Sejarah Riwayat Hidup Jenghis Khan dan Kubilai Khan, Kaisar Penguasa Asia
sumber : http://www.ubb.ac.id/
Jengish Khan. Itulah nama seorang tokoh dunia yang berasal dari negeri Mongolia karena kejayaannya menguasai berbagai wilayah. Jenghis Khan juga dieja Genghis Khan, Jinghis Khan, Chinghiz Khan, Chinggis Khan, Changaiz Khan, dll, nama asalnya Temüjin, juga dieja Temuchin atau TiemuZhen, (sek. 1162 - 18 Agustus 1227) adalah khan Mongol dan ketua militer yang menyatukan bangsa Mongolia dan kemudian mendirikan Kekaisaran Mongolia dengan menaklukkan sebagian besar wilayah di Asia, termasuk utara Tiongkok (Dinasti Jin), Xia Barat, Asia Tengah, Persia, dan Mongolia. Penggantinya akan meluaskan penguasaan Mongolia menjadi kekaisaran terluas dalam sejarah manusia. Dia merupakan kakek Kubilai Khan, pemerintah Tiongkok bagi Dinasti Yuan di China.
Kehidupan awal
Jenghis Khan dilahirkan dengan nama Temüjin sekitar tahun 1162 dan 1167, anak sulung Yesügei, ketua suku Kiyad (Kiyan). Sedangkan nama keluarga dari Yesügei adalah Borjigin (Borjigid). Temujin dinamakan seperti nama ketua musuh yang ditewaskan ayahnya. Temujin lahir di daerah pegunungan Burhan Haldun, dekat dengan sungai Onon dan Herlen. Ibu Temujin, Holun, berasal dari suku Olkhunut. Kehidupan mereka berpindah-pindah layaknya seperti penduduk Turki di Asia Tengah. Saat Berumur 9 tahun, Temujin dikirimkan keluar dari sukunya karena ia akan jodohkan kepada Borte, putri dari suku Onggirat.
Ayah Temujin, Yesugei meninggal karena diracuni suku Tartar tepat pada saat ia pulang setelah mengantar Temujin ke suku Onggirat. Temujin pun dipanggil pulang untuk menemui ayahnya. Yesugei memberi pesan kepada Temujin untuk membalaskan dendamnya dan menghancurkan suku Tartar di masa depan. Kehidupan Temujin bertambah parah setelah hak kekuasaannya sebagai penerus kepala suku direbut oleh orang lain dengan alasan umur Temujin yang masih terlalu muda. Temujin dan keluarganya diusir dari sukunya karena ia ditakuti akan merebut kembali hak kekuasaannya atas suku Borjigin. Hidup Temujin dan keluarganya sangat menderita. Dengan perbekalan makanan yang sangat terbatas, Ia dan adik-adiknya hidup dengan cara berburu. Pada saat ia menginjak remaja, kepala suku Borjigin mengirimkan pasukan untuk membunuh Temujin. Temujin berhasil tertangkap dan ditawan oleh musuhnya, namun ia berhasil kabur dari tahanan dan dengan pertolongan dari orang-orang yang masih setia kepada Yesugei. Pada saat menginjak dewasa, Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri.
Latar perjuangan : Menyatukan Mongolia
Temujin mempunyai teman baik yang juga merupakan saudara angkatnya, yang bernama Jamukha. Ia pernah berkali-kali ditolong oleh Jamukha, yang merupakan keturunan dari suku Jadaran. Bersama-sama dengan saudara angkatnya, Temujin berhasil merebut kembali hak kekuasaannya atas sukunya dan juga perserikatan Mongolia yang didirikan ayahnya dahulu. Waktu demi waktu, wilayah Temujin menjadi semakin besar, yang dilakukan dengan cara menghancurkan musuh-musuhnya dan menggabungkan suku-suku dalam perserikatan Mongolia. Musuh terbesar Temujin dalam sejarah ternyata adalah saudara angkatnya sendiri, Jamukha, yang sering mengadu-domba Temujin dengan suku-suku lainnya, termasuk ayah angkat Temujin sendiri yang bernama Wang Khan. Setelah Temujin berhasil menyisihkan musuh-musuhnya dan melaksanakan perintah almarhum ayahnya, Yesugei, ia kemudian juga berhasil membalaskan kematian nenek-moyangnya, yang dibunuh oleh kerajaan Jin. Temujin kemudian diangkat menjadi Khan dengan gelar Jenghis Khan; yang artinya "Khan dari Segala-galanya".
Foto Jengis / Jenghis Khan
Foto Jenghis Khan
Dari permulaan biasa dengan pasukan klan suku yang kecil, Jenghis Khan menjadi orang yang paling berpengaruh dan ditakuti di seluruh Asia.
Memerangi kerajaan Jin
Nenek-moyang kerajaan Jin berasal dari suku Jurchen. Suku Jurchen berhasil menguasai wilayah utara China selama lebih dari 100 tahun. Hal ini akan menjadi kesulitan besar untuk Jenghis Khan dalam menunaikan tugasnya. Kerajaan Jin memiliki jumlah pasukan yang hampir mendekati jutaan jiwa (lebih dari 10 kali lipat dari pasukan Jenghis Khan pada waktu itu). Mereka hidup aman dibalik tembok kerajaan yang besar dan susah untuk diserang. Jenghis Khan berhasil meruntuhkan semangat perang dan kekuataan kerajaan Jin dalam berbagai peperangan. Salah satunya adalah perang di Tebing Serigala Liar, dimana Jenghis Khan yang hanya memiliki pasukan tidak lebih dari 100.000 tentara berhasil membabat pasukan musuh yang besarnya lebih dari setengah juta jiwa. Kejayaan Jenghis Khan terbukti dari keberhasilannya dalam merebut ibukota kerajaan Jin, Dadu, yang sekarang ini menjadi Beijing. Para seniman (artis), ahli senjata (terutama ahli senjata berat/siege weapon), dan barang berharga, semuanya dibawa kembali ke Mongolia sebagai budak dan rampasan perang.
Invasi ke Timur Tengah
Sejarah mencatat invasi yang dipimpin oleh Jenghis Khan sendiri dengan ratusan ribu tentara terpilih ke kerajaan Khawarizmi yang pada waktu itu menguasai seluruh wilayah Timur Tengah diawali dengan pedagang Mongolia yang dibunuh dan harta mereka dirampas oleh panglima Khawarizmi yang serakah. Keserakahan itu membawa bencana bagi bangsanya. Jenghis Khan berhasil menawan dan menghukum mati panglima tersebut dengan cara menuangkan logam panas ke matanya. Kerajaan Khawarizmi menderita kerugian yang tidak terhitung. Amarah Jenghis Khan bertambah setelah cucu kesayangannya terbunuh.
Populasi rakyat Timur Tengah berkurang hingga 1/10, dan wilayah Mongolia pun bertambah luas sampai kebagian barat benua Asia. Sejarah pernah mencatat bahwa pada saat Jenghis Khan mundur kembali ke Mongolia, ia sempat memerintahkan dua jendral terbaiknya, Jebe dan Subotai Baatur untuk menyelidiki daerah barat dan membasmi sisa musuh sampai ke wilayah Russia. Jebe dan Subotai pernah menginjak daratan Eropa pada saat itu, dan mengalami konfrontasi dan menghancurkan pasukan Salib yang hendak menyerang wilayah Arab. Sumber konfrontasi itu diperkirakan terjadi karena pasukan Salib dari Eropa mengira pasukan Mongol adalah pasukan Arab. Wilayah Timur Tengah kemudian dibagi-bagi dan dikuasai oleh putra-putra Jenghis Khan.
Akhir hidup Jenghis Khan
Jenghis Khan yang sudah berumur tua dipaksa untuk memimpin pasukan untuk menghancurkan kerajaan Abbasiyah untuk kesekian kalinya, namun ketidak-cakapan para pasukan dan seringnya melakukan mabuk-mabukan memperlemah pasukan militernya. Ia meninggal dalam perjalanan dan dirahasiakan oleh panglima-panglima setianya sampai musuh berhasil ditaklukan. Kuburan Jenghis Khan dirahasiakan agar tidak dirusak oleh orang lain. Kekuasaan Mongol diwariskan kepada putra ketiganya, Ogodai Khan. Alasan Jenghis Khan menunjuk putra ketiganya untuk meneruskan tahta warisnya, disebabkan oleh keahlian yang dimiliki Ogodai Khan dalam bernegoisasi, memimpin negara dan sifatnya yang tidak sombong (tidak seperti kedua kakaknya yang sering bertempur satu sama lain). Mongolia setelah Jenghis Khan
Ogodei Khan
Ogodei Khan bukan hanya berhasil dalam mempertahankan wilayah Mongolia yang telah dibangun oleh ayahnya, namun ia berhasil memperluas kekuasaannya dengan menghancurkan kerajaan Jin untuk terakhir kalinya, serta memerintahkan panglimanya untuk memperluas kekuasaan di wilayah Eropa. Wilayah Russia, Polandia, serta Hungaria berhasil dikuasai oleh Mongolia. Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Henry dari Silesia tergabung dari pasukan Hungaria, Polandia, dan Jerman (Kekaisaran Suci Romawi) yang terdiri dari pasukan Teutonik terbantai tak bersisa dalam perang di Leignitz. Sejarah Eropa mencatat kekejaman dan teror besar yang dilakukan oleh kerajaan Mongolia atas rakyat Eropa. Pasukan Mongolia baru menghentikan perluasan wilayah mereka di Eropa setelah mendengar kematian Ogodei Khan. Negara-negara Eropa memilih untuk memberikan upeti kepada kerajaan Mongolia daripada mengambil resiko untuk melawan Mongolia. Eropa bahkan memohon bantuan Mongolia untuk menghancurkan Arab.
Batu Khan
Setelah kematian Ogodei Khan, Mongolia dikuasai oleh Batu Khan yang memiliki visi lain dalam memperluas kerajaan Mongolia. Ia mengirimkan pasukan untuk menguasai tanah Arab yang sebelumnya dikuasai oleh Eropa, seperti Damaskus dan kota-kota lainnya. Pasukan Eropa mengirimkan bantuan pada saat mereka merebut kota Yerusalem. Pasukan Mongolia tercatat dalam sejarah memperluas kekuasaannya sampai ke wilayah Mesir. Setelah kematian Batu Khan, pasukan Mongolia menghentikan agresi militernya ke arah barat.
Kubilai Khan
Kubilai Khan (bahasa Mongol: ??????? ????), Khubilai Khan, Kublai Khan atau "Khan Besar Terakhir" (23 September 1215 - 18 Februari 1294) adalah kaisar Mongol (1260-1294) dan juga pendiri Dinasti Yuan (1279-1294). Terlahir sebagai putra kedua dari Tului dan Sorghatani Beki, cucu dari Jenghis Khan. Ia menggantikan kakaknya Mengke pada tahun 1260. Saudaranya yang lain, Hulagu, menguasai Persia dan mendirikan Il-Khanate.
Foto Kubilai Khan
Foto Kubilai Khan
, Khan Besar (Kha Khan) Mongol terakhir.
Masa kecil
Kubilai adalah cucu Jenghis Khan. Masa mudanya dihabiskan untuk mempelajari kebudayaan Tiongkok. Saat Mengke menjadi kaisar, Kubilai menjadi gubernur daerah Selatan Mongol. Saat menjabat, Kubilai meningkatkan hasil bumi provinsi Henan dan meningkatkan kesejahteraan sosial Xi'an.
Pada tahun 1253, Kubilai menyerang Yunnan. Kemudian ia menguasai dan menghancurkan kerajaan Dali. Pada tahun 1258, Mengke menunjuk Kubilai untuk memimpin Pasukan dari Timur untuk membantu menaklukkan Sichuan dan Yunnan. Sebelum tiba (1259), ada berita bahwa Mengke wafat. Saat itu Kubilai tetap menyerang Wuhan. Tak lama ia mendengar bahwa adiknya merebut tahta. Kubilai langsung berdamai dengan negeri Sung dan pulang ke arah utara padang Mongolia.
