian dengan dua pulh tujuh derajat.(HR. Bukhari, Muslim)

Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Shalat berjamaah berlipat ganda dari shalat sendiri dirumah atau dipasar dengan dua puluh lima lipat. Yang demikian itu karena seseorang jika menyempurnakan wudhu’ kemudian keluar ke masjid, tiada ia melangkahkan kaki selangkah melainkan terangkat satu derajat dan dihapus satu dosa dan bila ia shalat selalu didoakan oleh para malaikat selama ia ditempat shalat itu tidak berhadas, malaikat berdoa : Allahumma sholli’alaihi allahummarhamhu (Ya Allah kasihanilah dia). Dan tetap ia dianggap dalam shalat selama ia menantikan shalat.(HR. Bukhari, Muslim)

Abu Hurairah berkata : Seorang buta datang kepada Nabi saw dan berkata : Ya Rasulullah tiada seorang penuntun bagiku untuk menuntun ke masjid, maka izinkan aku shalat dirumah. Maka didizinkan oleh Rasulullah saw. Kemudian ketika orang itu telah bangun berjalan pulang dipanggil kembali oleh Nabi saw dan ditanya : Apakah kau mendengar suara adzan untuk shalat? Jawabnya : Ya. Kalau demikian kau harus datang untuk menyambut. (HR. Muslim)

Abdullah bin Ummi Maktum r.a. (tukang adzan berkata) : Ya Rasulullah kota Madinah ini banyak binatang buas dan jahat-jahat. Maka Rasulullah saw berkata : Apakah kamu mendengar : Hayya’alashsholah hayya’alalfalah. Maka datanglah kemari.(HR. Abu Dawud)

Abu Hurairah berkata : Rasululah saw bersabda : Demi Allah yang jiwaku ada di tangn-Nya, saya ingin menyuruh orang mengumpulkan kayu api, kemudian saya perintahkan mu’adzin beradzan, dan menyuruh orang menjadi imam pada orang-orang, kemudian saya pergi kepada orang-orang yang tidak datang shalat, saya bakar rumah-rumah mereka dengan mereka sekali.(HR. Bukhari, Muslim)

Ibnu Mas’ud r.a. berkata : Saya yang ingin bertemu kepada Allah sebagai seorang muslim harus menjaga benar-benar shalat pafa waktunya ketika mendengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi saw beberapa kelakuan hidayat dan menjaga shalat itu termasuk dari sunnanulhuda kelakuan-kelakuan hidayat. Andaikan kamu shalat di rumah sebagai kebiasaan ornag yang tidak suka berjamaah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu pasti kamu tersesat. Sungguh dahulu pada masa Nabi, tiada seorang tertinggal dari shalat berjamaah kecuali orang-orang munafik yang terang-terang nifaq. Sungguh ada kalanya seorang itu dihantar ke Masjid didukung oleh dua orang kanan-kirinya untuk ditegakkan dibarisan shaf.(HR. Muslim)

Abud_Darda’ r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Tiada terdapat tiga orang berkumpul baik didusun atau hutan atau kota kemudian tidak dilakukan shalat jama’ah melainkan mereka telah dijajah oleh syaithon. Maka kerjakan olehmu shalat berjamaah. Sesungguhnya serigala itu hanya dapat menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya.(HR. Abu Dawud)

Utsman bin Affan r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Siapa yang shalat isya berjamaah, seolah-olah bangun setengah malam, dan siapa yang shalat shubuh berjamaah, maka bagaikan shalat satu malam penuh.(HR. Muslim)

Keterangan : Dalam riwayat Attirmidzi : Siapa yang mengikuti shalat isya berjamaah, bagaikan shalat setengah malam, dan siapa yang shalat isya dan shubuh berjamaah maka mendapatkan pahala bagaikan orang yang bangun semalam penuh.

Dan dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah saw bersabda : Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik daripada shalat shubuh dan isya, dan andaikan mereka mengetahui pahalanya tentu mereka akan medatanginya meskipun dengan merangkak-rangkak.(HR. Bukhari, Muslim)

Baca Selengkapnya......

