10 Mei 2009

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Kota Cirebon - Jawa Barat - Indonesia

A. Selayang Pandang

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Cirebon yang dibangun sekitar tahun 1480 M. Pembangunan masjid ini semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan. Selain dikenal dengan nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa, masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Cirebon.



Konon, pembangunan masjid ini melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Djati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Djati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdiri dari dua ruangan, yaitu beranda dan ruangan utama. Untuk menuju ruangan utama, terdapat sembilan pintu, yang melambangkan Wali Songo.

B. Keistimewaan

Masyarakat Cirebon tempo dulu terdiri dari berbagai etnik. Hal ini dapat dilihat pada arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang memadukan gaya Demak, Majapahit, dan Cirebon.

Kekhasan masjid ini terletak pada atapnya yang tidak memiliki memolo berupa kubah, sebagaimana yang lazim ditemui pada atap masjid-masjid di Pulau Jawa. Konon, dahulunya masjid ini punya kubah. Namun, saat azan pitu (tujuh) shalat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubahnya tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar azan pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Pada bagian mihrab masjid, pengunjung dapat melihat ukiran berbentuk bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Konon, ubin tersebut dipasang oleh Sunan Gunung Djati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau banyu cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

C. Lokasi

Masjid Sang Cipta Rasa terletak di Jalan Keraton Kasepuhan No. 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Tepatnya, berada di sebelah barat alun-alun Keraton Kasepuhan.

D. Akses

Dari Jakarta menuju Cirebon, pengunjung dapat menggunakan bus, travel, atau kereta api. Transportasi serupa juga dapat digunakan pengunjung yang datang dari Bandung menuju Cirebon. Sesampainya di Cirebon, pengunjung dapat naik angkutan kota atau ojek menuju lokasi masjid.

E. Harga Tiket

Pengunjung tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kawasan Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdapat pusat informasi pariwisata, pramuwisata, beranda untuk istirahat, dan MCK. Tidak jauh dari lokasi masjid, pengunjung dengan mudah dapat menemukan kios wartel, voucher isi ulang pulsa, warung makan, sentra oleh-oleh dan cinderamata, serta wisma dan hotel dengan berbagai tipe.

(Yusriandi Pagarah/wm/36/03-08)
__________

Sumber Foto: lemburkuring2007.wordpress.com

Dibaca 2.825 kali



Baca Selengkapnya......

Tari Topeng

A. Selayang Pandang



Tari Topeng merupakan tarian tradisional yang berkembang di Cirebon, Jawa Barat. Disebut Tari Topeng karena para penari menutupi wajahnya dengan topeng ketika menari. Tarian ini biasanya dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe. Gerakan Tari Topeng yang dimainkan oleh para penari dalam setiap pertunjukan berbeda-beda, tergantung pada tema tiap tarian.

Pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

B. Keistimewaan



Gerakan tangan yang lemah lembut oleh para penari yang cantik, yang diiringi dengan dominasi alunan musik rebab dan kendang merupakan ciri khas dari pementasan Tari Topeng. Selain itu, berbagai macam busana yang dipakai (toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng) yang berwarna kuning, hijau, dan merah semakin menambah indah tarian yang dibawakan.

Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.

Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari. Gerakan-gerakan tersebut merupakan bentuk tarian pembuka dalam pementasan Tari Topeng.

Contoh pertunjukkan Tari Topeng lainnya, yang memadukan seni tari, musik, dan drama adalah Tari Topeng dengan cerita Ratu Kencana Wungu, seorang ratu yang menolak cinta Prabu Minakjingga. Dalam tarian ini, salah satu penarinya berperan sebagai Ratu Kencana Wungu dengan memakai topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Sedangkan penari lainnya, berperan sebagai Prabu Minakjingga dengan memakai topeng warna merah yang menggambarkan karakter dari Prabu Minakjingga yaitu berangasan (tempramental) dan tidak sabaran.

Dalam cerita Ratu Kencana Wungu tersebut, nampak bahwa Tari Topeng mampu menyimbolkan berbagai macam karakter seseorang, dalam hal ini: kepribadian, kebijaksanan, kepemimpinan, cinta, angkara murka, dan aspek kehidupan lainnya. Berbagai macam simbol itu terdapat pada topeng yang dipakai, alunan musik pengiringnya, dan gerakan para penarinya yang berposisi memerankan tokoh dalam tema cerita yang dimainkannya itu.

Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu, di samping berbagai macam media kesenian lainnya, yaitu gamelan, angklung, wayang kulit, renteng, brai, reog, dan berokan.

C. Lokasi



Tari Topeng berkembang di Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan tarian ini, dapat berkunjung ke kota tersebut pada acara-acara besar yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat maupun oleh masyarakat pada acara-acara pernikahan, khitanan, selamatan rumah, dan lain-lain.

D. Akses

Untuk dapat menyaksikan Tari Topeng ini, wisatawan dapat dengan mudah menuju lokasi pertunjukan dengan menggunakan angkutan umum (bus) dari Terminal Cirebon. Di terminal ini, banyak bus dan angkutan kota yang dapat mengantarkan wisatawan menuju ke lokasi pertunjukan.

E. Harga Tiket

Wisatawan yang ingin menyaksikan Tari Topeng tidak dipungut biaya.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Cirebon adalah salah satu wilayah di Propinsi Jawa Barat yang memiliki berbagai macam hotel dan restoran, baik kelas melati sampai hotel berbintang. Di kota ini banyak juga restoran yang menjual aneka jenis makanan dan minuman khas dari berbagai kota di Indonesia. Terdapat juga kios-kios penjaja oleh-oleh khas Daerah Cirebon sebagai bingkisan keluarga maupun kolega di rumah.

(Junardi/wm/23/10-08)

__________

Sumber Foto: http://ejavanica.blogspot.com

Dibaca 6.496 kali



Baca Selengkapnya......

Power Supply ASUS G Series

Power Supply ASUS G Series Menghadirkan Keistimewaan Daya yang Stabil untuk Aktivitas Bermain Game yang Terpercaya dan Efisien




Taipei, Taiwan; 23 April 2009 – ASUS, produsen terdepan untuk power supply, telah merilis power supply G Series terbaru. Mencakup kedua versi 1000W dan 850W, G Series memungkinkan pengguna untuk mencapai performa tegangan tinggi yang stabil secara mudah. Dilengkapi dengan inovasi tercanggih dan mampu memberikan daya tegangan tinggi yang konstan dan dapat diandalkan, power supply tercanggih ini dapat disesuaikan untuk kebutuhan hardware saat ini yang selalu berubah untuk overcloking—dimana stabilitas dan performa tinggi daya adalah yang terpenting.

Overclocking Ekstrim Sekaligus Mempertahankan Efisiensi Energi yang Luar Biasa
Dengan sertifikasi spesifikasi 80 Plus (efisiensi daya hingga 86%), G Series mampu menghasilkan output daya stabil tingkat tinggi, bahkan pada saat overclocking. Produk ini juga memperkenalkan fungsi PFC aktif, yabng membantu meningkatkan stabilitas voltase dan menyediakan daya yang ramah lingkungan dengan power factor (PF) tinggi hingga 99%.


Pengoperasian yang Dingin dan Stabil untuk Pengalaman Optimal bagi Pengguna
Dibuat dengan mengedepankan kualitas, G Series memanfaatkan kapasitor buatan Jepang yang memberikan stabilitas, performa dan ketahanan yang lebih baik, sementara lubang ventilasi yang diperbesar, kipas ball-bearing sebesar 13,5cm dan selongsong kabel memastikan ventilasi dan arus udara internal yang lebih baik di dalam sistem. Lebih jauh lagi, G Series kompatibel dengan Intel ATX12V Version 2.31, dan menyediakan 5 rail 12V khusus untuk menyediakan voltase output terpercaya bagi komponen yang vital. Rating daya yang akurat memastikan daya dengan rating penuh—membantu menghadirkan pengoperasian yang stabil di bawah beban operasi apapun. Lebih jauh lagi, dengan solusi arus panas yang efisien dan kualitas komponen terbaik, G Series telah diuji untuk mendapatkan MTBF* lebih dari 500,000 jam. Arti dari pencapaian luar biasa ini adalah bahwa G Series 5 kali lebih tahan lama dibandingkan dengan kompetitor lainnya**.