Kubilai dan adiknya masing-masing lalu mengangkat diri menjadi Khan. Pertempuran keduanya berlangsung selama 3 tahun, dimana Kubilai muncul sebagai pemenang. Saat itulah gubernur Yizhou, Li memberontak melawan Mongol. Kejadian ini menimbulkan rasa tidak percaya Kubilai terhadap bangsa Han. Saat berkuasa, Kubilai mengeluarkan hukum anti Han, seperti larangan gelar bagi penguasa daerah di Tiongkok.
Dinasti Yuan
Kubilai Khan kemudian mengangkat dirinya bukan saja sebagai Khan dari Kekaisaran Mongolia, namun juga sebagai Kaisar China, dan membangun Dinasti Yuan di tanah China. Ia lalu memerintahkan untuk memindahkan ibukota Mongol ke Beijing. Pada saat itu kerajaan Mongol mencapai zaman keemasannya dimana pedagang dari China dapat pergi berdagang di Eropa dengan aman. Para pedagang Eropa yang haus akan kain sutra pun dapat datang membeli barang dagangan di China dengan aman tentram. Marco Polo dari Italia tiba di China pada masa Dinasti Yuan, dan pernah dijadikan gubernur oleh Kubilai Khan. Hal inilah menandakan perdagangan langsun pertama kalinya muncul antar Eropa dan China, dimana permintaan Eropa akan porselein, ukiran, dan sutra dari China melaju tinggi.
Berbagai invasi ke negeri-negeri Asia Timur dan Asia Tenggara dilancarkan oleh pasukan-pasukan Kublai Khan. Tujuan utamanya ialah untuk memperluas pengaruh kekuasaan, melancarkan perdagangan dan menerima upeti dari negara-negara lain di Asia. Kekaisaran Dinasti Yuan mencapai batas terluasnya saat di bawah kekuasaan Kublai Khan, dengan penaklukan tuntasnya atas Dinasti Sung, yang terjadi pada tahun 1279.
Kubilai Khan tidak hanya disibukan oleh peperangan, namun ia juga mempelajari tradisi China. Ia senang dengan kehidupan dan adat istiadat China. Artis, tukang pahat, tukang masak terbaik semua dikumpulkan di Beijing untuk memacu adat-istiadat negara. Marco Polo dikabarkan juga membawa banyak kekayaan budaya seperti sutra dan resep memasak dari China ke Italia.
Invasi ke Korea
Pasukan Mongol memasuki wilayah Korea pada tahun 1216. Pada saat itu hubungan berlangsung baik dikarenakan pasukan Mongol diperintahkan untuk menghancurkan angkatan perang Khitan. Pada saat itu hubungan antar kerajaan Koryo (Korea) dan kerajaan Khitan tidaklah berlangsung baik. Angkatan perang Khitan yang tidak mendapat bantuan pangan dari kerajaan Korea mengambil langkah untuk merebut pangan dari desa-desa di Korea untuk melawan kerajaan Mongolia. Raja Koryo memutuskan untuk bergabung dengan pasukan Mongolia dalam menghancurkan pasukan Khitan. Setelah perang usai, raja Koryo membuat perjanjian damai terhadap kerajaan Mongolia dan mengirim upeti tahunan. Namun upeti tersebut dirampas oleh kawanan perampok dan duta besar Mongolia terbunuh. Hal itu mengakibatkan kerajaan Mongol marah dan mengirim pasukan penghukumnya untuk memasuki wilayah Korea yang kedua kalinya.
Pertempuran terjadi sengit pada tahun 1231. Pasukan Mongol berhasil menawan raja Korea dan mendirikan perkemahan Mongol untuk mengamankan wilayah jajahannya. Kemudian sebagian besar pasukan mereka kembali ke negeri Mongol. Namun perkemahan tersebut diserang oleh para pemberontak. Hal itu menimbulkan invasi ketiga pada tahun 1254 yang mengakhiri hidup kerajaan Korea. Pada tahun 1258 seluruh wilayah Korea berhasil dikuasai oleh kerajaan Mongol. Raja Korea yang kabur ke pulau kecil Cheju, lalu mengawinkan putrinya kepada kerajaan Mongol pada tahun 1273. Pulau itulah yang kemudian dipakai oleh pihak Mongol untuk rencana invasi ke negeri Jepang.
Invasi ke Jepang
Invasi ke tanah Jepang dilakukan jauh sebelum invasi ke kerajaan di Asia Tenggara. Invasi ini berlangsung dua kali. Invasi pertama dilakukan pada tahun 1274 dimana pasukan Mongol bergabung dengan pasukan Korea (pada umumnya budak) mendarat di teluk Hakata. Ribuan pasukan yang berangkat dari Pusan (Korea) melewati pulau Tsushima dan Iki dengan mudah. Namun pada saat mereka hendak mencapai tanah Jepang, mereka diserang oleh badai Tsunami yang menghancurkan pasukan serta pangan mereka hingga tiga per empatnya. Pasukan yang mendarat di teluk Hakata tidak memiliki pangan dan senjata yang cukup untuk melawan pasukan Jepang. Mereka dihancurkan oleh pasukan Samurai. Kaisar Jepang memerintahkan pasukan China untuk dibebaskan karena mereka adalah penduduk dari Tang (kerajaan China pada zaman dinasti Tang mempunyai hubungan baik dengan Jepang). Sedangkan pasukan Mongolia dan Korea semuanya dihukum penggal. Pasukan Mongol yang dikirim ke Jepang itu berupa gabungan dari tentara Mongolia sendiri dan budak-budak dari China dan Korea.
Foto Pasukan Samurai Suenaga menghadapi serangan panah dan bom Mongol. Karya Moko Shurai Ekotoba, ca. 1293
Foto Pasukan Samurai Suenaga menghadapi serangan panah dan bom Mongol. Karya Moko Shurai Ekotoba, ca. 1293..
Pada tahun 1281 ratusan ribu pasukan Mongol mendarat untuk kedua kalinya ditanah Jepang. Pasukan Samurai Jepang saat itu tidak mengerti dengan taktik perang Mongol. Menurut tradisi Jepang, sebelum perang dimulai, mereka harus mengadakan duel (satu lawan satu) antar panglima diatas kuda untuk mengukur kekuatan dan semangat lawan. Namun pada saat itu, tidak ada orang yang bisa berbicara bahasa Mongol dari jajaran pasukan Jepang. Pasukan Mongol sendiri tidak mengerti bahasa Jepang. Sehingga pada saat tantangan duel diteriakkan, ribuan pasukan Mongol maju menyerang secara membabi buta. Pasukan Samurai juga menderita oleh serangan Mongol yang berupa hujan anak panah. Secara tradisi pasukan Samurai berperang dengan memanah musuh secara akurat tidak seperti Mongol yang memanah musuh secara membabi buta dan dengan jumlah yang besar. Pasukan Mongol juga mengunakan "senjata guntur" (bom) untuk menghancurkan jajaran pasukan Samurai. Senjata guntur itu pertama kali diciptakan oleh kerajaan China. Senjata itu terbuat dari tanah liat dan dengan bentuk bola yang besar. Di dalam tanah liat tersebut diisi penuh dengan bubuk mesiu. Kemudian bola tanah liat itu diikat dengan tali dan diayukan kearah musuh. Ledakan bola tanah liat itu bagaikan guntur dan menakuti jajaran pasukan samurai dan kuda-kuda yang mereka tunggangi.
Setelah perang dimenangkan, ratusan ribu pasukan Mongol kembali ke perkemahan mereka di daerah pantai serta membakar desa-desa disekitarnya. Pada malam harinya terjadi Tsunami ganda yang menghancurkan perkemahan mereka serta kapal-kapal mereka lebih parah dengan apa yang terjadi pada tahun 1274. Tsunami ganda tersebut dinamakan Kamikaze, yang kemudian nama itu digunakan oleh kerajaan perang sebagai kode tempur dalam perang pasifik pada perang dunia ke 2. Pasukan Mongol yang tersisa sedikit tersebut kemudian dihancurkan oleh pasukan Jepang. Hal itu menandakan akhir invasi Mongol ke Jepang. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa kaisar Jepang mengakui kedaulatan Mongol serta mengirimkan upeti, hal itulah yang membuat Kubilai Khan puas dan mulai mengarahkan pandangannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara (Jawa, Vietnam, Kamboja, dsb).
Invasi ke Annam (Vietnam Utara)
Kubilai Khan menaruh perhatiannya ke wilayah Asia tenggara setelah ia berhasil menguasai seluruh wilayah Asia Timur. Ia mulai mengirim duta besarnya kepada puluhan kerajaan kecil untuk meminta upeti tahunan. Namun hal itu tidak berlangsung baik, karena banyak kerajaan yang tidak mengenal Mongolia dan bahkan mempermalukan duta besar mereka. Pasukan Mongolia lalu dikirimkan untuk menghancurkan kerajaan Champa, namun mereka tidak diperbolehkan untuk memasuki wilayah Annam. Hal ini menimbulkan amarah Kubilai Khan setelah pasukannya diserang secara tiba-tiba 1285. Pada tahun 1287 pasukan gelombang kedua tiba dan berhasil mengepung serta menghancurkan ibukota Annam, Hanoi. Raja Annam berhasil kabur ke selatan. Iklim tropis yang panas dan lembab di daerah itu memaksa pasukan Mongol untuk meninggalkan keberhasilan mereka setelah merebut kota Hanoi. Pada tahun 1288 panglima Mongol merasa tidak puas dan menyerang wilayah Annam untuk ketiga kalinya. Walaupun raja Annam berhasil melarikan diri, ia sadar bahwa pasukan Mongol tidak akan pernah berhenti menyerang tanpa adanya perjanjian damai. Raja Annam kemudian mengakui kekuatan Mongol dan mengirimkan upeti.
Invasi ke Champa (Vietnam Selatan) dan Kamboja
Setelah kerajaan Annam berhasil dikuasai Mongol, pasukannya mulai berekspedisi ke arah selatan. Dalam tahun yang sama, raja Champa menyerah dan menyerahkan kekuasaan ketangan Mongolia seperti raja Annam. Mereka menjadi raja boneka yang dikontrol sepenuhnya oleh Kubilai Khan.
Invasi ke Tibet dan Thailand
Invasi ini berlangsung damai. Hal tersebut dikarenakan raja dari kerajaan tersebut mengakui kedaulatan Mongolia dan setuju untuk mengirimkan upeti terhadap kerajaan Mongol. Pada saat itu, Kubilai Khan juga disibukkan oleh berbagai perang dengan kerajaan lain, sehingga tidak ada pasukan yang dikirim untuk mendiami wilayah Tibet maupun Thailand.
Invasi ke Burma
Invasi ini berlangsung dikarenakan duta besar Mongol yang dibunuh oleh raja Burma. Kerajaan Burma pada saat itu sedang dalam zaman keemasan dengan memiliki pasukan yang berlimpah. Pasukan Burma pada umumnya berupa pasukan gajah. Namun hal itu tidak menjadi tantangan besar oleh pasukan Mongolia. Pada tahun 1277 dan 1283, pasukan Burma mengadakan invasi ketanah Mongolia di China untuk menunjukkan kekuatan mereka. Pasukan penghukum yang dipimpin oleh Temur (cucu Kubilai Khan) meratakan ibukota Burma, Pagan. Raja Burma berhasil kabur dari pertempuran tersebut, namun pada tahu 1287 seluruh wilayah Burma berada dalam kekuasaan Mongolia.