Solat TAHAJUD

TAHAJUD (SOLAT MALAM)- DARI PERPEKSTIF PERUBATAN

Solat tahajud ialah ibadah yang kita lakukan pada malam hari,biasanya tengah
malam atau lewat tengah malam. Solat tahajud juga dikenali juga sabagai
shalatulail.Solat ini sangat baik dilakukan terutama kepada para pemimpin
Islam kerana Rasulullah S.A.W dan para sahabat r.a tidak meninggalkan solat
ini sepanjang hayat mereka, sebagai ibadah tambahan.
Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang menggalakkan umat Islam
mengerjakan solat tahajud sebagai ibadah tambahan pada waktu malam begitu
juga terdapat beberapa hadis Nabi S.A.W. mengenai perkara ini.

TIDUR DAN SOLAT TAHAJUD

Umumnya manusia mengatakan tidur malam perlu antara enam hingga lapan jam
sehari. Tetapi pendapat ini ditolak oleh para saintis Barat seperti Dr Ray
Meddis,seorang profesor di Department of Human Sciences, England University
of Technology yang mengatakan bahawa manusia sebenarnya perlu tidur malam
selama tiga jam sahaja.
Waktu tidur boleh dibahagi kepada dua bahagian - tidur ayam dan tidur lelap.
Mimpi biasanya berlaku dalam tidur lelap (deep sleep). Manusia perlu
berlatih untuk dapat tidur lelap kerana tidur ayam adalah masa
berangan-angan yang membuang waktu sahaja. Tidur yang sebenarnya ialah
ketika tidur lelap yang mengikut kajian saintis Barat ialah selam tiga jam.
Kita merasakan bahawa tidur malam kita selalu tidak cukup. Ini kerana kita
tidak terlatih atau mengikut peraturan yang perlu diikuti ketika tidur.
Apabila seseorang athlit hendak memasuki suatu pertandingan lumba lari dia
akan berlatih hampir setahun sebelum perlumbaan itu bermula. Dengan demikian
dia ada harapan untuk memungut pingat emas. Demikian jugalah kita mesti
melatih diri kita tidur mengikut peraturan.
Mengikut kajian ahli perubatan Barat, Sebelum kita merasa hendak tidur,
mula-mula sekali kita akan merasa mengantuk ( drowsiness ) di mana suhu
badan kita akan menurun. Dengan mengatur waktu tidur dan menggunakan
jangkasuhu kita boleh latihkan diri kita untuk tidur bila perlu. Tidur Tao,
Confucious dan Sikh. Dalam perhatian penulis, mereka juga mengadakan amalan
pada tengah malam seperti 'berzikir' dan membaca kitab suci agama mereka.
Untuk mengelak dari rasa mengantuk, mereka berlatih tidur hanya lebih kurang
tiga jam atau empat jam sehari malah ada yang kurang dari itu. Antanra agama
yang dimaksudkan itu ialah agama Buddha, Kristian,Tao, Confusies dan Sikh.

PENDAPAT AHLI SASTERA BARAT

Terdapat juga ahli sastera barat yang menceritakan mengenai kelebihan
mengurangkan tidur untuk mencapai kerjaya yang cemerlang.
Bila ditanya apakah rahsia kejayaan mereka, mereka menjawab : " The woods
are lovely, dark and deep but I have promises to keep and miles to go before
I sleep."
Maksudnya " Taman itu indah, gelap dan tebal tetapi saya mempunyai temujanji
yang mesti ditunaikan dahulu sebelum saya tidur."
"The heights by great men reached and kept were not attained by sudden
fight. But while their companions sleep were toiling upwards in the
night." - Longfellow
Maksudnya " Pencapaian kerjaya yang tinggi oleh orang-orang ternama tidak
didapati serta merta tetapi mereka bekerja keras sehingga larut malam pada
waktu sahabat-sahabat mereka sedang nyenyak tidur. "
Ini jelas menunjukkan mereka meminimakan waktu tidur untuk mencapai kejayaan
dalam hidup mereka.
Sekarang kita kembali kepada perbincangan solat tahajud. Apakah kebaikan dan
kelebihan yang kita perolehi dari mengerjakan solat tahajud sedangkan ketika
itulah manusia sedang nyenyak tidur.
Dari segi fikiran logik, kita tidak akan faham bahawa suruhan Allah itu
mendatangkan kebaikan. Solat tahajud meneguhkan iman kita, jiwa kita, mental
kita untuk menghadapi masalah hidup duniawi dan lain-lain lagi yang Allah
Maha Mengetahui.
Dari segi sains perubatan pula, kita akan menyedut oksigen khusus yang wujud
di atmosfera bumi antara lebih kurang jam tiga pagi hingga terbit matahari
dan menggerakkan otot-otot di dalam badan kita ke arah menyegarkan badan dan
melicinkan gerak saliran darah. Kedua-dua oksigen dn gerak otot itu sangat
penting dalam memastikan kesihatan tubuh badan manusia. Oksigen itu hilang
dari atmosfera bumi selepas matahari terbit dan tidak datang lagi sehingga
esok pagi. Hanya manusia yang bangun pada waktu ini dapat menikmati oksigen
tersebut. Mereka yang bangun tidur lewat tidat merasa nikmat oksigen ini.