Kemudahan Pengembangan untuk Kesenangan DIY!
G Series mampu mendukung kedua CPU Duo Core dan Quad Core, dan juga kartu grafis kelas atas. Guna memenuhi kemungkinan upgrade di masa depan dan kartu grafis multi-GPU, produk ini juga menyediakan konektor 6+2-pin PCI-Express 2.0. Juga, gamer dapat menikmati pilihan pengembangan yang kaya dengan 8 SATA, peripheral 6/4, 2 FDD, 6/4 PCI-E dan 1 konektor EPS. Secara keseluruhan, G Series merupakan perangkat serbaguna yang memenuhi kebutuhan yang selalu berubah untuk para gamer, sekarang dan dimasa depan.

*Mean time between failures (MTBF) adalah waktu mean (rata-rata) aritmatik antara kegagalan pada sistem. MTBF adalah bagian yang lazim pada sebuah model yang mengasumsikan sistem yang gagal langsung diperbaiki (jeda waktu nol), sebagai bagian dari sebuah proses pembaharuan.
**Sebagian besar kompetitor memiliki MTBF rata-rata sebesar 100,000 sampai 200,000 jam.

Spesifikasi

































ModelG-1000HAG-850HA
Daya1000W850W
Dimensi200(P) x 150(L) x 86(T)mm
Konektor Output- Main connector x 1
- Peripherals x 6
- Floppy Drive x 1
- Serial ATA x 8
- 4+4-pin +12V power x 1
- 6+2-pin PCI Express x 6
- EPS x 1
- Main connector x 1
- Peripherals x 4
- Floppy Drive x 1
- Serial ATA x 8
- 4+4-pin +12V power x 1
- 6+2-pin PCI Express x 4
- EPS x 1
PFCActive
Smart Fan13.5cm x 1
ProteksiOVP, SCP, OCP, NLO, OTP, UVP, OPP
Safety & EMCBSMI, CE, CCC, C-TICK, CUS, FCC, GOST-R, Nemko, TUV

Spesifikasi dapat berubah sewaktu – waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Silakan kunjungi www.asus.com


Baca Selengkapnya......

09 Mei 2009

RASUL ALLAH SWT

PENGERTIAN RASUL ALLAH SWT

Rasul adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah swt dengan berkewajiban untuk mengamalkan dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

“Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al Anbiyaa : 27)


TUGAS RASUL-RASUL ALLAH SWT

1. Menyampaikan (Tabligh)

1. Menuntun manusia mengetahui pencipta alam semesta ini sebagaimana tercantum di dalam surat Al An’am (6) : 102 dan surat Ar Ra’du (13) : 16, serta menuntun manusia untuk mengenal sifat-sifat Sang Pencipta tersebut.
2. Mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah swt (QS. Al Anbiyaa’ (21) : 25, QS. An Nahl (16) : 35)
3. Memberi kabar gembira dan ancaman (QS. Al An’an (6) : 48, QS. Al Baqarah (2) : 213, QS. Al Kahfi (18) : 56)
4. Sebagai hujjah atas manusia (QS. An Nisaa (4) : 165, QS. Thaahaa (20) : 34, QS. Asy Syu’araa (26) : 108)
5. Menunjukkan manusia Jalan yang lurus (QS. Al Mu’min (40) : 38, QS. Maryam (19) : 43)

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah : 67”

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al Ahzab : 39)

2. Mendidik dan Membimbing



* Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskannya dari hawa nafsu dan sifat-sifat tercela.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

* Meluruskan aqidah/ideology serta fikroh yang menyimpang dari Islam

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al Baqarah : 213)

* Memimpin umat dengan menjalankan metode Ilahi dan sistem Robbani

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad : 26)

Inilah salah satu tugas para Rasul Allah swt yang sangat berat, karena jiwa tidak akan berjalan lurus di atas manhaj yang benar hanya dengan mengajaknya ke manhaj tersebut. Oleh sebab itulah, Rasul Allah swt adalah orang-orang yang memang telah terpilih dan memiliki sifat-sifat yang tinggi,sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran:

“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Hajj : 75)

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah." Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” (QS. Al An’am : 124)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah mereka yang memang orang-orang pilihan Allah swt yang memiliki sifat-sifat yang mulia, yang dengan sifat-sifat tersebut mereka mampu melakukan hal-hal berikut:

Yang pertama Rasul-rasul Allah swt adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi tauladan terhadap segala sesuatu yang ia serukan kepada umatnya.

Kedua, mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji, seperti sifat sabar, pemaaf, dan lapang dada, sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al An’am : 34)

Ketiga, mereka mampu untuk selalu mengadakan hubungan vertikal dengan Allah swt.