Invasi ke Jawa
Pada akhir tahun 1292 angkatan perang Mongol mulai dikirim ketanah Jawa dikarenakan duta besar mereka dipermalukan oleh kerajaan Singhasari dibawah rajanya Kertanagara. Pada tahun 1293 angkatan perang tersebut mendarat di Rembang dan mulai melaju kearah timur Jawa. Pada saat mereka tiba, tanah Jawa dipenuhi dengan kehancuran yang diakibatkan oleh perang, jauh sebelum mereka tiba. Kerajaan Singhasari sendiri sudah jauh hari dihancurkan oleh kerajaan Kediri. Pasukan Mongol yang tidak tahu apa yang harus mereka perbuat itu disiasati oleh Raden Wijaya untuk berontak melawan kerajaan Kediri. Raja Jayakatwang akhirnya tertangkap, dan Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang diberi nama Majapahit. Pasukan Mongolia kemudian diserang oleh Raden Wijaya sendiri dan diusir dari tanah Jawa. Panglima Mongol yang sudah kehilangan sedikitnya 3000 tentara dan dipengaruhi dengan iklim tropis yang lembab dan panas itu memutuskan untuk berlayar kembali ke tanah Mongolia dengan berbekal emas, budak dan hasil rampasan perang lainnya dari tanah Jawa. Namun setelah ia kembali, Kubilai Khan menjadi marah setelah mendengar cerita ekspedisinya. Panglima tersebut diberi hukuman 16 cambukan dan setengah dari kekayaannya disita kerajaan.
Warisan budaya
Kubilai Khan pernah memerintahkan berbagai bumbu makanan dari pelosok dunia Eropa, India, dan Arab dikirimkan ke Beijing untuk membuat makanan baru. Pada saat itu juga, makanan terkenal dinamakan Bebek Panggang Beijing (Peking Roast Duck) ditemukan dan sampai sekarang ini makanan itu dikenal seluruh dunia sebagai salah satu makanan terenak dari China. Salah satu legenda yang umum, ialah tentang resep masak dan cara membuat mie (bakmie), yang telah dipakai oleh rakyat China selama lebih dari 4000 tahun. Dikatakan bahwa makanan aneh tersebut kemudian dinamakan Spaghetti dan menjadi makanan nasional Italia.
Walaupun Kubilai Khan gemar mempelajari budaya China, namun tidak semua panglimanya memiliki minat yang sama. Banyak sekali panglima perang atau tentara Mongol yang selalu menjarah desa-desa dan kota. Banyak pula wanita yang diculik ataupun dibawa paksa untuk dijadikan budak digurun Mongolia. Desa-desa sering kali dibakar dan penduduknya terbantai sebagai sarana olahraga atau permainan yang diadakan oleh pasukan Mongol. Adapula panglima Mongol yang memerintahkan agar setiap rumah tangga harus dikawal oleh satu tentara Mongol. Setiap orang dilarang untuk berhubungan dengan tetangganya. Hal ini menimbulkan amarah penduduk setempat, yang kemudian menyiasatkan sebuah taktik, yaitu dengan cara menyembunyikan surat rahasia kedalam kue-kue yang kemudian dibagikan kepada setiap rumah sebagai peringatan pesta bulan penuh. Dalam surat itu menyatakan tindak pemberontakan dan setiap penduduk diminta untuk membunuh tentara Mongol yang menjaga rumah mereka pada saat yang sama. Hari peringatan tersebut kemudian dijadikan hari adat-istiadat nasional di China, dan bahkan dirayakan oleh orang Tionghoa seluruh dunia sebagai Perayaan Kue Bulan - Moon Cake Festival (Perayaan Tiong Chiu).
Akhir kerajaan Mongol
Kerajaan Mongol diakhiri oleh perebutan kekuasaan dan pemberontakan diseluruh jajaran wilayah Mongolia. Setelah kehancuran Dinasti Yuan di China, Kaisar Zhu Yuanzhang dari China mendirikan kerajaan Ming dan memerintahkan untuk mengadakan operasi balas dendam terhadap Mongolia. Ibukota Mongolia diratakan dengan tanah berserta seluruh harta karunnya. Setelah kerajaan Mongolia hancur, sejarah mencatat bahwa hanya dalam 1-2 generasi, rakyat China dan Eropa hilang hubungan dan tidak mengetahui sesamanya. Setelah itu Eropa tidak pernah tahu keberadaan negeri China, dan sebaliknya. Marco Polo yang pulang ke Italia dan memberitakan ekspedisi yang ia alami selama di China, dimana ia melihat vihara yang beratapkan emas, kerajaan yang berlimpah akan makanan dan harta itu, tidak dipercayai oleh orang Eropa. Namun ada seseorang yang percaya akan legenda yang diceritakan oleh Marco Polo. Ia adalah Columbus, yang mengadakan pelayaran untuk mencari dunia yang diceritakan oleh Marco Polo, dan akhirnya mendarat di benua baru yang dinamakan benua Amerika.
29 April 2009
Sejarah Riwayat Hidup Jenghis Khan dan Kubilai Khan, Kaisar Penguasa Asia
Para Tokoh kedokteran Ahli ilmu pengobatan Tradisional Tiongkok - Cina Kuno
Para Tokoh Kedokteran Ahli Ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok - China Kuno
sumber : http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Para%20Tokoh%20Kedokteran%20Ahli%20Ilmu%20Pengobatan%20Tradisional%20Tiongkok%20-%20China%20Kuno&&nomorurut_artikel=276
Ilmu kedokteran Tiongkok zaman dulu, adalah sangat maju, dari zaman ke zaman telah muncul tidak sedikit dokter-dokter kenamaan yang tekniknya tak ada taranya, misalnya Pian Que --di akhir masa Chun Qiu (407-310 SM), Hua Tuo --di akhir Dinasti Han Timur (25-220 M), Dong Feng serta Zhang Zhong Jing (tiga orang dokter ajaib dari Jian An 196-220 M), Huang Pumi dari Dinasti Han Timur (25-220 M), Ge Hong pada Dinasti Cin Timur (317-420 M), raja obat Sun Simiao (Dinasti Tang 618-907 M), Zhu Zhen Heng dari Dinasti Yuan 1271-1368 M (salah satu dari 4 dokter besar pada Dinasti Jin dan Yuan) dan Li Shi Zhen (dokter suci/Dinasti Ming 1368-1644 M) dan sebagainya.
Prestasi ilmu kedokteran mereka sangat menonjol, dari dokter-dokter agung ini dipilih beberapa tokoh-tokoh representatif, diceritakan secara ringkas dari persembahan mereka terhadap ilmu kedokteran. Berikut ini akan diperkenalkan dokter-dokter ternama China, yang ahli dalam berbagai ilmu penyakit, termasuk penyakit wanita.
Pian Que
Pian Que (Akhir Masa Chun Qiu, 407-310 SM). Pian Que mampu mendiagnosa penyakit dengan sangat menakjubkan, cukup melihat warna dan ekspresi muka pasien saja, sudah bisa menjelaskan ikhtiar kondisi penyakitnya dan lewat empat macam pemeriksaan (meraba nadi, melihat air muka dan tubuh, mendengar suara dan mencatat bentuk kelainan) dapat mendeteksi serta memberi resep pengobatan obat dengan tepat. Beliau seorang ahli penyakit dalam, kulit dan bedah, penyakit wanita serta anak-anak, dan akupunktur.
Yang membuat orang terkagum-kagum adalah bahwa Pian Que pernah menyelesaikan operasi pencangkokan jantung dengan sukses. Berdasarkan buku Liezi Tangwenpian pada zaman Chun Qiu, di negara Lu seorang bernama Gong Hu dan di negara Zao seorang bernama Qi Ying jatuh sakit, keduanya minta berobat pada Pian Que. Setelah diperiksa dengan teliti, tidak saja berhasil mendiagnosa penyebab penyakit luar mereka, malah sampai penyakit dari watak bawaan mereka yang berbeda itu pun berhasil didiagnosa, akhirnya tidak saja mengganti jantung, tapi sekaligus mengubah watak asli mereka, berbeda dengan watak asalnya. Setelah jantungnya diganti, kehidupan mereka tetap seperti sedia kala, pembedahan tersebut terjadi di antara tiga sampai empat ratus tahun sebelum Masehi, sangat mungkin merupakan orang yang melakukan pencangkokan jantung paling dini dalam sejarah peradaban umat manusia kali ini.
Gambar foto Pian Que tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Gambar foto Pian Que tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Dewasa ini ilmu pengetahuan Barat hingga zaman modern ini baru muncul pencangkokan jantung, sedangkan tingkat keberhasilannya tidak seratus persen, setelah dilakukan pencangkokan jantung maka pasien harus minum obat, dan harus sering periksa kembali ke rumah sakit, bahkan ada yang terjadi komplikasi penyakit lain atau dilakukan pembedahan kembali karena penyakit jantungnya kambuh. Dalam proses pembedahan pada umumnya dilakukan bersama beberapa dokter dan perawat, fasilitas-fasilitas yang digunakan pun banyak sekali. Namun dalam kisah Pian Que itu dapat kita lihat bahwa pencangkokan jantung tadi dapat dilakukan sendirian terhadap dua orang pasien dalam waktu yang sama, serta tak perlu bermacam-macam peralatan ruwet yang dibutuhkan oleh teknologi maju sekarang ini. Teknik pengobatannya yang hebat dan sempurna itu sungguh membuat generasi belakangan sangat takjub.
Generasi muda pengikut Pian Que pun terwarisi oleh sebagian teknik pengobatan yang luar biasa itu, misalnya dikisahkan Kaisar Dinasti Sung Utara yang terkena penyakit akibat mengumbar nafsu birahi, pada saat dia dalam keadaan sekarat, dokter di kerajaan pun kehilangan akal, kemudian disembuhkan oleh murid Pian Que yang bernama Xu Xishan, maka Kaisar Dinasti Sung Utara itu memenuhi permintaan Xu lalu mendirikan sebuah vihara Pian Que untuk mengenang pujangga kedokteran ini.
Pada zaman Pian Que, para dokter tidak sungguh-sungguh mempelajari ilmu kedokteran untuk mensejahterakan pasien, tapi berpikir bagaimana caranya agar dapat memeras rakyat. Pian Que dengan tulus mengobati rakyat, meski membuat banyak orang marah terhadapnya tapi beliau sedikit pun tak gentar pada pejabat-pejabat yang berkuasa saat itu. Ketika Kaisar Wu Wang dari Dinasti Qin (221-206 SM) sakit keras, dokter-dokter tak berdaya lalu mencari Pian Que, tidak terduga bahwa menteri-menteri yang ada di kanan-kiri kaisar menentang, dan Pian Que pun dengan kesempatan ini menasihati sang kaisar, jika hendak menata negara sama halnya mengobati pasien jangan mendengarkan orang yang buta pengetahuan, sehingga tidak akan mungkin bisa menyembuhkan penyakit atau mengatur negara dengan baik. Dari sini dapat dilihat jiwa Pian Que yang tak gentar dan intelijensinya yang melebihi orang lain.
Pian Que dalam ilmu kedokterannya meraih sukses yang luar biasa serta reputasinya sangat besar dalam kalangan rakyat. Namun jiwa dan talentanya yang baik hati itu malah mendapat iri dengki dari segelintir orang, pada tahun 310 SM, dokter istana memerintah Li Mi mengutus orang menghadang dan membunuhnya di Gunung Chiao (barat daya Provinsi Hepei). Pian Que dokter masyhur satu generasi itu dengan demikian meninggal dunia dalam usia 97 tahun.