RAHSIA PERGERAKAN OTOT DALAM SOLAT

Cuba kita kaji pergerakan otot-otot kita ketika solat.Secara kasar, pada
mula kita berdiri tegak ( qiyam ) kemudian angkat kedua tangan bertakbir dan
letakkan tangan di atas pusat - kita telah membesarkan rongga dada kita
manakala paru-paru akan terasa luas serta menggerakkan otot di kedua belah
tangan.
Ketika ruku' dengan badan membongkok ke depan dan kedua tangan di atas
kepala lutut dan punggung mendatar ( parallel to the ground ) sekaligus
ianya menggerakkan ruas-ruas tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang
dan tulang tungkin.
Waktu sujud pula, seluruh berat badan terpikul sepenuhnya di atas otot-otot
kedua-dua tangan, kaki. dada, perut, punggung, leher dan otot-otot kaki.
Lihat sahaja pada waktu sujud ini berapa banyak otot dan persendian yang
kita gerakkan.
Setelah itu kita bangkit dari sujud. Kita duduk, kemudian kita sujud lagi
dan selepas itu kita berdiri kembali. Dalam gerak badan kali ini kita telah
secara automatik menggerakkan sejumlah besar otot-otot di dada , bahu,
lengan, perut, punggung, peha, kaki bahagian bawah an lain-lain otot lagi.
Selain dari itu kita juga melakukan dua macam duduk - pertama duduk antara
dua sujud dan kedua duduk tahiyat. Kedua-dua jenis duduk ini menggerakkan
tumit , pangkal peha, kelengkang, jari-jari kaki dan lain-lain. Dalam kita
memberi salam juga kita gerakkan otot-otot leher tengkuk dan lain-lain.
Kalau kita lihat dari dua perkara tersebut di atas iaitu mendapatkan oksigen
yang istimewa dan gerak otot-otot yang semuanya ini sudah tentu akan
memastikan kesihatan tubuh badan kita.
Solat tahajud juga boleh menjauhkan penyakit buah pinggang yang selalu
menyerang orang yang banyak tidur dan bangun lewat dari tidur malam.


Baca Selengkapnya......

Solat TAHAJUD



TAHAJUD (SOLAT MALAM)- DARI PERPEKSTIF PERUBATAN

Solat tahajud ialah ibadah yang kita lakukan pada malam hari,biasanya tengah
malam atau lewat tengah malam. Solat tahajud juga dikenali juga sabagai
shalatulail.Solat ini sangat baik dilakukan terutama kepada para pemimpin
Islam kerana Rasulullah S.A.W dan para sahabat r.a tidak meninggalkan solat
ini sepanjang hayat mereka, sebagai ibadah tambahan.
Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat-ayat yang menggalakkan umat Islam
mengerjakan solat tahajud sebagai ibadah tambahan pada waktu malam begitu
juga terdapat beberapa hadis Nabi S.A.W. mengenai perkara ini.