Keempat:, mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik terhadap sesama manusia, sehingga dapat memberikan tuntunan kepada mereka, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al Furqan : 20 yang artinya “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.”

Dan yang kelima adalah mengetahui tabiat jiwa untuk memberikan tuntunan dengan metode dan cara yang relevan denga tabiat jiwa seseorang.


SIFAT-SIFAT RASUL ALLAH SWT

1. Mereka adalah manusia biasa

Setiap Rasul yang diutus Allah swt adalah manusia biasa, sebagiamana tercantum di dalam Al Quran surat Al Israa’: 93-94. Mereka memerlukan makan, minum, (QS. Al Furqaan : 20), beristeri (QS. Ar Ra’du:38), ditimpa sehat dan juga sakit (QS. 21:83-84), sama seperti manusia lainnya.

“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul? Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?"” (QS. Al Israa’ : 93-94)

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.” (QS. Al Furqaan : 20)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)[” (QS. A Ra’du : 38)

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al Anbiya : 83-84)

Mengapa Allah swt memilih Rasul-Nya dari golongan manusia biasa dan bukan dari golongan malaikat atau yang lainnya? Berikut alasannya:

a) Malaikat tidak berjalan di muka bumi dengan tenang layaknya manusia, sebab mereka diciptakan bukan untuk menghuni bumi.

“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI? Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul."” (QS. Al Israa : 94-95)

b) Malaikat apabila turun ke bumi harus berbentuk manusia, dan setelah itu manusia tidak bisa membedakan antara malaikat dan manusia biasa.

“Dan kalau Kami jadikan rasul itu malaikat, tentulah Kami jadikan dia seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan ia seorang laki- laki), tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri” (QS. Al An’am : 9)

c) Seandainya Rasul Allah swt itu malaikat dan bukan manusia, maka hal itu tidak akan ada hikmahnya, sebab Rasul Allah swt tidak dapat diutus hanya untuk menyampaikan saja, melainkan ia juga tetap tinggal bersama mausia untuk mendidik dan menuntun mereka sebagaimana tercantum di dalam Al Quran surat Al Jumu’ah : 2 dan Maryam : 41-43, serta menjadi suri teladan yang baik bagi manusia sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran surat Al Ahzab : 21, Al An’am : 89-90, Al Mumtahanah : 4.

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS. Al Jumu’ah : 2)

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam : 41-43)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” QS. Al Mumtahanah : 4)

2. Ma’shum (terjaga dari kesalahan)

Semua Rasul Allah swt adalah ma’shum, tidak pernah bersalah dan dalam menyampaikan risalah dari Allah swt. Yang dimaksud dengan ma’shum adalah bahwa mereka tidak meninggalkan kewajiban, tidak mengerjakan hal-hal yang haram dan tidak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebagaimana firman Allah swt berikut:

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran : 161)

“Demi bintang ketika terbenam. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm : 1-4)

Meskipun demikian, namun tidak menutup kemungkinan bahwa para Rasul Allah tersebut juga dapat melakukan kesalahan yang berhubungan dengan ijtihad (pendapat) pribadinya yang tidak ada sangkut pautnya dengan wahyu Allah swt, seperti cemberutnya Rasulullah saw ketika Ummi Maktum yang menanyakan perihal Islam kepada beliau yang terdapat dalam firman Allah swt surat ‘Abasa : 1-7, atau ijtihad Rasulullah saw mengenai tawanan perang Badar yang telah dinyatakan oleh Allah swt di dalam surat Al Anfaal: 67-69

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).” (QS. ‘Abasa : 1-7)

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Anfaal : 67-69)

3. Sebagai suri tauladan bagi manusia

Allah swt mengutus para Rasul-Nya dari golongan manusia pilihan yang memang memiliki sifat-sifat mulia yang bisa dijadikan suri tauladan dalam kehidupan manusia.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmat dan kenabian Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am : 89-90)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapakny: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."” (QS. Al Mumtahananh : 4)

Rasul-rasul Allah swt adalah para manusia pilihan yang memang mampu menjadi tauladan dalam berbagai hal dan aspek kehidupan.