Sun Simiao (581-682 M, Dinasti Sui dan Dinasti Tang)
Sun Simiao memakai obat bagaikan memimpin tentara, luar biasa teliti dan akuratnya, sampai-sampai dijuluki "raja obat". Beliau sering datang ke Gunung Wutai di Kabupaten Yao, Provinsi Shan Xi untuk memetik obat dan menelitinya, maka itu dijuluki Gunung Obat. Dalam kedua buku kristalisasi dari hasil jerih payah seumur hidupnya itu yang berjudul: Qiancin Yaofang dan Qiancin Yifang ini mencatat 5.300 lebih resep obat secara rinci dan 800 lebih bahan baku obat, serta mengisahkan cara penggunaan bahan obat-obatan tersebut, bagaimana menanam dan bagaimana pula mengolah sampai menjadi obat, serta mencatat pengalaman puluhan tahunnya selama beliau menjalankan praktik klinisnya, oleh karena itu kedua buku ini dipandang sebagai ensiklopedia ilmu kedokteran yang terdini di negara China. Dalam buku itu sudah menyinggung resep untuk mengobati penyakit-penyakit seperti: kusta, disentri, diabetes, koreng, bisul (radang jaringan sel di bawah kulit), TBC, kelenjar limpa, guiter (gondok), penyakit kulit, anuria (kencing tersumbat) serta buta ayam dan sebagainya.
Gambar foto Sun Simiao tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Gambar foto Sun Simiao tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Teknik ilmu pembedahan Sun Simiao pun sangat hebat dan sempurna, beliau memakai bulu sayap ayam untuk dibikin jarum kait, sebagai alat pembedah selaput katarak, dan alat pembedah lidah yang bersambung pada rongga mulut anak-anak. Selain itu, Sun pun mempunyai sebuah monograf (resep wanita) 7 jilid, menjajagi cara pengobatan serta berbagai penyakit wanita secara mandiri, termasuk kesehatan di masa hamil, perawatan setelah bersalin, cara merawat bayi yang baru lahir serta bagaimana agar tidak terhalang waktu melahirkan (protracted labor) dan sulit melahirkan (dystocia), ini adalah sangat langka sekali dalam kondisi sosial di saat itu.
Sun Simiao selain tersohor atas keahliannya dalam teknik pengobatan, sesungguhnya yang paling disegani orang adalah karena beliau adalah seorang yang sangat menghargai etika kedokteran. Pada prakata dalam buku Qiancin Yaofang pada prakata pernah mengatakan, "Nyawa manusia itu sangat berharga, dia lebih mahal dari seribu batang emas: Jika tertolong oleh sebuah resep, maka pahalanya jauh lebih dari jumlah emas itu." Kata-kata tersebut telah tersebarluaskan oleh generasi-generasi belakangan. Pada bab Dayi Jing Cheng dalam buku tersebut, beliau lebih-lebih menitikberatkan hasratnya, jika ingin menjadi seorang dokter yang besar, maka harus mempunyai hati belas kasih, rela menolong semua orang yang menderita.
Li Shi Zhen
Karya tulis Li Shi Zhen (1518-1593 M) berjudul "Penchao Kangmu" yang paling akbar dalam hidupnya telah mencatat penjelajahan bersama muridnya selama 30 tahun ke seluruh Tiongkok antara lain: sisi selatan dan utara sepanjang Sungai Yangzi serta pegunungan yang tinggi untuk mencari bahan obat-obatan, termasuk obat dari tumbuh-tumbuhan sebanyak 1.094 jenis, obat dari hewani sebanyak 444 jenis, obat dari mineral sebanyak 275 jenis dan 79 jenis lain-lainnya, serta 10.096 resep yang berasal dari kalangan rakyat awam, juga terdapat 1.160 buah gambar, pengobatan merangkap obat-obatan, aneka gambar dilengkapi keterangan. Dia tidak sekadar sebuah adikarya dalam ilmu kedokteran saja, bahkan termasuk zologi, botani, mineralogi, spigmologi (ilmu pemeriksaan dengan urat nadi), ilmu farmakologi (ilmu membuka resep) dan prinsip ilmu kedokteran dan sebagainya.
Begitu mengawali proses praktik pengobatan maka Li Shi Zhen telah menemukan banyak sekali kesalahan dalam buku obat-obatan yang ada, oleh karena itu, beliau memutuskan menulis kembali sebuah buku baru khusus herbal. Demi buku satu ini, Li telah mencurahkan jerih payah semasa hidupnya, ia pernah melanggar aspirasinya dan menjadi seorang pegawai negeri selama setahun, tadinya mengharapkan tenaga istana kekaisaran dapat menyusun dan merevisi buku ini, tapi dari kaisar sampai kalangan rakyat, sedang gemar membuat pil mukjizat mengharapkan hidup awet muda, Li kemudian berhenti dan pulang mudik. Demi buku ini, beliau masuk ke pedalaman gunung dan hutan yang banyak ular berbisa untuk mencari tumbuhan obat-obatan, bahkan uji coba obat dengan tubuhnya sendiri, makan kecubung wulung untuk mengetes bisanya serta membuat sendiri obat penawar racunnya. Semangat dan keuletan Li sungguh sangat terpuji.
Gambar foto Li Shi Zhen tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Gambar foto Li Shi Zhen tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Selain itu, Li Shi Zhen sangat ahli dalam berbagai bidang penyakit, selain khusus mendalami obat-obatan, dalam ilmu pemeriksaan nadi, beliau pun mempunyai keahlian tersendiri telah mengemukakan tujuh meridian istimewa dan delapan meridian, menyingkap fisiologi dan potologi meridian istimewa (selain 12 meridian utama pada tubuh manusia, masih ada yang disebut meridian istimewa, jumlahnya 8). Dengan demikian, ia mempunyai kontribusi sangat menonjol terhadap ilmu pengobatan klinis dan teori meridian.
Li Shi Zhen juga seorang dokter besar yang mempunyai etika kedokteran yang luhur, sehari-hari bekerja keras untuk mempelajari prinsip ilmu pengobatan, menitikberatkan ulang pemeriksaan gejala penyakit, menganalisa dan mendiagnosa sangat seksama, penggunaan obat pun tepat, oleh karena itu ketika memberi pengobatan, kabanyakan berhasil dan sembuh, beliau juga memiliki rasa simpati tinggi terhadap penderita, sangat mendapat pemujian dari rakyat, dalam waktu beberapa tahun yang singkat saja namanya sudah dikenal di mana-mana.
Dari kisah dokter-dokter terkenal di zaman Tiongkok dahulu, kita tidak sulit untuk mengetahui bahwa ilmu kedokteran Tiongkok zaman dahulu sudah jauh melebihi ilmu pengetahuan Barat, 300-400 tahun Masehi lalu, di Tiongkok sudah muncul operasi pencangkokan jantung, 100 tahun Masehi yang lampau sudah ada penyambungan kembali tulang yang patah, cuci usus, membedah tempurung kepala, juga sudah ada obat bius, operasi katarak sudah dapat dilakukan mata oleh Sun Simiao pada tahun 500 M yang lalu. Mengenai pemakaian obat lebih merupakan suatu keterampilan yang ajaib, begitu obat diminum penyakitnya pun sembuh, pada masa itu Huatuo berhasil menyembuhkan penyakit kuning dan penyakit tifus oleh Zhang Zhong Jing, serta masih banyak penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan lainnya, seperti diabetes juga, sudah ada resep penyembuhannya.
Akupunktur -terapi satu-satunya yang dimiliki oleh Tiongkok, prestasi dokter-dokter ternama saat itu sudah tinggi sekali, sehingga pengobatan akupunktur dapat bertahan hingga sekarang. Bahkan dokter di zaman dahulu ada yang memiliki kemampuan supernormal yang melebihi orang biasa, misalnya Pian Que hanya berdasarkan pendeteksian mata saja tanpa harus meraba denyut nadi sudah mampu memaparkan kondisi penyakit pasien secara ringkas, Huatuo pun tanpa harus dengan bantuan alat apa pun, sudah bisa mengetahui tumor pada otak Caocao. Titik akupunktur pada tubuh manusia yang sering dipakai oleh ilmu pengobatan Tionghoa, yang tadinya selalu tidak diakui oleh perkembangan ilmu pengetahuan Barat sekaligus tidak dapat terdeteksi olehnya, akhirnya setelah hingga waktu dekat ini ada yang menemukan titik-titik yang mengeluarkan cahaya dan terang di posisi tertentu tubuh manusia (posisi titik akupunktur) dengan menggunakan teknik pemotretan Grian, baru terbukti secara autentik keajaiban dan sempurnanya teknik ilmu pengobatan orang Tiongkok kuno yang melebihi manusia zaman sekarang.
Selain itu, dari kisah dokter ajaib, kita dapat menemukan dalam perkembangan teknik pengobatan, dokter-dokter ajaib itu bukan hanya sekadar membaca segala buku saja, tapi keluar-masuk ke hutan belantara dan mencari kelangsungan hidup di alam raya itu. Relatif tak sama dengan dokter zaman sekarang ini yang hanya mencari metode pengobatan yang lebih baik dalam disertasi yang ditekuni sepanjang hari, tampaknya mempunyai perbedaan yang amat besar. Akhir kata, sambil kami tambahkan, bahwa dokter-dokter besar tersebut dengan dokter zaman sekarang tampaknya mempunyai perbedaan dalam karakter pribadi yang sangat besar (Apalagi bandingkan dengan Metode Pengobatan ala Batu Ponari yang sangat terkenal saat ini di Indonesia? ).
Ilmu kedokteran Tiongkok zaman dulu, adalah sangat maju, dari zaman ke zaman telah muncul tidak sedikit dokter-dokter kenamaan yang tekniknya tak ada taranya, misalnya Pian Que --di akhir masa Chun Qiu (407-310 SM), Hua Tuo --di akhir Dinasti Han Timur (25-220 M), Dong Feng serta Zhang Zhong Jing (tiga orang dokter ajaib dari Jian An 196-220 M), Huang Pumi dari Dinasti Han Timur (25-220 M), Ge Hong pada Dinasti Cin Timur (317-420 M), raja obat Sun Simiao (Dinasti Tang 618-907 M), Zhu Zhen Heng dari Dinasti Yuan 1271-1368 M (salah satu dari 4 dokter besar pada Dinasti Jin dan Yuan) dan Li Shi Zhen (dokter suci/Dinasti Ming 1368-1644 M) dan sebagainya. Prestasi ilmu kedokteran mereka sangat menonjol, dari dokter-dokter agung ini dipilih beberapa tokoh-tokoh representatif, diceritakan secara ringkas dari persembahan mereka terhadap ilmu kedokteran.
Mereka memandang hambar nama dan kepentingan, berniat menolong orang, tak suka akan kehidupan mewah yang serba berlimpah, tapi sebaliknya, jejak mereka tersebar luas di seluruh pelosok Tiongkok, mereka tak kenal susah payah, melalui perjalanan yang panjang dan berat terjun ke dalam masyarakat, walau hidup sederhana, akan tetapi hidup damai dan senang, suka membantu orang. Tujuan semula berkarya menulis buku bukan untuk mendambakan diri, untuk dikenang orang sepanjang masa, sebaliknya demi menolong penderitaan berjuta-juta rakyat. Pikiran dan semangat yang tidak demi kepentingan diri sendiri dan tanpa egois, tanpa mengejar hasrat semu dan keinginan yang akan dicapai, adalah yang justru paling dikenang oleh generasi seterusnya. Begitulah potret dokter kuno Tiongkok.
Para Tokoh Kedokteran Ahli Ilmu Pengobatan Tradisional Tiongkok - China Kuno
sumber : http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Para%20Tokoh%20Kedokteran%20Ahli%20Ilmu%20Pengobatan%20Tradisional%20Tiongkok%20-%20China%20Kuno&&nomorurut_artikel=276
Ilmu kedokteran Tiongkok zaman dulu, adalah sangat maju, dari zaman ke zaman telah muncul tidak sedikit dokter-dokter kenamaan yang tekniknya tak ada taranya, misalnya Pian Que --di akhir masa Chun Qiu (407-310 SM), Hua Tuo --di akhir Dinasti Han Timur (25-220 M), Dong Feng serta Zhang Zhong Jing (tiga orang dokter ajaib dari Jian An 196-220 M), Huang Pumi dari Dinasti Han Timur (25-220 M), Ge Hong pada Dinasti Cin Timur (317-420 M), raja obat Sun Simiao (Dinasti Tang 618-907 M), Zhu Zhen Heng dari Dinasti Yuan 1271-1368 M (salah satu dari 4 dokter besar pada Dinasti Jin dan Yuan) dan Li Shi Zhen (dokter suci/Dinasti Ming 1368-1644 M) dan sebagainya.