TIDUR DAN SOLAT TAHAJUD

Umumnya manusia mengatakan tidur malam perlu antara enam hingga lapan jam
sehari. Tetapi pendapat ini ditolak oleh para saintis Barat seperti Dr Ray
Meddis,seorang profesor di Department of Human Sciences, England University
of Technology yang mengatakan bahawa manusia sebenarnya perlu tidur malam
selama tiga jam sahaja.
Waktu tidur boleh dibahagi kepada dua bahagian - tidur ayam dan tidur lelap.
Mimpi biasanya berlaku dalam tidur lelap (deep sleep). Manusia perlu
berlatih untuk dapat tidur lelap kerana tidur ayam adalah masa
berangan-angan yang membuang waktu sahaja. Tidur yang sebenarnya ialah
ketika tidur lelap yang mengikut kajian saintis Barat ialah selam tiga jam.
Kita merasakan bahawa tidur malam kita selalu tidak cukup. Ini kerana kita
tidak terlatih atau mengikut peraturan yang perlu diikuti ketika tidur.
Apabila seseorang athlit hendak memasuki suatu pertandingan lumba lari dia
akan berlatih hampir setahun sebelum perlumbaan itu bermula. Dengan demikian
dia ada harapan untuk memungut pingat emas. Demikian jugalah kita mesti
melatih diri kita tidur mengikut peraturan.
Mengikut kajian ahli perubatan Barat, Sebelum kita merasa hendak tidur,
mula-mula sekali kita akan merasa mengantuk ( drowsiness ) di mana suhu
badan kita akan menurun. Dengan mengatur waktu tidur dan menggunakan
jangkasuhu kita boleh latihkan diri kita untuk tidur bila perlu. Tidur Tao,
Confucious dan Sikh. Dalam perhatian penulis, mereka juga mengadakan amalan
pada tengah malam seperti 'berzikir' dan membaca kitab suci agama mereka.
Untuk mengelak dari rasa mengantuk, mereka berlatih tidur hanya lebih kurang
tiga jam atau empat jam sehari malah ada yang kurang dari itu. Antanra agama
yang dimaksudkan itu ialah agama Buddha, Kristian,Tao, Confusies dan Sikh.

PENDAPAT AHLI SASTERA BARAT

Terdapat juga ahli sastera barat yang menceritakan mengenai kelebihan
mengurangkan tidur untuk mencapai kerjaya yang cemerlang.
Bila ditanya apakah rahsia kejayaan mereka, mereka menjawab : " The woods
are lovely, dark and deep but I have promises to keep and miles to go before
I sleep."
Maksudnya " Taman itu indah, gelap dan tebal tetapi saya mempunyai temujanji
yang mesti ditunaikan dahulu sebelum saya tidur."
"The heights by great men reached and kept were not attained by sudden
fight. But while their companions sleep were toiling upwards in the
night." - Longfellow
Maksudnya " Pencapaian kerjaya yang tinggi oleh orang-orang ternama tidak
didapati serta merta tetapi mereka bekerja keras sehingga larut malam pada
waktu sahabat-sahabat mereka sedang nyenyak tidur. "
Ini jelas menunjukkan mereka meminimakan waktu tidur untuk mencapai kejayaan
dalam hidup mereka.
Sekarang kita kembali kepada perbincangan solat tahajud. Apakah kebaikan dan
kelebihan yang kita perolehi dari mengerjakan solat tahajud sedangkan ketika
itulah manusia sedang nyenyak tidur.
Dari segi fikiran logik, kita tidak akan faham bahawa suruhan Allah itu
mendatangkan kebaikan. Solat tahajud meneguhkan iman kita, jiwa kita, mental
kita untuk menghadapi masalah hidup duniawi dan lain-lain lagi yang Allah
Maha Mengetahui.
Dari segi sains perubatan pula, kita akan menyedut oksigen khusus yang wujud
di atmosfera bumi antara lebih kurang jam tiga pagi hingga terbit matahari
dan menggerakkan otot-otot di dalam badan kita ke arah menyegarkan badan dan
melicinkan gerak saliran darah. Kedua-dua oksigen dn gerak otot itu sangat
penting dalam memastikan kesihatan tubuh badan manusia. Oksigen itu hilang
dari atmosfera bumi selepas matahari terbit dan tidak datang lagi sehingga
esok pagi. Hanya manusia yang bangun pada waktu ini dapat menikmati oksigen
tersebut. Mereka yang bangun tidur lewat tidat merasa nikmat oksigen ini.