RASUL-RASUL ULUL ‘AZMI

Ulul ‘Azmi secara bahasa berarti yang memiliki kemauan yang keras. Yang dimaksud dengan ulul ‘azmi adalah para Rasul yang memiliki kesabaran yagn sangat tinggi. Berikut adalah beberapa Rasul Allah swt yang termasuk ke dalam ulul ‘azmi:

1. Nabi Nuh AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

2. Nabi Ibrahim AS

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (QS. Al Ahzab : 7)

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS. Ash Shaaffaat : 102-103)

3. Nabi Musa AS

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy Syuura : 13)

4. Nabi Isa AS

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ali Imran : 52)

5. Nabi Muhammad SAW

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al Ahzab : 7)

Begitu banyak kisah-kisah yang tertulis di dalam berbagai riwayat yang mengambarkan betapa Rasulullah Muhammad saw adalah manusia yang sangat sabar dan santun. Berikut kami berikan dua contoh riwayat yang mngisahkan tentang kesabaran Rasulullah Muhammad saw.

“Jubair bin Muth’im berkata, ketika ia bersama Rasulullah saw, tiba-tiba orang-orang mencegat beliau dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah saw berhenti sejenak dan berseru,”Berilah mantelku ini! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian “ (HR. Bukhari)

“Anas bin Malik bertutur: Suatu hari aku berjalan bersama Rasulullah saw. Saat itu beliau memakai selimut dari daerah Najran yang ujungnya sangat kasar. Tiba-tiba ia ditemui seorang Arab dusun. Tanpa basa basi, laki-laki dusun itu langsung menarik selimut kasar Rasulullah itu keras-keras sehingga aku melihat bekas merah di pundak Rasulullah. Laki-laki dusun tersebut berkata, “Suruh orang-orangmu untuk memberikan harta Allah kepadaku yang kau miliki sekarang.” Rasulullah saw lalu berpaling kepada laki-laki tadi. Sambil tersenyum, beliau bersabda, “Berilah laki-laki ini makanan apa saja,” (HR Bukhari).

Baca Selengkapnya......

Cinta dan Benci Karena Allah SWT (Al Wala dan Al Barra’)

Rasa cinta dan benci ada dalam diri setiap manusia. Perasaan cinta dan benci adalah perasaan yang wajar, mengingat perasaan ini merupakan bagian dari emosi manusia. Di suatu saat kita merasakan cinta kepada suatu hal, namun di lain waktu kita dapat juga merasakan kebencian pada hal tersebut.

Kadangkala kita sulit untuk mengendalikan perasaan cinta dan benci yang ada pada diri kita. Terlebih lagi jika perasaan tersebut lahir karena nafsu duniawi. Akibatnya, kita akan “terkungkung” oleh perasaan tersebut, tanpa dapat melepaskan diri. Inilah salah satu tipu daya syaithon untuk menjerat manusia.
Lain halnya jika perasaan cinta dan benci yang kita meiliki muncul karena Allah SWT. Hal ini justru akan dapat membuat diri kita merasa nyaman dan tenang. Cinta karena Allah SWT dikenal dengan istilah Al Wala, sedangkan benci yang datang karena Allah SWT disebut sebagai Al Barra’.

Cinta dan benci karena Allah SWT artinya melepaskan diri dari segala sesuatu yang Allah berlepas tangan darinya seperti yang difirmankan-Nya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali." (Al-Mumtahanah: 4).

Allah juga tidak bertanggung jawab kepada orang-orang musyrik seperti yang difirmankan-Nya,

وَأَذَانٌ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأَكْبَرِ أَنَّ اللّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih." (At-Taubah: 3)

Maka setiap orang mukmin harus melepaskan diri dari orang musyrik dan kafir. Berlepas diri dalam hal ini bersifat pribadi.

Di samping itu, seorang muslim harus membebaskan diri dari segala amal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya walaupun tidak sampai pada derajat kafir, seperti perbuatan fasik dan maksiat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُوْلَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (Al-Hujurat: 7).

Jika seorang mukmin mempunyai keimanan sekaligus berbuat maksiat, maka kita mencintainya karena keimanannya dan kita membencinya karena kemaksiatannya. Itulah yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan kita. Kadang-kadang Anda memakan obat yang rasanya tidak enak dan Anda tidak suka rasanya, tetapi Anda tetap meminumnya karena obat itu bisa menyembuhkan penyakit.

Sebagian orang mukmin ada yang benci kepada orang yang berbuat maksiat melebihi kebenciannya kepada orang-orang kafir, ini termasuk sifat ujub (membanggakan diri sendiri) dan memutarbalikkan realitas. Orang kafir adalah musuh Allah , Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, maka kita harus membencinya dengan sepenuhnya hati kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَاداً فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus." (Al-Mumtahanah:1).