Prestasi ilmu kedokteran mereka sangat menonjol, dari dokter-dokter agung ini dipilih beberapa tokoh-tokoh representatif, diceritakan secara ringkas dari persembahan mereka terhadap ilmu kedokteran. Berikut ini akan diperkenalkan dokter-dokter ternama China, yang ahli dalam berbagai ilmu penyakit, termasuk penyakit wanita.
Pian Que (Akhir Masa Chun Qiu, 407-310 SM). Pian Que mampu mendiagnosa penyakit dengan sangat menakjubkan, cukup melihat warna dan ekspresi muka pasien saja, sudah bisa menjelaskan ikhtiar kondisi penyakitnya dan lewat empat macam pemeriksaan (meraba nadi, melihat air muka dan tubuh, mendengar suara dan mencatat bentuk kelainan) dapat mendeteksi serta memberi resep pengobatan obat dengan tepat. Beliau seorang ahli penyakit dalam, kulit dan bedah, penyakit wanita serta anak-anak, dan akupunktur.
Yang membuat orang terkagum-kagum adalah bahwa Pian Que pernah menyelesaikan operasi pencangkokan jantung dengan sukses. Berdasarkan buku Liezi Tangwenpian pada zaman Chun Qiu, di negara Lu seorang bernama Gong Hu dan di negara Zao seorang bernama Qi Ying jatuh sakit, keduanya minta berobat pada Pian Que. Setelah diperiksa dengan teliti, tidak saja berhasil mendiagnosa penyebab penyakit luar mereka, malah sampai penyakit dari watak bawaan mereka yang berbeda itu pun berhasil didiagnosa, akhirnya tidak saja mengganti jantung, tapi sekaligus mengubah watak asli mereka, berbeda dengan watak asalnya. Setelah jantungnya diganti, kehidupan mereka tetap seperti sedia kala, pembedahan tersebut terjadi di antara tiga sampai empat ratus tahun sebelum Masehi, sangat mungkin merupakan orang yang melakukan pencangkokan jantung paling dini dalam sejarah peradaban umat manusia kali ini.

Gambar foto Pian Que tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Dewasa ini ilmu pengetahuan Barat hingga zaman modern ini baru muncul pencangkokan jantung, sedangkan tingkat keberhasilannya tidak seratus persen, setelah dilakukan pencangkokan jantung maka pasien harus minum obat, dan harus sering periksa kembali ke rumah sakit, bahkan ada yang terjadi komplikasi penyakit lain atau dilakukan pembedahan kembali karena penyakit jantungnya kambuh. Dalam proses pembedahan pada umumnya dilakukan bersama beberapa dokter dan perawat, fasilitas-fasilitas yang digunakan pun banyak sekali. Namun dalam kisah Pian Que itu dapat kita lihat bahwa pencangkokan jantung tadi dapat dilakukan sendirian terhadap dua orang pasien dalam waktu yang sama, serta tak perlu bermacam-macam peralatan ruwet yang dibutuhkan oleh teknologi maju sekarang ini. Teknik pengobatannya yang hebat dan sempurna itu sungguh membuat generasi belakangan sangat takjub.
Generasi muda pengikut Pian Que pun terwarisi oleh sebagian teknik pengobatan yang luar biasa itu, misalnya dikisahkan Kaisar Dinasti Sung Utara yang terkena penyakit akibat mengumbar nafsu birahi, pada saat dia dalam keadaan sekarat, dokter di kerajaan pun kehilangan akal, kemudian disembuhkan oleh murid Pian Que yang bernama Xu Xishan, maka Kaisar Dinasti Sung Utara itu memenuhi permintaan Xu lalu mendirikan sebuah vihara Pian Que untuk mengenang pujangga kedokteran ini.
Pada zaman Pian Que, para dokter tidak sungguh-sungguh mempelajari ilmu kedokteran untuk mensejahterakan pasien, tapi berpikir bagaimana caranya agar dapat memeras rakyat. Pian Que dengan tulus mengobati rakyat, meski membuat banyak orang marah terhadapnya tapi beliau sedikit pun tak gentar pada pejabat-pejabat yang berkuasa saat itu. Ketika Kaisar Wu Wang dari Dinasti Qin (221-206 SM) sakit keras, dokter-dokter tak berdaya lalu mencari Pian Que, tidak terduga bahwa menteri-menteri yang ada di kanan-kiri kaisar menentang, dan Pian Que pun dengan kesempatan ini menasihati sang kaisar, jika hendak menata negara sama halnya mengobati pasien jangan mendengarkan orang yang buta pengetahuan, sehingga tidak akan mungkin bisa menyembuhkan penyakit atau mengatur negara dengan baik. Dari sini dapat dilihat jiwa Pian Que yang tak gentar dan intelijensinya yang melebihi orang lain.
Pian Que dalam ilmu kedokterannya meraih sukses yang luar biasa serta reputasinya sangat besar dalam kalangan rakyat. Namun jiwa dan talentanya yang baik hati itu malah mendapat iri dengki dari segelintir orang, pada tahun 310 SM, dokter istana memerintah Li Mi mengutus orang menghadang dan membunuhnya di Gunung Chiao (barat daya Provinsi Hepei). Pian Que dokter masyhur satu generasi itu dengan demikian meninggal dunia dalam usia 97 tahun.
Sun Simiao memakai obat bagaikan memimpin tentara, luar biasa teliti dan akuratnya, sampai-sampai dijuluki "raja obat". Beliau sering datang ke Gunung Wutai di Kabupaten Yao, Provinsi Shan Xi untuk memetik obat dan menelitinya, maka itu dijuluki Gunung Obat. Dalam kedua buku kristalisasi dari hasil jerih payah seumur hidupnya itu yang berjudul: Qiancin Yaofang dan Qiancin Yifang ini mencatat 5.300 lebih resep obat secara rinci dan 800 lebih bahan baku obat, serta mengisahkan cara penggunaan bahan obat-obatan tersebut, bagaimana menanam dan bagaimana pula mengolah sampai menjadi obat, serta mencatat pengalaman puluhan tahunnya selama beliau menjalankan praktik klinisnya, oleh karena itu kedua buku ini dipandang sebagai ensiklopedia ilmu kedokteran yang terdini di negara China. Dalam buku itu sudah menyinggung resep untuk mengobati penyakit-penyakit seperti: kusta, disentri, diabetes, koreng, bisul (radang jaringan sel di bawah kulit), TBC, kelenjar limpa, guiter (gondok), penyakit kulit, anuria (kencing tersumbat) serta buta ayam dan sebagainya.

Gambar foto Sun Simiao tokoh tabib pengobatan Tiongkok china kuno
Teknik ilmu pembedahan Sun Simiao pun sangat hebat dan sempurna, beliau memakai bulu sayap ayam untuk dibikin jarum kait, sebagai alat pembedah selaput katarak, dan alat pembedah lidah yang bersambung pada rongga mulut anak-anak. Selain itu, Sun pun mempunyai sebuah monograf (resep wanita) 7 jilid, menjajagi cara pengobatan serta berbagai penyakit wanita secara mandiri, termasuk kesehatan di masa hamil, perawatan setelah bersalin, cara merawat bayi yang baru lahir serta bagaimana agar tidak terhalang waktu melahirkan (protracted labor) dan sulit melahirkan (dystocia), ini adalah sangat langka sekali dalam kondisi sosial di saat itu.
Sun Simiao selain tersohor atas keahliannya dalam teknik pengobatan, sesungguhnya yang paling disegani orang adalah karena beliau adalah seorang yang sangat menghargai etika kedokteran. Pada prakata dalam buku Qiancin Yaofang pada prakata pernah mengatakan, "Nyawa manusia itu sangat berharga, dia lebih mahal dari seribu batang emas: Jika tertolong oleh sebuah resep, maka pahalanya jauh lebih dari jumlah emas itu." Kata-kata tersebut telah tersebarluaskan oleh generasi-generasi belakangan. Pada bab Dayi Jing Cheng dalam buku tersebut, beliau lebih-lebih menitikberatkan hasratnya, jika ingin menjadi seorang dokter yang besar, maka harus mempunyai hati belas kasih, rela menolong semua orang yang menderita.
Karya tulis Li Shi Zhen (1518-1593 M) berjudul "Penchao Kangmu" yang paling akbar dalam hidupnya telah mencatat penjelajahan bersama muridnya selama 30 tahun ke seluruh Tiongkok antara lain: sisi selatan dan utara sepanjang Sungai Yangzi serta pegunungan yang tinggi untuk mencari bahan obat-obatan, termasuk obat dari tumbuh-tumbuhan sebanyak 1.094 jenis, obat dari hewani sebanyak 444 jenis, obat dari mineral sebanyak 275 jenis dan 79 jenis lain-lainnya, serta 10.096 resep yang berasal dari kalangan rakyat awam, juga terdapat 1.160 buah gambar, pengobatan merangkap obat-obatan, aneka gambar dilengkapi keterangan. Dia tidak sekadar sebuah adikarya dalam ilmu kedokteran saja, bahkan termasuk zologi, botani, mineralogi, spigmologi (ilmu pemeriksaan dengan urat nadi), ilmu farmakologi (ilmu membuka resep) dan prinsip ilmu kedokteran dan sebagainya.
Begitu mengawali proses praktik pengobatan maka Li Shi Zhen telah menemukan banyak sekali kesalahan dalam buku obat-obatan yang ada, oleh karena itu, beliau memutuskan menulis kembali sebuah buku baru khusus herbal. Demi buku satu ini, Li telah mencurahkan jerih payah semasa hidupnya, ia pernah melanggar aspirasinya dan menjadi seorang pegawai negeri selama setahun, tadinya mengharapkan tenaga istana kekaisaran dapat menyusun dan merevisi buku ini, tapi dari kaisar sampai kalangan rakyat, sedang gemar membuat pil mukjizat mengharapkan hidup awet muda, Li kemudian berhenti dan pulang mudik. Demi buku ini, beliau masuk ke pedalaman gunung dan hutan yang banyak ular berbisa untuk mencari tumbuhan obat-obatan, bahkan uji coba obat dengan tubuhnya sendiri, makan kecubung wulung untuk mengetes bisanya serta membuat sendiri obat penawar racunnya. Semangat dan keuletan Li sungguh sangat terpuji.

Selain itu, Li Shi Zhen sangat ahli dalam berbagai bidang penyakit, selain khusus mendalami obat-obatan, dalam ilmu pemeriksaan nadi, beliau pun mempunyai keahlian tersendiri telah mengemukakan tujuh meridian istimewa dan delapan meridian, menyingkap fisiologi dan potologi meridian istimewa (selain 12 meridian utama pada tubuh manusia, masih ada yang disebut meridian istimewa, jumlahnya 8). Dengan demikian, ia mempunyai kontribusi sangat menonjol terhadap ilmu pengobatan klinis dan teori meridian.
Li Shi Zhen juga seorang dokter besar yang mempunyai etika kedokteran yang luhur, sehari-hari bekerja keras untuk mempelajari prinsip ilmu pengobatan, menitikberatkan ulang pemeriksaan gejala penyakit, menganalisa dan mendiagnosa sangat seksama, penggunaan obat pun tepat, oleh karena itu ketika memberi pengobatan, kabanyakan berhasil dan sembuh, beliau juga memiliki rasa simpati tinggi terhadap penderita, sangat mendapat pemujian dari rakyat, dalam waktu beberapa tahun yang singkat saja namanya sudah dikenal di mana-mana.