RAHSIA PERGERAKAN OTOT DALAM SOLAT

Cuba kita kaji pergerakan otot-otot kita ketika solat.Secara kasar, pada
mula kita berdiri tegak ( qiyam ) kemudian angkat kedua tangan bertakbir dan
letakkan tangan di atas pusat - kita telah membesarkan rongga dada kita
manakala paru-paru akan terasa luas serta menggerakkan otot di kedua belah
tangan.
Ketika ruku' dengan badan membongkok ke depan dan kedua tangan di atas
kepala lutut dan punggung mendatar ( parallel to the ground ) sekaligus
ianya menggerakkan ruas-ruas tulang punggung, tulang leher, tulang pinggang
dan tulang tungkin.
Waktu sujud pula, seluruh berat badan terpikul sepenuhnya di atas otot-otot
kedua-dua tangan, kaki. dada, perut, punggung, leher dan otot-otot kaki.
Lihat sahaja pada waktu sujud ini berapa banyak otot dan persendian yang
kita gerakkan.
Setelah itu kita bangkit dari sujud. Kita duduk, kemudian kita sujud lagi
dan selepas itu kita berdiri kembali. Dalam gerak badan kali ini kita telah
secara automatik menggerakkan sejumlah besar otot-otot di dada , bahu,
lengan, perut, punggung, peha, kaki bahagian bawah an lain-lain otot lagi.
Selain dari itu kita juga melakukan dua macam duduk - pertama duduk antara
dua sujud dan kedua duduk tahiyat. Kedua-dua jenis duduk ini menggerakkan
tumit , pangkal peha, kelengkang, jari-jari kaki dan lain-lain. Dalam kita
memberi salam juga kita gerakkan otot-otot leher tengkuk dan lain-lain.
Kalau kita lihat dari dua perkara tersebut di atas iaitu mendapatkan oksigen
yang istimewa dan gerak otot-otot yang semuanya ini sudah tentu akan
memastikan kesihatan tubuh badan kita.
Solat tahajud juga boleh menjauhkan penyakit buah pinggang yang selalu
menyerang orang yang banyak tidur dan bangun lewat dari tidur malam.


Baca Selengkapnya......

08 Mei 2009

Wali Songo



"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

Baca Selengkapnya......

03 Mei 2009

Seorang Bidadari dan Pemuda


SEORANG PEMUDA DAN BIDADARI


Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majlis kami, aku pun sudah siap dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi Surga.” (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”

Laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”

Aku menjawab, “Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”

Laki-laki itu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.” Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu ’alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”

Kemudian kami berangkat menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.

Ketika kami sedang duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.” Kawan-kawanku berkata, “Sepertinya laki-laki itu sudah mulai linglung.” Dia mendekati kami lalu berkata, “Wahai Abdul Wahid, aku sudah tidak sabar lagi, aku sangat rindu pada bidadari bermata jeli.” Aku bertanya, “Wahai saudaraku, siapa yang kamu maksud dengan bidadari bermata jeli itu.” Laki-laki itu menjawab, “Ketika itu aku sedang tidur, tiba-tiba aku bermimpi ada seseorang datang menemuiku, dia berkata, ‘Pergilah kamu menemui bidadari bermata jeli.’ Seseorang dalam mimpiku itu mendorongku untuk menuju sebuah taman di pinggir sebuah sungai yang berair jernih. Di taman itu ada beberapa pelayan cantik memakai perhiasan sangat indah sampai-sampai aku tidak mampu mengungkapkan keindahannya.

Ketika para pelayan cantik itu melihatku, mereka memberi kabar gembira sambil berkata, ‘Demi Allah, suami bidadari ber-mata jeli itu telah tiba.’ Kemudian aku berkata, ‘Assalamu Alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Pelayan cantik itu menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pelayan dan pembantu bidadari bermata jeli. Silahkan terus!’

