06 Mei 2009

empat puluh malam dan satunya hujan

Centhini; empat puluh malam dan satunya hujan

Serat Centhini (Suluk Tambangraras, ditulis pada tahun 1809) adalah kitab Jawa yang paling kontroversial. Di dalamnya ada pelajaran tentang agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, tapi ada juga ajaran mistis kejawen. Ada puisi tentang kebijakan moral, tapi juga ada cerita adegan ranjang dan juga sodomi yang paling vulgar dan kelewat batas hingga dituduh porno. Adalah Elizabeth D. Inandiak, perempuan asal Prancis yang menetap di Indonesia, yang berinisiatif untuk menghadirkan Serat Centhini yang lebih ringkas (dari 4.000 halaman menjadi 173 halaman), lebih mudah dimengerti, namun tetap puitis dan berisi. Ia mengambil adegan pokok, yaitu tentang asal-usul para raja Jawa, pertempuran antara kelompok abangan (Sultan Agung) dan kelompok Islam jalan lurus (Sunan Giri), dan juga drama dalam kamar pengantin selama 40 hari. Di kamar pengantin itulah, selama 40 hari, Amongraga dan istrinya, Tambangraras, bertukar kata. Amongraga baru menyetubuhi istrinya pada malam ke-40, saat hujan hangat turun dan meruapkan aroma daun teh di pekarangan. Sebelumnya, mereka berdua hanya berdialog dengan telanjang bulat. Amongraga mengajarkan tauhid, shalat, dan juga keindahan batin serta cinta dan senggama kepada Tambangraras. Di balik layar terawang, Centhini, pembantu Raras, duduk bersimpuh menunggu dengan terjaga. Centhinilah yang kemudian mengabarkan tentang adegan dan dialog dalam kamar pengantin itu.

***

tembang 88 Ketika malam ketujuh belas tiba, Amongraga telanjang dan duduk bersila di buritan ranjang: "Dinda, ketahuilah bahwa raga ini seperti obor, roh nyalanya, ilmu asapnya, zat cahayanya. Padahal nyala tidak dapat dipisahkan dari obor maupun asap atau cahayanya." Di haluan ranjang, Tambangraras membungkuk dan berkata: -Oh, Apiku! aku mendengar dan berkenan. Tapi tolong katakan, ketika si kekasih berkata kepada terkasihnya: "Aku terbakar bagimu", siapakah yang terbakar? Apakah si kekasih yang terbakar bagi terkasihnya, atau sang terkasih yang terbakar api kekasihnya? -Sebenarnya, Dinda, cinta adalah nyala agung yang membakar segalanya. Di balik sekat berkerawang, Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.

***

Syair-syair di: tembang 6 Lalu gong berat bergaung Dipikul hiruk-pikuk dengung Sampai gamang asmara Wangi rambang kusuma Tajuknya bertahtakan permata Menghiasi telinga-sayapnya bersaput emas Yang merindukan kata-kata dari Atas Hujan kupu-kupu padma mati Tangisku merenungi langit Ribuan doa puji sia-sia O, di ranjang tahta hati Gelombang biru dan getah putih Yoni telah mengosongkan pikirannya Dan menjadi telaga jernih Di dasarnya lingga dielu-elukan Hilang kesadaran Raksasa bermata satu Sedam malam membatu Diberkati sang Waktu Dibanjiri siang hari Sayang! Kekasihku Larimu menunjukkan kepada yang fana Di atas pemuliaan dan celaan Bahwa tiada pertemuan Selain penyerahan raga-jiwa

***

tembang 72 Ibu, haruskah cinta diresmikan dengan noda?

***

tembang 81 Jika kau dahagakan air Air dahagakanmu

***

tembang 100 Tembakan campur asap mesiu Kilasan bintang gemintang di sela awan Tumbuh-tumbuhan kehebatan Hujan di luar musim Bentangan langit luas di atas Misbah yang membakar kantuk Embun menetes ke pasu Isak pelawak di dalam gua Bulan dan bintang terusir siang

***

tembang 111 Ada tiga macam rahasia Rahasianya rahasia Rahasia Ilahi Dan rahasia diri sendiri Rahasia diri sendiri berada di dalam cahaya Sangat cerah, megah, tanpa kerudung apapun Meski demikian, ia tak kasat mata

***

Sumber : Elizabeth D. Inandiak Penerbit: Galang Press 175 halaman

Comments :

0 komentar to “empat puluh malam dan satunya hujan”


Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Komentar anda