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Al-Maidah: 51).

Orang-orang kafir itu tidak akan ridha kepada kalian kecuali jika kalian mengikuti agama mereka seperti yang difirmankan Allah:

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al-Baqarah: 120).



وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّاراً حَسَداً مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman." (Al-Baqarah: 109).

Kekafiran di sini mencakup segala macam bentuk kekafiran seperti penentangan, pengingkaran, kedustaan syirik dan ilhad.

Sedangkan dari aspek perbuatan kita harus berlepas diri dari segala amal perbuatan yang haram dan tidak boleh bagi kita mencintai amal perbuatan yang diharamkan dan tidak pula melakukannya. Kita harus berlepas diri dari orang-orang mukmin yang berbuat maksiat, tetapi kita tetap mencintainya dan menjadikannya wali karena keimananyang ada padanya.


Dinukil dari alislamu.com
Comments (1)
pertanyaan
1 Friday, 08 May 2009 18:13
rika
assalamualaikum warohmatullah...

aa,,,,,
af1 sebelumnya ana tidak memberikan komentar atau saran
tapi ana ingin bertanya tentang hukumnya nikah sirih,
ana seorang gadis yang ingin menikah, akan tetapi calon ana orang yang jauh sehingga ana agak sulit mempersiapkannya sendiri, karena keadaan yang tidak memungkinkan,,,
aa...bolehkah ana menikah sirih terlebih dahulu dengan calon ana untuk memudahkan ana mempersiapkan pernikahan,,,

Baca Selengkapnya......

Puasa Asyura

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

Dari ketiga hadist tersebut, terdapat anjuran dari Rasulullah Muhammad saw untuk melaksanakan puasa Asyura. Lantas apakah puasa asyura itu? Puasa Asyura adalah puasa yang dilakukan pada hari Asyura, yaitu pada tanggal 10 Muharam. Namun, untuk menyelisihi dengan umat Yahudi, RAsulullah saw juga menganjurkan untuk melakukan puasa pada tanggal 9 Muharam (puasa Tasyu’a).

Lantas mengapa Rasulullah saw memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 10 Muharam? Perhatikanlah hadist berikut:

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa alaihis salam berpuasa pada hari ini. Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari)

Dan dari Aisyah radhiallahu anha, ia mengisahkan,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)


Pelaksanaan Puasa Asyura

Pada awalnya puasa Asyura dilakukan hanya pada hari asyura, yaitu tanggal 10 Muharam. Namun untuk membedakan umat muslim dengan umat Yahudi, maka Rasulullah bersabda:

لَئِنْ بَقِيْتُ إِلَى قَابِلٍ َلأَصُوْمَنَّ التَاسِعَ

“Jikalau masih ada umurku tahun depan, aku akan berpuasa tanggal sembilan (Muharram)”

Karena itu, ulama membagi Puasa Asyura menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama.

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh).

Namun yang paling afdhol adalah dengan menggabungkan Puasa Tasu’a dengan Asyura.


Keutamaan Puasa Asyura

Banyak keutamaan yang terdapat dalam Puasa Asyura. Beberapa keutamaan Puasa Asyura diantaranya adalah:

• Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan

Al Imam Al Bukhari (No 1902) dan Al Imam Muslim (No 1132) meriwayatkan di dalam shahih mereka dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ia berkata,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَومَ فَضْلِهِ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا اليَوْمِ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهذَا الشَّهْرُ يَعْنِي شَهْرُ رَمَضَانَ

“Aku tidak pernah mendapati Rasulullah menjaga puasa suatu hari karena keutamaannya dibandingkan hari-hari yang lain kecuali hari ini yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu bulan Ramadhan”.

Al Imam Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”.


• Menghapus dosa kecil setahun sebelumnya

Al Imam Abu Daud meriwayatkan di dalam Sunan-nya dari Abu Qatadah radhiallahu anhu,

وَصَوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ إنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَنَة َالتِيْ قَبْلَهُ

“Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”.