Dari kisah dokter-dokter terkenal di zaman Tiongkok dahulu, kita tidak sulit untuk mengetahui bahwa ilmu kedokteran Tiongkok zaman dahulu sudah jauh melebihi ilmu pengetahuan Barat, 300-400 tahun Masehi lalu, di Tiongkok sudah muncul operasi pencangkokan jantung, 100 tahun Masehi yang lampau sudah ada penyambungan kembali tulang yang patah, cuci usus, membedah tempurung kepala, juga sudah ada obat bius, operasi katarak sudah dapat dilakukan mata oleh Sun Simiao pada tahun 500 M yang lalu. Mengenai pemakaian obat lebih merupakan suatu keterampilan yang ajaib, begitu obat diminum penyakitnya pun sembuh, pada masa itu Huatuo berhasil menyembuhkan penyakit kuning dan penyakit tifus oleh Zhang Zhong Jing, serta masih banyak penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan lainnya, seperti diabetes juga, sudah ada resep penyembuhannya.
Akupunktur -terapi satu-satunya yang dimiliki oleh Tiongkok, prestasi dokter-dokter ternama saat itu sudah tinggi sekali, sehingga pengobatan akupunktur dapat bertahan hingga sekarang. Bahkan dokter di zaman dahulu ada yang memiliki kemampuan supernormal yang melebihi orang biasa, misalnya Pian Que hanya berdasarkan pendeteksian mata saja tanpa harus meraba denyut nadi sudah mampu memaparkan kondisi penyakit pasien secara ringkas, Huatuo pun tanpa harus dengan bantuan alat apa pun, sudah bisa mengetahui tumor pada otak Caocao. Titik akupunktur pada tubuh manusia yang sering dipakai oleh ilmu pengobatan Tionghoa, yang tadinya selalu tidak diakui oleh perkembangan ilmu pengetahuan Barat sekaligus tidak dapat terdeteksi olehnya, akhirnya setelah hingga waktu dekat ini ada yang menemukan titik-titik yang mengeluarkan cahaya dan terang di posisi tertentu tubuh manusia (posisi titik akupunktur) dengan menggunakan teknik pemotretan Grian, baru terbukti secara autentik keajaiban dan sempurnanya teknik ilmu pengobatan orang Tiongkok kuno yang melebihi manusia zaman sekarang.
Selain itu, dari kisah dokter ajaib, kita dapat menemukan dalam perkembangan teknik pengobatan, dokter-dokter ajaib itu bukan hanya sekadar membaca segala buku saja, tapi keluar-masuk ke hutan belantara dan mencari kelangsungan hidup di alam raya itu. Relatif tak sama dengan dokter zaman sekarang ini yang hanya mencari metode pengobatan yang lebih baik dalam disertasi yang ditekuni sepanjang hari, tampaknya mempunyai perbedaan yang amat besar. Akhir kata, sambil kami tambahkan, bahwa dokter-dokter besar tersebut dengan dokter zaman sekarang tampaknya mempunyai perbedaan dalam karakter pribadi yang sangat besar (Apalagi bandingkan dengan Metode Pengobatan ala Batu Ponari yang sangat terkenal saat ini di Indonesia? ).
Ilmu kedokteran Tiongkok zaman dulu, adalah sangat maju, dari zaman ke zaman telah muncul tidak sedikit dokter-dokter kenamaan yang tekniknya tak ada taranya, misalnya Pian Que --di akhir masa Chun Qiu (407-310 SM), Hua Tuo --di akhir Dinasti Han Timur (25-220 M), Dong Feng serta Zhang Zhong Jing (tiga orang dokter ajaib dari Jian An 196-220 M), Huang Pumi dari Dinasti Han Timur (25-220 M), Ge Hong pada Dinasti Cin Timur (317-420 M), raja obat Sun Simiao (Dinasti Tang 618-907 M), Zhu Zhen Heng dari Dinasti Yuan 1271-1368 M (salah satu dari 4 dokter besar pada Dinasti Jin dan Yuan) dan Li Shi Zhen (dokter suci/Dinasti Ming 1368-1644 M) dan sebagainya. Prestasi ilmu kedokteran mereka sangat menonjol, dari dokter-dokter agung ini dipilih beberapa tokoh-tokoh representatif, diceritakan secara ringkas dari persembahan mereka terhadap ilmu kedokteran.
Mereka memandang hambar nama dan kepentingan, berniat menolong orang, tak suka akan kehidupan mewah yang serba berlimpah, tapi sebaliknya, jejak mereka tersebar luas di seluruh pelosok Tiongkok, mereka tak kenal susah payah, melalui perjalanan yang panjang dan berat terjun ke dalam masyarakat, walau hidup sederhana, akan tetapi hidup damai dan senang, suka membantu orang. Tujuan semula berkarya menulis buku bukan untuk mendambakan diri, untuk dikenang orang sepanjang masa, sebaliknya demi menolong penderitaan berjuta-juta rakyat. Pikiran dan semangat yang tidak demi kepentingan diri sendiri dan tanpa egois, tanpa mengejar hasrat semu dan keinginan yang akan dicapai, adalah yang justru paling dikenang oleh generasi seterusnya. Begitulah potret dokter kuno Tiongkok.
28 April 2009
Riwayat Sejarah Sang Legenda : Abunawas
Riwayat Sejarah Sang Legenda : Abunawas
Senandung syair yang menyentuh hati itu mengalun begitu merdu. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, para jamaah shalat kerap melantunkan syair itu dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski syair itu telah berumur hampir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi.
Syair pengingat dosa dan kematian itu boleh dibilang begitu melegenda, seperti nama besar pengarangnya Abu Nuwas yang hingga kini tetap dikenang dan diperbincangkan. Abu Nuwas atau Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam.
Orang Indonesia begitu akrab dengan sosok Abu Nuwas lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nuwas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik berbungkus humor.
Penyair yang dikenal cerdik dan nyentrik itu tak diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahirannya. Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nuwas berasal dari Bursa. Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz.
Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nuwas tak pernah bertemu dengan sang ayah.
Ketika masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman bernama, Sa'ad Al-Yashira. Abu Nuwas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra, Irak. Sejak remaja, otak Abu Nuwas yang encer menarik perhatian Walibah ibnu A-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk membeli dan membebaskan Abu Nuwas dari tuannya.
Sejak itu, Abu Nuwas pun terbebas dari statusnya sebagai budak belian. Al-Hubab pun mengajarinya teologi dan tata bahasa. Abu Nuwas juga diajari menulis puisi. Sejak itulah, Abu Nuwas begitu tertarik dengan dunia sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama Khalaf Al-Ahmar di Kufah.
Sang guru memerintahkannya untuk berdiam di padang pasir bersama orang-orang badui untuk mendalami dan memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya selama satu tahun. Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan metropolis intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Sebagai penyair yang nyentrik, masa mudanya penuh dengan gaya hidup yang kontroversial, sehingga membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Ketika masih muda, puisi-puisi yang dikarangnya kerap diinspirasi khammar (minuman keras), salah satunya khumrayat (penggambaran minuman keras). Adalah Dr Muhammad al-Nuwaihi dalam kitabnya Nafsiyyat Abi Nuwas menyebutkan Abu Nawas sangat tergantung pada minuman keras.
Sebagai penyair, tingkah laku Abu Nawas bisa disebut aneh, bahkan slebor. Tingkah lakunya membuat orang selalu mengaitkan karyanya dengan gejolak jiwanya. Ditambah sikapnya yang jenaka, perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Namun, di mata Ismail bin Nubakht Abu Nuwas adalah seorang yang cerdas dan kaya pengetahuan.
''Saya tak pernah melihat orang yang mau belajar lebih luas dibanding Abu Nuwas. Tak ada seorang pun. Dengan ingatan yang sangat kaya, namun koleksi bukunya sangat sedikit. Setelah dia tutup usia, kami mencari rumahnya dan hanya menemukan sebuah buku di rumahnya,'' papar Ismail bin Nubakht dalam catatannya.
Berbekal kepiawaiannya menulis puisi, Abu Nawas bisa berkenalan dengan para pangeran. Sejak dekat para bangsawan, puisi-puisinya berubah memuja penguasa. Dalam kitab Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.
Karir Abu Nuwas di dunia sastra pun makin kinclong setelah kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun Al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya didapuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.
Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering ngocol, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.
Kedekatannya dengan khalifah berakhir di penjara. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Ia lantas di penjara. Setelah bebas, dia mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia hengkang dari Baghdad setelah kejayaan Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu, ia hijrah ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nuwas akhirnya kembali lagi ke Baghdad, setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, puisi-puisi Abu Nawas berubah menjadi religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.
Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Puisi serta syair yang diciptakannya menggambarkan perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan. Setelah 'menemukan' Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad.
sumber :http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Riwayat%20Sejarah%20Sang%20Legenda%20:%20Abunawas%20&&nomorurut_artikel=195
Mengenal Tokoh - Tokoh Psikologi
sumber : http://alamsetiadi08.wordpress.com/mengenal-tokoh-tokoh-psikologi/
Mempelajari ilmu psikologi tentu belum terasa lengkap tanpa mengenal para tokoh yang menjadi pendiri atau yang mempelopori berbagai teori psikologi yang digunakan saat ini. Selain itu demi memenuhi banyak permintaan dari para pembaca, maka kami mencoba untuk menguraikan riwayat singkat para tokoh psikologi dan hasil karya mereka, sebagai berikut:
Wilhelm Wundt
(1832 - 1920)
Wilhelm Wundt dilahirkan di Neckarau pada tanggal 18 Agustus 1832 dan wafat di Leipzig pada tanggal 31 Agustus 1920. Wilhelm Wundt seringkali dianggap sebagai bapak psikologi modern berkat jasanya mendirikan laboratorium psikologi pertama kali di Leipzig. Ia mula-mula dikenal sebagai seorang sosiolog, dokter, filsuf dan ahli hukum. Gelar kesarjanaan yang dimilikinya adalah dari bidang hukum dan kedokteran. Ia dikenal sebagai seorang ilmuwan yang banyak melakukan penelitian, termasuk penelitian tentang proses sensory (suatu proses yang dikelola oleh panca indera).
Pada tahun 1875 ia pindah ke Leipzig, Jerman, dan pada tahun 1879 ia dan murid-muridnya mendirikan laboratorium psikologi untuk pertama kalinya di kota tersebut. Berdirinya laboratorium psikologi inilah yang dianggap sebagai titik tolak berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu-ilmu induknya (Ilmu Filsafat & Ilmu Faal). Sebelum tahun 1879 memang orang sudah mengenal psikologi, tetapi belum ada orang yang menyebut dirinya sarjana psikologi. Sarjana-sarjana yang mempelajari psikologi umumnya adalah para filsuf, ahli ilmu faal atau dokter. Wundt sendiri asalnya adalah seorang dokter, tetapi dengan berdirinya laboratorium psikologinya, ia tidak lagi disebut sebagai dokter atau ahli ilmu faal, karena ia mengadakan eksperimen-eksperimen dalam bidang psikologi di laboratoriumnya.
Wundt mengabdikan diri selama 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para psikolog dan menulis lebih dari 54.000 halaman laporan penelitian dan teori. Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain: “Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung” (Persepsi yang dipengaruhi kesadaran, 1862), “Grund zuge der Physiologischen Psychologie” (Dasar fisiologis dari gejala-gejala psikologi, 1873) dan “Physiologische Psychologie”.