Aku pun meneruskan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah sungai yang mengalir air susu, tidak berubah warna dan rasanya, berada di sebuah taman dengan berbagai perhiasan. Di dalamnya juga terdapat pelayan bidadari cantik dengan mengenakan berbagai perhiasan. Begitu aku melihat mereka aku terpesona. Ketika mereka melihatku mereka memberi kabar gembira dan berkata kepadaku, ‘Demi Allah telah datang suami bidadari bermata jeli.’ Aku bertanya, ‘Assalamualaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, Waalaikassalam wahai waliyullah, kami ini sekedar budak dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan terus.’

Aku pun meneruskan maju, ternyata aku berada di sebuah sungai khamr berada di pinggir lembah, di sana terdapat bidadari-bidadari sangat cantik yang membuat aku lupa dengan kecantikan bidadari-bidadari yang telah aku lewati sebelumnya. Aku berkata, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, kami sekedar pembantu dan pelayan bidadari bermata jeli, silahkan maju ke depan.’

Aku berjalan maju, aku tiba di sebuah sungai yang mengalirkan madu asli di sebuah taman dengan bidadari-bidadari sangat cantik berkilauan wajahnya dan sangat jelita, membuat aku lupa dengan kecantikan para bidadari sebelumnya. Aku bertanya, ‘Assalamu alaikunna, apakah di antara kalian ada bidadari bermata jeli?’ Mereka menjawab, ‘Wahai waliyurrahman, kami ini pembantu dan pelayan bidadari jelita, silahkan maju lagi.’

Aku berjalan maju mengikuti perintahnya, aku tiba di sebuah tenda terbuat dari mutiara yang dilubangi, di depan tenda terdapat seorang bidadari cantik dengan memakai pakaian dan perhiasan yang aku sendiri tidak mampu mengungkapka keindahannya. Begitu bidadari itu melihatku dia memberi kabar gembira kepadaku dan memanggil dari arah tenda, ‘Wahai bidadari bermata jeli, suamimu datang!’

Kemudian aku mendekati kemah tersebut lalu masuk. Aku mendapati bidadari itu duduk di atas ranjang yang terbuat dari emas, bertahta intan dan berlian. Begitu aku melihatnya aku terpesona sementara itu dia menyambutku dengan berkata, ‘Selamat datang waliyurrahman, telah hampir tiba waktu kita bertemu.’ Aku pun maju untuk memeluknya, tiba-tiba ia berkata, ‘Sebentar, belum saatnya engkau memelukku karena dalam tubuhmu masih ada ruh kehidupan. Tenanglah, engkau akan berbuka puasa bersamaku di kediamanku, insya Allah. ‘

Seketika itu aku bangun dari tidurku wahai Abdul Wahid. Kini aku sudah tidak bersabar lagi, ingin bertemu dengan bidadari bermata jeli itu.”

Abdul Wahid menuturkan, “Belum lagi pembicaraan kami (cerita tentang mimpi) selesai, kami mendengar pasukan musuh telah mulai menyerang kami, maka kami pun bergegas meng-angkat senjata begitu juga lelaki itu.

Setelah peperangan berakhir, kami menghitung jumlah para korban, kami menemukan 9 orang musuh tewas dibunuh oleh lelaki itu, dan ia adalah orang ke sepuluh yang terbunuh. Ketika aku melintas di dekat jenazahnya aku lihat, tubuhnya berlumuran darah sementara bibirnya tersenyum yang mengantarkan pada akhir hidupnya.”

(SUMBER: 99 KISAH ORANG SHALIH, PENERBIT DARUL HAQ, 021-4701616, seperti dinukil dari kitab, Tanbihul Ghafilin, 395) alsofwah.or.id

Baca Selengkapnya......

Kategori

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

 

Info Blog

powered by PRBbutton TopOfBlogs Technology (Blogs) - TOP.ORG Top Computers blogs Free Download, 100% gratis, cari uang dari internet, mp3 gratis, free download mp3, sex DigNow.net Google bot last visit powered by Bots Visit Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Informasi Untuk Teknologi
Free Hit Couner

Tukeran link


REXYO74.COM
Copy kode di bawah masukan di blog anda

Followers