Hadist tentang Puasa Asyura

Abu Hurairah r.a berkata:

"Seorang bertanya kepada Rasulullah saw. 'Shalat manakah yang lebih utama setelah shala tfardlu? 'Nabi saw, bersabda, 'Shalat di tengah malam. 'Mereka bertanya lagi, 'Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan?' Nabi saw. bersabda, 'Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram." (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)

Mu'awiyah bin Abu Sufyan berkata:

"Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, 'Hari ini adalah hari Asyura dan kami tidak diwajiban berpuasa padanya. Dan aku sekarang berpuasa maka siapa yang suka, berpuasalah, dan siapa yang tidak berbukalah." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Aisyah r.a berkata:

"Hari Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliah. Rasul juga biasa memuasakannya, dan ketika datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk turut berpuasa. Maka ketika difardhukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, 'Siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa , dan siapa yang tidak, ia berbukalah." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata:

"Nabi saw. datang ke Madinah dan beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura'. Lantas Nabi saw. bertanya, 'Ada apa ini?' Mereka menjawab, 'hari ini merupakan hari terbaik, yaitu saat Allah membebaskan Nabi Musa a.s dan bani Israil dari kepungan musuh mereka, hingga hari itu dijadikan Nabi Musa a.s sebagai hari puasa.' Lalu Nabi saw. bersabda, 'Aku lebih berhak memuliakan hari ini dibandingkan kalian.' Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh kaum muslimin agar ikut berpuasa." (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Abu Musa asy-Asy'ari r.a berkata:

"Hari Asyura itu dibesarkan oleh orang-orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya. Maka Rasulullah saw. bersabda, 'Berpuasalah kamu pada hari itu!'" (Kesahihah hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas r.a berkata,
"Ketika Rasullullah saw. berpuasa hari Asyura dan memerintahkan orang agar memuasakannya, mereka berkata, 'Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudidan Nasrani.' Maka Rasulullah saw. bersabda, 'Jika datang tahun depan insya Allah, kita berpuasa pada hari ke sembilan.'Ibnu Abbas berkata,' Maka belum lagi datang tahun depan itu, Rasulullah saw. pun wafat.'" (HR. Muslim dan Abu Dawud).



Baca Selengkapnya......

Tayammum

Tayammum adalah mensucikan diri tanpa menggunakan air, hanya menggunakan tanah atau debu yang bersih. Tayammum sifatnya sama dengan berwudhu namun harus berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan sesuai syariat.

Dalil disyariatkannya tayammum:

Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih): Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Mai'dah:6)

Rasulullah saw bersabda: "Bahwasanya debu yang bersih adalah sebagai pembersih bagi orang muslim, walaupun ia tidak mendapatkan air (selama) sepuluh tahun.” (Shahih: Shahih Abu Dawud no: 322, Tirmidzi I: 81 no: 124, Ma’bud I: 528 no: 329. dan Nasa’i I: 171 dengan lafadz yang mirip).

Tayammum dapat dilakukan untuk menggantikan wudhu, terutama bila tidak ada air. Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam satu perjalanan, beliau sholat bersama para sahabat, ternyata, ada seorang sahabat yang mengucilkan diri (dari mereka). Maka kemudian beliau bertanya (kepadanya) ‘Apakah gerangan yang menghalangimu sholat (bersama kami)?’ Jawabnya, ‘Saya Junub dan tidak (ada) air.’ Maka Nabi saw bersabda, "Hendaklah kamu (bertayammum) dengan debu karena sesunggahnya ia cukup bagimu." (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari I: 477 no: 344, Muslim I: 474 no: 682 dan Nasa’i I: 171).

Syarat-syarat diperbolehkannya tayammum sebagai berikut:

* Tidak ada air, dikarenakan sedang dalam perjalanan maupun jauh dari sumber air sementara waktu sholat telah tiba bahkan hingga hampir habis waktunya.
* Tidak dapat menggunakan air dikarenakan sakit sehingga bila terkena air dikhawatirkan kondisi badan akan memburuk.
* Jumlah air sedikit dan lebih dibutuhkan untuk menyambung hidup (minum).
* Tidak adanya alat untuk menimba/mendapatkan air, meski airnya ada dalam sumur misalnya
* Kondisi atau suhu udara yang sangat dingin yang mencapai titik maksimum

Dari Jabir, berkata, “Kami keluar dalam satu perjalanan, lalu seseorang di antara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan rukhshah bagiku untuk bertayammum?’ Maka jawab mereka, ‘Kami tidak mendapatkan rukhshah untukmu, karena engkau mampu menggunakan air. ' Kemudian ia mandi besar sehingga meninggal dunia. Kemudian tatkala kami sampai ke hadapan Rasulullah saw, hal tersebut diinformasikan kepada beliau, maka beliau bersabda, “Mereka telah membunuhnya, maka Allah akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya. Cukuplah baginya hanya dengan tayammum.” (Hasan: Shahih Abu Daud no: 326 dan ‘Aunul Ma’bud, I; 532 no: 332.)