Ivan Pavlov
(1849 - 1936)
Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ia sebenarnya bukanlah sarjana psikologi dan tidak mau disebut sebagai ahli psikologi, karena ia adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik. Eksperimen Pavlov yang sangat terkenal di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan. Dalam penelitian tersebut ia melihat bahwa subyek penelitiannya (seekor anjing) akan mengeluarkan air liur sebagai respons atas munculnya makanan. Ia kemudian mengeksplorasi fenomena ini dan kemudian mengembangkan satu studi perilaku (behavioral study) yang dikondisikan, yang dikenal dengan teori Classical Conditioning. Menurut teori ini, ketika makanan (makanan disebut sebagai the unconditioned or unlearned stimulus - stimulus yang tidak dikondisikan atau tidak dipelajari) dipasangkan atau diikutsertakan dengan bunyi bel (bunyi bel disebut sebagai the conditioned or learned stimulus - stimulus yang dikondisikan atau dipelajari), maka bunyi bel akan menghasilkan respons yang sama, yaitu keluarnya air liur dari si anjing percobaan. Hasil karyanya ini bahkan menghantarkannya menjadi pemenang hadiah Nobel. Selain itu teori ini merupakan dasar bagi perkembangan aliran psikologi behaviourisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori tentang belajar.
Emil Kraepelin
(1856 - 1926)
Emil Kraepelin dilahirkan pada tanggal 15 Pebruari 1856 di Neustrelitz dan wafat pada tanggal 7 Oktober 1926 di Munich. Ia menajdi dokter di Wurzburg tahun 1878, lalu menjadi dokter di rumah sakit jiwa Munich. Pada tahun 1882 ia pindah ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt yang pernah menjadi kawannya semasa mahasiswa. Dari tahun 1903 sampai meninggalnya, ia menjadi profesor psikiatri di klinik psikiatri di Munich dan sekaligus menjadi direktur klinik tersebut.
Emil Kraepelin adalah psikiatris yang mempelajari gambaran dan klasifikasi penyakit-penyakit kejiwaan, yang akhirnya menjadi dasar penggolongan penyakit-penyakit kejiwaan yang disebut sebagai Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA). Emil Kraepelin percaya bahwa jika klasifikasi gejala-gejala penyakit kejiwaan dapat diidentifikasi maka asal usul dan penyebab penyakit kejiwaan tersebut akan lebih mudah diteliti.
Kraepelin menjadi terkenal terutama karena penggolongannya mengenai penyakit kejiwaan yang disebut psikosis. Ia membagi psikosis dalam dua golongan utama yaitu dimentia praecox dan psikosis manic-depresif. Dimentia praecox merupakan gejala awal dari penyakit kejiwaan yang disebut schizophrenia. Kraepelin juga dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menggunakan metode psikologi pada pemeriksaan psikiatri, antara lain menggunakan test psikologi untuk mengetahui adanya kelainan-kelainan kejiwaan. Salah satu test yang diciptakannya di kenal dengan nama test Kraepelin. Test tersebut banyak digunakan oleh para sarjana psikologi di Indonesia pada era tahun 1980an.
Sigmund Freud
(1856 - 1939)
Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg (Austria), pada masa bangkitnya Hitler, dan wafat di London pada tanggal 23 September 1939. Ia adalah seorang Jerman keturunan Yahudi. Pada usia 4 tahun ia dan keluarga pindah ke Viena, dimana ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya. Meskipun keluarganya adalah Yahudi namun Freud menganggap bahwa dirinya adalah atheist.
Semasa muda ia merupakan anak favorit ibunya. Dia adalah satu-satunya anak (dari tujuh bersaudara) yang memiliki lampu baca (sementara yang lain hanya menggunakan lilin sebagai penerang) untuk membaca pada malam hari dan satu-satunya anak yang diberi sebuah kamar dan perabotan cukup memadai untuk menunjang keberhasilan sekolahnya. Freud dikenal sebagai seorang pelajar yang jenius, menguasai 8 (delapan) bahasa dan menyelesaikan sekolah kedokteran pada usia 30 tahun. Setelah lulus ia memutuskan untuk membuka praktek di bidang neurologi.
Pada tahun 1900, Freud menerbitkan sebuah buku yang menjadi tonggak lahirnya aliran psikologi psikoanalisa. Buku tersebut berjudul Interpretation of Dreams yang masih dikenal sampai hari ini. Dalam buku ini Freud memperkenalkan konsep yang disebut “unconscious mind” (alam ketidaksadaran). Selama periode 1901-1905 dia menerbitkan beberapa buku, tiga diantaranya adalah The Psychopathology of Everyday Life (1901), Three Essays on Sexuality (1905), dan Jokes and Their relation to the Unconscious (1905).
Pada tahun 1902 dia diangkat sebagai profesor di University of Viena dan saat ini namanya mulai mendunia. Pada tahun 1905 ia mengejutkan dunia dengan teori perkembangan psikoseksual (Theory of Psychosexual Development) yang mengatakan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk melakukan sesuatu dan bahwa pada masa balita pun anak-anak mengalami ketertarikan dan kebutuhan seksual. Beberapa komponen teori Freud yang sangat terkenal adalah:
· The Oedipal Complex, dimana anak menjadi tertarik pada ibunya dan mencoba mengidentifikasi diri seperti sang ayahnya demi mendapatkan perhatian dari ibu
· Konsep Id, Ego, dan Superego
· Mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanisms)
Istilah psikoanalisa yang dikemukakan Freud sebenarnya memiliki beberapa makna yaitu: (1) sebagai sebuah teori kepribadian dan psikopatologi, (2) sebuah metode terapi untuk gangguan-gangguan kepribadian, dan (3) suatu teknik untuk menginvestigasi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan individu yang tidak disadari oleh individu itu sendiri.
Sejak the Psychoanalytic Society (Perhimpunan Masyarakat Psikoanalisa) didirikan pada tahun 1906, maka muncul beberapa ahli psikologi yang dua diantaranya adalah Alfred Adler dan Carl Jung. Pada tahun 1909 Freud mulai dikenal di seluruh dunia ketika ia melakukan perjalanan ke USA untuk menyelenggarkan Konferensi International pertama kalinya.
Freud dikenal sebagai seorang perokok berat yang akhirnya menyebabkan dia terkena kanker pada tahun 1923 dan memaksanya untuk melakukan lebih dari 30 kali operasi selama kurang lebih 16 tahun. Pada tahun 1933, partai Nazy di Jerman melakukan pembakaran terhadap buku-buku yang ditulis oleh Freud. Dan ketika Jerman menginvasi Austria tahun 1938, Freud terpaksa melarikan diri ke Inggris dan akhirnya meninggal di sana setahun kemudian.
Alfred Binet
(1857 - 1911)
Alfred Binet dikenal sebagai seorang psikolog dan juga pengacara (ahli hukum). Hasil karya terbesar dari Alfred Binet di bidang psikologi adalah apa yang sekarang ini dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Sebagai anggota komisi investigasi masalah-masalah pendidikan di Perancis, Alfred Binet mengembangkan sebuah test untuk mengukur usia mental (the mental age atau MA) anak-anak yang akan masuk sekolah. Usia mental tersebut merujuk pada kemampuan mental anak pada saat ditest dibandingkan pada anak-anak lain di usia yang berbeda. Dengan kata lain, jika seorang anak dapat menyelesaikan suatu test atau memberikan respons secara tepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diperuntukan bagi anak berusia 8 (delapan) maka ia dikatakan telah memiliki usia mental 8 (delapan) tahun.
Test yang dikembangkan oleh Binet merupakan test intelegensi yang pertama, meskipun kemudian konsep usia mental mengalami revisi sebanyak dua kali sebelum dijadikan dasar dalam test IQ. Pada tahun 1914, tiga tahun setelah Binet wafat, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan bahwa dengan membagi usia mental anak dengan usia kronological (Chronological Age atau CA), maka akan lebih memudahkan untuk memahami apa yang dimaksud “Intelligence Quotient”. Rumus ini kemudian direvisi oleh Lewis Terman, dari Stanford University, yang mengembangkan test untuk orang-orang Amerika. Lewis mengalikan formula yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan statistik inilah yang kemudian menjadi definisi atau rumus untuk menentukan Intelligensi seseorang: IQ=MA/CA*100. Test IQ inilah yang dikemudian hari dinamai Stanford-Binet Intelligence Test yang masih sangat populer sampai dengan hari ini.
Alfred Adler
(1870 - 1937)
Alfred Adler dilahirkan pada tanggal 7 Pebruari 1870 di Viena (Austria) dan wafat pada tanggal 28 Mei 1937 di Aberdeen (Skotlandia). Ia adalah seorang Yahudi yang lahir dari keluarga yang termasuk dalam status sosial ekonomi kelas menengah pada saat itu. Semasa muda Adler mengalami masa-masa yang sangat sulit. Ketika ia berusia 5 tahun ia terkena penyakit pneumonia (radang paru-paru) yang menurut dokter hampir mustahil untuk disembuhkan. Ketika mendengar kabar tersebut, Adler berjanji jika ia bisa sembuh maka ia akan menjadi dokter dan bertekad untuk memerangi penyakit yang mematikan tersebut. Akhirnya pada tahun 1895, setelah dinyatakan sembuh dari penyakitnya, ia benar-benar mewujudkan tekadnya dan berhasil meraih gelar sarjana kedokteran dari University of Vienna. Ia akhirnya dikenal sebagai seorang ahli penyakit dalam.
Tahun 1898, ia menulis buku pertamanya yang memfokuskan pada pendekatan kemanusiaan dan penyakit dari sudut pandang individu sebagai pribadi bukan membagi-baginya menjadi gejala, insting, atau dorongan-dorongan. Pada tahun 1902, ia mendapat tawaran kerjasama dari Freud untuk bergabung dalam kelompok diskusi untuk membahas masalah psikopatologi. Adler akhirnya ikut bergabung dan kemudian menjadi pengikut setia Freud, namun hubungan tersebut tidak berlangsung lama.
Pada tahun 1907, Adler menulis sebuah paper berjudul “Organ Inferiority” yang menjadi pemicu rusaknya hubungan Freud dengan Adler. Dalam tulisan tersebut Adler mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak dilengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Kelemahan-kelemahan organis inilah yang justru membuat manusia lebih unggul dari makhluk-makhluk lainnya, karena mendorong manusia untuk melakukan kompensasi (menutupi kelemahan). Adler juga tidak sependapat dengan teori psikoseksual Freud. Pada tahun 1911, Adler meninggalkan kelompok diskusi, bersama dengan delapan orang koleganya, dan mendirikan sekolah sendiri. Sejak itu ia tidak pernah bertemu lagi dengan Freud.
Carl Jung
(1875 - 1961)
Carl Gustav Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswyl (Switzerland) dan wafat pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnacht (Switzerland). Dimasa kanak-kanak Jung sudah sangat terkesan dengan mimpi, visi supernatural, dan fantasi. Ia menyakini bahwa dirinya memiliki informasi rahasia tentang masa depan dan berfantasi bahwa dirinya merupakan dua orang yang berbeda.
Jung lulus dari fakultas kedokteran di University of Basel dengan spesialisasi di bidang psikiatri pada tahun 1900. Pada tahun yang sama ia bekerja sebagai assistant di rumah sakit jiwa Zurich yang membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para pasien schizophrenic yang akhirnya membawa Jung melakukan kontak dengan Freud. Setelah membaca tulisan Freud yang berjudul Interpretation of Dreams, Jung mulai melakukan korespondensi dengan Freud. Akhirnya mereka bertemu di rumah Freud di Vienna tahun 1907. Dalam pertemuan tersebut Freud begitu terkesan dengan kemampuan intelektual Jung dan percaya bahwa Jung dapat menjadi juru bicara bagi kepentingan psikoanalisa karena ia bukan orang Yahudi. Jung juga dianggap sebagai orang yang patut menjadi penerus Freud dan berkat dukungan Freud Jung kemudian terpilih sebagai presiden pertama International Psychoanalytic Association pada tahun 1910. Namun pada tahun 1913, hubungan Jung dan Freud menjadi retak. Tahun berikutnya, Jung mengundurkan diri sebagai presiden dan bahkan keluar dari keanggotaan assosiasi tersebut. Sejak saat itu Jung dan Freud tidak pernah saling bertemu.