Dan Amr bin Ash bahwa tatkala ia diutus (oleh Rasulullah saw ) dalam peperangan Dzatul Salasil, Ia bercerita. “Pada suatu malam yang dingin, yang suhunya mencapai titik maksimum saya ihtilam (bermimpi), lalu saya khawatir jika mandi saya akan celaka, maka tayammum lalu sholat shubuh dengan rekan-rekanku. Kemudian, tatkala, kami sampai kepada Rasulullah, mereka menceritakan hal tersebut kepada beliau lalu beliau bersabda. “Ya Amr, apakah engkau sholat bersama rekan-rekanmu dalam keadaan junub?” Maka saya jawab, “Aku ingat Firman Allah SWT. (Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian). Kemudian aku bertayamum lalu sholat.” Maka Rasulullah saw tersenyum dan tidak berkomentar sedikitpun (Shahih: ShahihAbu Dawud: no: 323, al-Fathu Rabbani II: 191 no:16, Aunul Ma’bud I: 530 no: 330 dan Mustadrakul Hakim I: 177).

Tayammum yang disyariatkan yaitu menggunakan tanah atau debu. Di dalam surat Al Mai’dah ayat 6 ditegaskan, “fatayammamu sha’ii-dan thayyiban”, yang artinya “maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Tanah yang baik dapat pula dikatakan dengan setiap debu yang baik. Oleh karena itu, dalam bertayammum cukup hanya menepukkan kedua tangan pada permukaan tanah.

Berikut ini caraatau rukun tayammum:

1. Niat
Seseorang yang akan melakukan tayammum wajib berniat di dalam hati terlebih dahulu. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
2. Disunnahkan membaca Bismillah
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
3. Menepukkan kedua tangan ke tanah yang bersih, cukup sekali tepukan. Kemudian mengusap telapak tangan ke muka. Setelah itu mengusap telapak tangan yang satu dengan yang lain secara bergantian, dimulai dari ujung-ujung jari hingga pergelangan tangan. Disunnahkan untuk mendahulukan anggota kanan dari yang kiri.
Ammar ra berkata, “Rasulullah pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Ketika itu saya sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana berguling-gulingnya seekor binatang. Lalu saya mendatangi Rasulullah saw. Saya ceritakan kejadian itu kepada beliau. Kemudian beliau berkata, “Sebenarnya cukup bagimu untuk menepukkan telapak tangan demikian.” Kemudian beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah sekali tepukan, lalu beliau tiup. Setelah itu beliau usapkan ke muka dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Sama halnya dengan dengan wudhu, seseorang yang telah bertayammum boleh mengerjakan sholat semampunya, sebanyak raka’at yang ia mau selama ia masih dalam keadaan suci. Sebagai contoh, jika seseorang yang sudah bertayammum untuk sholat dzuhur kemudian sholat ashar tiba maka ia tidak wajib tayammum lagi. Terkecuali bila setelah sholat dzuhur ia telah membatalkan sifat tayammumnya. Adapun hal-hal yang membatalkan tayammum sama dengan hal-hal yang membatalkan wudhu. Selain itu, tayammum seseorang akan batal apabila di dekatnya ada air yang cukup untuk berwudhu.

Islam memang agama yang mudah, tidak menyusahkan umatnya terutama dalam hal beribadah. Dan tayammum merupakan salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Allah swt kepada hamba-Nya yang hendak melaksanakan sholat ketika tidak ada air untuk berwudhu. Firman Allah swt dalam QS. Al Hajj ayat 78: “Dan Dia (Allah) tidaklah sekali-kali menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.”
Wallahua’lam

Baca Selengkapnya......

Kategori

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

 

Info Blog

powered by PRBbutton TopOfBlogs Technology (Blogs) - TOP.ORG Top Computers blogs Free Download, 100% gratis, cari uang dari internet, mp3 gratis, free download mp3, sex DigNow.net Google bot last visit powered by Bots Visit Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Informasi Untuk Teknologi
Free Hit Couner

Tukeran link


REXYO74.COM
Copy kode di bawah masukan di blog anda

Followers