John Watson
(1878 - 1958)
John Broades Watson dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan wafat di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari ilmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “Animal Education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.
Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopkins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut. Antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen.
John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif dalam psikologi.
Peran Watson dalam bidang pendidikan juga cukup penting. Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkahlaku. Ia percaya bahwa dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan: “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.
Max Wertheimer
(1880 - 1943)
Max Wertheimer dilahirkan di Praha pada tanggal 15 April 1880 dan wafat pada tanggal 12 Oktober 1943 di New York. Max Wertheimer dianggap sebagai pendiri psikologi Gestalt bersama-sama dengan Wolfgang Kohler dan Kurt Koffka. Max mempelajari imu hukum selama beberapa tahun sebelum akhirnya dia mendapatkan gelar Ph.D. di bidang psikologi. Dia kemudian diangkat menjadi professor dan sempat bekerja di beberapa universitas di Jerman sebelum hijrah ke Amerika Serikat karena terjadi perang di benua Eropa pada tahun 1934. Di Amerika ia bekerja di New School for Research di New York city sampai akhir hayatnya.
Pada tahun 1910, ketika berusia 30 tahun, Max memperlihatkan ketertarikannya untuk meneliti tentang persepsi setelah ia melihat sebuah alat yang disebut “stroboscope” (benda berbentuk kotak yang diberi alat untuk melihat ke dalamkotak tersebut) di toko mainan anak-anak. Setelah melakukan beberapa penelitian dengan alat tersebut, dia mengembangkan teori tentang persepsi yang sering disebut dengan teori Gestalt.
Dalam bukunya yang berjudul “Investigation of Gestalt Theory” (1923), Wertheimer mengemukakan hukum-hukum Gestalt sebagai berikut:
· Hukum Kedekatan (law of proximity): hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas.
· Hukum Ketertutupan (law of closure): Hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri.
· Hukum Kesamaan (law of equivalence): hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas.
Henry A. Murray
(1893 - 1988)
Henry Alexander Murray dilahirkan di New York pada tanggal 13 Mei 1893 dan meninggal pada tahun 1988. Sama seperti pandangan psikoanalisa, Henry Murray juga berpendapat bahwa kepribadian akan dapat lebih mudah dipahami dengan cara menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang (unconscious mind). Murray menjadi professor psikologi di Harvard University dan mengajar disana lebih dari 30 tahun.
Peranan Murray di bidang psikologi adalah dalam bidang diagnosa kepribadian dan teori kepribadian. Hasil karya terbesarnya yang sangat terkenal adalah teknik evaluasi kepribadian dengan metode proyeksi yang disebut dengan “Thematic Apperception Test (TAT)”. Test TAT ini terdiri dari beberapa buah gambar yang setiap gambar mencerminkan suatu situasi dengan suasana tertentu. Gambar-gambar ini satu per satu ditunjukkan kepada orang yang diperiksa dan orang itu diminta untuk menyampaikan pendapatnya atau kesannya terhadap gambar tersebut. Secara teoritis dikatakan bahwa orang yang melihat gambar-gambar dalam test itu akan memproyeksikan isi kepribadiannya dalam cerita-ceritanya.
Jean Piaget
(1896 - 1980)
Jean Piaget dilahirkan di Neuchatel (Switzerland) pada tahun 1896 dan meninggal di Geneva dalam usia 84 tahun pada tahun 1981. Pada usia 10 tahun ia sudah memulai karirnya sebagai peneliti dan penulis. Piaget sangat tertarik pada ilmu biology dan ia menulis paper tentang albino sparrow (burung gereja albino) yang semakin membuatnya tertarik untuk mendalami ilmu alam.
Piaget memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1918 di universitas Neuchatel dalam bidang ilmu hewan. Pada tahun 1925 ia mulai menunjukkan minatnya pada bidang filsafat dan pada tahun 1929 ia diangkat menjadi profesor dalam “Scientific Thought” di Jeneva. Ia mulai terjun dalam dunia psikologi pada tahun 1940 dengan menjadi direktur laboratorium psikologi di Universitas Jeneva. Lalu kemudian ia juga terpilih sebagai ketua dari “Swiss Society for Psychologie”.
Piaget adalah seorang tokoh yang amat penting dalam bidang psikologi perkembangan. Teori-teorinya dalam psikologi perkembangan yang mengutamakan unsur kesadaran (kognitif) masih dianut oleh banyak orang sampai hari ini. Teori-teori, metode-metode dan bidang-bidang penelitian yang dilakukan Piaget dianggap sangat orisinil, tidak sekedar melanjutkan hal-hal yang sudah terlebih dahulu ditemukan orang lain.
Selama masa jabatannya sebagai profesor di bidang psikologi anak, Piaget banyak melakukan penelitian tentang Genetic Epistemology (ilmu pengetahuan tentang genetik). Ketertarikan Piaget untuk menyelidiki peran genetik dan perkembangan anak, akhirnya menghasilkan suatu mahakarya yang dikenal dengan nama Theory of Cognitive Development (Teori Perkembangan Kognitif).
Dalam teori perkembangan kognitif, Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan.
Carl Rogers
(1902 - 1987)
Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931.
Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society.
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.
Hasil karya Rogers yang paling terkenal dan masih menjadi literatur sampai hari ini adalah metode konseling yang disebut Client-Centered Therapy. Dua buah bukunya yang juga sangat terkenal adalah Client-Centered Therapy(1951) dan On Becoming a Person (1961).
Erik Erikson
(1902 - 1994)
Erik Homburger Erikson dilahirkan di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1902. Ayahnya adalah seorang keturunan Denmark dan Ibunya seorang Yahudi. Erikson belajar psikologi pada Anna Freud (putri dari Sigmund Freud) di Vienna Psycholoanalytic Institute selama kurun waktu tahun 1927-1933. Pada tahun 1933 Erikson pindah ke Denmark dan disana ia mendirikan pusat pelatihan psikoanalisa (psychoanalytic training center). Pada tahun 1939 ia pindah ke Amerika serikat dan menjadi warga negara tersebut, dimana ia sempat mengajar di beberapa universitas terkenal seperti Harvard, Yale, dan University of California di Berkley.
Erik Erikson sangat dikenal dengan tulisan-tulisannya di bidang psikologi anak. Berangkat dari teori tahap-tahap perkembangan psikoseksual dari Freud yang lebih menekankan pada dorongan-dorongan seksual, Erikson mengembangkan teori tersebut dengan menekankan pada aspek-aspek perkembangan sosial. Dia mengembangkan teori yang disebut theory of Psychosocial Development (teori perkembangan psikososial) dimana ia membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan.
Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Erikson dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, diantaranya adalah: (1) Young Man Luther: A Study in Psychoanalysis and History (1958), (2) Insight and Responsibility (1964), dan Identity: Youth and Crisis (1968).
Burrhus F. Skinner
(1904 - 1990)
Burrhus Frederic Skinner dilahirkan di sebuah kota kecil bernama Susquehanna, Pennsylvania, pada tahun 1904 dan wafat pada tahun 1990 setelah terserang penyakit leukemia. Skinner dibesarkan dalam keluarga sederhana, penuh disiplin dan pekerja keras. Ayahnya adalah seorang jaksa dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Skinner mendapat gelar Bachelor di Inggris dan berharap bahwa dirinya dapat menjadi penulis. Semasa bersekolah memang ia sudah menulis untuk sekolahnya, tetapi ia menempatkan dirinya sebagai outsider (orang luar), menjadi atheist, dan sering mengkritik sekolahnya dan agama yang menjadi panutan sekolah tersebut. Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia pindah ke Greenwich Village di New York City dan masih berharap untuk dapat menjadi penulis dan bekerja di sebuah surat kabar.
Pada tahun 1931, Skinner menyelesaikan sekolahnya dan memperoleh gelar sarjana psikologi dari Harvard University. Setahun kemudian ia juga memperoleh gelar doktor (Ph.D) untuk bidang yang sama. Pada tahun 1945, ia menjadi ketua fakultas psikologi di Indiana University dan tiga tahun kemudian ia pindah ke Harvard dan mengajar di sana sepanjang karirnya. Meskipun Skinner tidak pernah benar-benar menjadi penulis di surat kabar seperti yang diimpikannya, ia merupakan salah satu psikolog yang paling banyak menerbitkan buku maupun artikel tentang teori perilaku/tingkahlaku, reinforcement dan teori-teori belajar.
Skinner adalah salah satu psikolog yang tidak sependapat dengan Freud. Menurut Skinner meneliti ketidaksadaran dan motif tersembunyi adalah suatu hal yang percuma karena sesuatu yang bisa diteliti dan diselidiki hanya perilaku yang tampak/terlihat. Oleh karena itu, ia juga tidak menerima konsep tentang self-actualization dari Maslow dengan alasan hal tersebut merupakan suatu ide yang abstrak belaka.
Skinner memfokuskan penelitian tentang perilaku dan menghabiskan karirnya untuk mengembangkan teori tentang Reinforcement. Dia percaya bahwa perkembangan kepribadian seseorang, atau perilaku yang terjadi adalah sebagai akibat dari respond terhadap adanya kejadian eksternal. Dengan kata lain, kita menjadi seperti apa yang kita inginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita inginkan tersebut. Bagi Skinner hal yang paling penting untuk membentuk kepribadian seseorang adalah melalui Reward & Punishment. Pendapat ini tentu saja amat mengabaikan unsur-unsur seperti emosi, pikiran dan kebebasan untuk memilih sehingga Skinner menerima banyak kritik.
Abraham Maslow
(1908 - 1970)
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya. Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya, terutama ibunya.
Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:
Kebutuhan untuk aktualisasi diri
Kebutuhan untuk dihargai
Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
Kebutuhan fisiologis / dasar
Hirarki Kebutuhan Maslow
Hans Eysenck
(1916 - 1997)
Hans Jurgen Eysenck dilahirkan di Berlin, Jerman, pada tahun 1916. Kedua orangtuanya adalah selebritis yang sangat berharap bahwa Eysenck kelak dapat menjadi seorang aktor. Pada usia 2 tahun Eysenck terpaksa dibesarkan oleh neneknya karena orangtuanya bercerai.
Setelah tamat SMU Eysenck memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri karena ia merasa tidak senang dengan Regim Nazi. Ia memang meninggalkan Jerman dan akhirnya menetap di Inggris, dimana ia memperoleh gelar Ph.D. di bidang psikologi dari University of London. Sejak saat itu ia telah menulis lebih dari 50 buku dan 600 artikel penelitian dengan berbagai topik. Oleh sebab itu, oleh para pengkritiknya ia sering dianggap sebagai seorang yang serba bisa dan ahli membuat teori (meskipun banyak juga teori yang didukung oleh hasil penelitiannya).
Eysenck adalah seorang ahli teori biologi dan hal ini membuatnya terinspirasi untuk melakukan penelitian pada komponen-komponen biologis dari kepribadian. Dia mengatakan bahwa intelegensi merupakan sesuatu yang diturunkan sejak lahir. Ia juga memperkenalkan konsep ekstroversi (introversi-ekstraversi) dan neurotisme (neurotik-stabil) sebagai dua dimensi dasar kepribadian. Dia percaya bahwa karakteristik kepribadian dapat diuraikan berdasarkan dua dimensi tersebut, yang disebutnya dengan “Supertraits”.
Albert Bandura
(1925 - )
Albert Bandura dilahirkan pada tahun 1925 di Alberta, Canada. Dia memperoleh gelar Master di bidang psikologi pada tahun 1951 dan setahun kemudian ia juga meraih gelar doktor (Ph.D). Setahun setelah lulus, ia bekerja di Standford University.
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory), salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari pikiran, pemahaman dan evaluasi. Albert Bandura menjabat sebagai ketua APA pada tahun 1974 dan pernah dianugerahi penghargaan Distinguished Scientist Award pada tahun 1972.
